Pemilihan Putri Mandalika hingga Drama Putri Mandalika Hiasi Festival Bau Nyale 2017

Pemilihan Putri Mandalika hingga Drama Putri Mandalika Hiasi Festival Bau Nyale 2017

Parade Putri Mandalika di Festival Bau Nyale 2017 (Foto: Tentry Yudvi/Okezone)

SETIAP tahunnya dalam Festival Bau Nyale 2017 di Lombok, selalu menghadirkan Pemilihan Kontes Putri Mandalika. Di mana ini menjadi ajang kecantikan di Lombok Tengah.

Berbicara Putri Mandalika sendiri, tak lepas dari legenda Bau Nyale itu sendiri. Awal mula adanya Bau Nyale disebabkan setelah Putri Mandalika terjun bunuh diri dari pantai Seger. Lalu, tiba-tiba ada Bau Nyale atau cacing laut yang memadati karang di sana.

Kematian Putri Mandalika ini disebabkan paras wajahnya yang cantik dan menjadi idola tiga kerajaan. Ia tak mau memilih, dan lebih baik meninggalkan semua dengan damai melalui cara bunuh diri.

Mitos itu kemudian dijadikan ajang tahunan Bau Nyale, dan pemilihan Putri Mandalika diadakan untuk tetap melestarikan legenda yang melekat di warga sekitar.

Dan, dalam pemilihan kontes Putri Mandalika rata-rata peserta masih sangat belia dari usia 15-20 tahun. Bahkan peserta di Festival Bau Nyale 2017 ini ada yang masih menduduki masa SMA.

Kemudian, setelah melakukan proses seleksi, malam kemarin, hanya ada 10 kontestan cantik dan energik. Mereka juga menggunakan busana khas Putri Mandalika.

Busana khas putri Mandalika itu terlihat dari kebaya bak keraton yang digunakannya , dan konon saat meninggal ia menggunakan selendang warna-warni Hijau, Kuning, dan Pink. Mereka juga menggunakan sanggul rambut sepinggang yang jadi ciri khaa Putri Mandalika.

Lalu dari kesepuluh konstestan yang terpilih menjadi pemenang ialah Sriva Farhani, seorang anak remaja berusia 16 tahun. Mahkota pun disematkan di kepalanya oleh Dr. Martha Tilaar yang kala itu hadir.

Setelah pengumuman selesai acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan drama Putri Mandalika yanh mendapuk pemenang Putri Mandalika 2016.

Ia dalam pertunjukan hanya menceritakan kisah tragedi Putri Mandalika menggunakan lukisan pasir berjalan. Sementara para tokoh lainnya berperan sebagai pria dari kerjaan yang berperang untuk merebutkan hati Putri Mandalika.

Perjalanan drama disaksikan penuh Khidmat oleh semua pengunjung. Alunan musik tradisional khas Lombok seperti Beleq, dan Perunggu juga dialunkan selama drama Putri Mandalika berlangsung. Acara selama dua jam itu pun selesai dengan manis, tanpa hujan.

(fid)

Baca Juga

Keindahan Wisata Indonesia, di Mata Pevita Pearce

Keindahan Wisata Indonesia, di Mata Pevita Pearce