Hiii,,,Ada Kerangka Manusia Sedang Bertapa di Gua Ini

Hiii,,,Ada Kerangka Manusia Sedang Bertapa di Gua Ini

Gua Braholo, Gunungkidul-Yogyakarta (foto: Markus Yuwono/Sindoradio)

MENELUSURI peradaban manusia di Indonesia tak akan ada habisnya. Bahkan, sampai saat ini masih ada sisa-sisa peninggalan jaman megalitikum atau jaman batu besar, Gua Braholo di Dusun Semugih, Desa Semugih, Rongkop, Gunungkidul, Yogyakarta.

Jejak manusia yang diperkirakan hidup sekira 30-an ribu tahun yang lalu sampai saat ini masih bisa ditemukan.

Gua Braholo ini menghadap ke arah barat daya dengan ketinggian 357 meter diatas permukaan laut.

Lantai gua mempunyai ketinggian 352 meter di atas permukaan laut. Sebagian relatif datar dan miring. Kondisi lantai gua kering dengan langit-langit yang cukup tinggi mencapai 15 meter. Lebar ruangan kurang lebih 39 meter dengan panjang 30 meter. Secara keseluruhan luasannya mencapai 1.172 meter.

Saat Okezone mengunjungi gua yang berada di lereng sebuah bukit. Di pintu masuk gua pengunjung akan menemukan keterangan di sebuah papan pengumuman tentang penemuan berbagai peralatan batu.

Dari keterangan beberapa di antaranya serut gigir, bor, mata panah, pisau hingga fosil kayu. Lalu pengunjung akan menaiki sekira 65 anak tangga yang dibangun pada 2006 silam. Sesampainya di atas, Anda bisa melihat mulut gua.

Masuk ke dalam gua ditemukan bekas ekskavasi (tempat penggalian benda purbakala). Dibeberapa galian terlihat tanah mirip lapisan yang berwarna warni mulai putih dan hitam. Penggalian dilakukan pada 1994 sampai 2000.

Saat itu ditemukan enam kerangka manusia purba, dan beberapa peralatan. Sebagian lubang ditutup menggunakan seng dan sebagian lainnya dibiarkan menganga, dengan kedalaman bervariasi. Beberapa titik diamankan pinggir kanan kirinya diberikan pengaman menggunakan campuran batu dan semen.

Dari papan pengumuman diketahui ekskavasi dilakukan pada 1995 dipimpin oleh Prof Truman Simanjuntak dari pusat penelitian arkeologi Nasional Jakarta. Pada penelitian digali 14 kotak ekskavasi dengan temuan berbagai tembikar sisa biji-bijian, yang sebagian diantaranya terbakar.

Hingga sisa fauna yang melimpah. Penggalian bervariasi mulai 3-7 meter. Ekskavasi dihentikan karena terhalang blog gamping. Pada kedalaman paling bawah belum menunjukkan steril atau masih ditemukan fosil.

Pengelola Gua Braholo sekaligus pemilik tanah, Kusno (60) mengatakan Pada salah satu lubang penggalian kedalaman 7 meter, ditemukan pasir dan kerangka. Sementara lubang lainnya ditemukan berbagai tulang hewan maupun fosil kayu.

Namun, jangan berharap bisa melihat langsung, atau melihat hasil dokumentasi mengenai hasil temuan ini. Sebab, sudah dibawa ke beberapa lokasi museum di Indonesia.

“Kerangka manusia tersebut tidak dalam posisi tidur. Namun keadaan melakukan pertapaan, Punggung mereka menyatu, salah satu Kerangka itu informasinya sekarang sudah diamankan ke museum purbakala di Punung (Jawa Timur)" kata Kusno saat berbincang dengan Okezone, Selasa (28/2/2017).

Ia menceritakan, saat itu ia ikut membantu ekskavasi dan melihat bentuk kerangka. Menurut dia, tulang belulangnya lebih kecil dibandingkan dengan manusia saat ini, namun kepalanya lebih besar. Menurut dia, pada bagian sisi kiri gua kemungkinan digunakan untuk tidur, sementara sisi kanan digunakan untuk membuang sampah karena banyak ditemukan kerang maupun tulang hewan.

Tidak banyak pengunjung yang tertarik mengunjungi Gua Braholo, namun dari beberapa pengunjung berasal dari luar negeri seperti Belanda. Minimnya kunjungan ini diperkirakan karena tidak adanya gambaran utuh mengenai apa saja hasil penemuan saat ekskasvasi.

"Di sini biasanya yang berkunjung dari sekolah atau mahasiswa, tetapi beberapa waktu lalu ada yang berasal dari luar negeri dari Belanda. Mereka tertarik untuk belajar mengenai sejarah di sini,"kata kakek dua cucu yang menjadi penjaga sejak 1994 ini.

Kusno berharap pemerintah memperhatikan lokasi yang berjarak kurang lebih 25 km dari Kota Wonosari ini. Sehingga dengan adanya booming wisata di kabupaten paling timur di DIY ini bisa dirasakan masyarakat setempat.

Sebagai gambaran, posisi gua yang berada di perbukitan masih tampak asri karena sisi kiri dan kanannya hingga atas gua masih rimbun pepohonan. Stalaktit yang ada di dalam goa masih meneteskan air. Saat menetes dibawah tanah menyisakan lubang kecil didalam tanah.

(fid)

Baca Juga

Naik Dango, Ritual Ucap Syukur Adat Dayak

Naik Dango, Ritual Ucap Syukur Adat Dayak