Kelainan Bawaan Sebabkan Bayi Meninggal Sebelum Usia 28 Hari

Kelainan Bawaan Sebabkan Bayi Meninggal Sebelum Usia 28 Hari

Ilustrasi

KELAINAN bawaan merupakan masalah global. Di dunia, diperkirakan 6 persen dari total kelahiran (7,9 juta anak) lahir dengan kelainan bawaan.

Sekurangnya 3,3 juta anak di dunia di antaranya meninggal di bawah usia 5 tahun. Sedangkan, 3,2 juta bayi yang selamat akan memiliki kelainan sepanjang usianya.

Di Indonesia, kelainan bawaan atau kongenital merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi dan balita. Berdasarkan Riskesdas 2007, kelainan bawaan turut berkontribusi sebesar 5,7 persen bagi kematian bayi dan 4,9 persen bagi kematian balita. Selain itu, kelainan bawaan berkontribusi sebesar 1,4 persen terhadap kematian bayi 0-6 hari dan 18,1 persen bayi 7-28 hari.

Selain itu, ada pula data angka kematian bayi karena kelainan bawaan dari WHO (World Health Statistics 2011) pada negara-negara di Asia Tenggara. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI, dr. Eni Gustina, MPH.

"3 kondisi kongenital, yaitu kelainan bawaan, prematur, asfiksia.Ini menyumbang antara 35 persen sampai 55 persen kematian anak balita," ujarnya saat konferensi pers di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2017).

Lebih lanjut, dr Eni mengungkapkan bahwa kematian neonatal berkaitan dengan kelainan bawaan. dr Eni mengatakan, neonatal adalah anak-anak yang meninggal pada umur di bawah 28 hari.

"Kematian bayi itu 0-1 tahun, tertingginya dari 0-28 hari, kalau dipilah lagi yang 28 hari tadi, paling tinggi itu 0-6 hari, sebagian karena prematur, asfiksia dan infeksi. Ini berhubungan juga dengan kelainan malformasi. Jadi, karena dia prematur, kemampuan otot-otot belum mampu bernapas, sehingga asfiksia, saling berkaitan," jelasnya.

Sementara itu, saat ini Indonesia membutuhkan data mengenai frekuensi kelainan dan kontribusinya terhadap kematian dan kesakitan pada periode neonatal sampai dengan tahun pertama kehidupan sangat diperlukan. Data ini penting untuk penentuan intervensi dan program yang dapat dikembangkan oleg pemerintah pusat sebagai upaya penurunan angka kesakitan dan kematian pada periode neonatal sampai tahun pertamaa kehidupan.

Surveilans Kelainan Bawaan diawali di 13 RS terpilih pada 2014. Tahun 2016, telah dilatih 6 RS pengembangan, termasuk RS yang menyelenggarakan Surveilans Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Ada 16 jenis kelainan bawaan yang dilakukan surveilans berdasarkan kelainan bawaan yang preventable, detectable dan correctable, serta dampaknya besar terhadap kesehatan masyarakat.

Hasil pelaporan data kelainan bawaan dari 19 RS mulai September 2014 sampai dengan Desember 2016 menunjukkan, dari 494 kasus yang memenuhi kriteria, kelainan bawaan terbanyak adalah Talipes 102 kasus, celah bibir atau langit-langit dan Neural Tube Defects masing-masing 99 kasus, Omphalochele 58 kasus, Atresia ani 50 kasus, dan Gastroschisis 27 kasus.

(hel)

Baca Juga

Perbedaan Gumoh dan Muntah pada Bayi yang Harus Ibu Tahu

Perbedaan Gumoh dan Muntah pada Bayi yang Harus Ibu Tahu