Heboh Tari Gending Sriwijaya Akan "Dimusnahkan", Ini Penjelasannya

Heboh Tari Gending Sriwijaya Akan

Penari Tari Gending Sriwijaya (foto: Instagram/@sanggrefekmanagement)

DINAS Kebudayaan Kota Palembang telah menggagas tarian adat untuk menyambut tamu yang baru yakni Tari Sambut Palembang Darussalam. Tarian tersebut akan menggantikan Tari Gending Sriwijaya yang akan "dimusnahkan".

Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Sudirman Teguh menjelaskan, pihaknya menilai selama ini kalau ada tamu atau penyambutan selalu memakai Tari Gending Sriwijaya atau Tari Tanggai. Padahal, tarian itu tidak mencerminkan adat istiadat Kesultanan Palembang.

Menurutnya, dari gerakan, pakaian penari, dan musik dalam Tari Gending Sriwijaya indentik dengan ajaran Hindu-Budha.

Oleh karena itu, lanjut Sudirman, Palembang dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah saatnya memiliki tarian sendiri. Perlu ada evaluasi gerakan, lagu atau musik pengiring, dan pakaian yang dipakai penari yang bernuansa Islami.

"Kalau ditanya bagaimana gerakkannya saya tidak tahu, saya bukan ahli tari. Tapi kami dari Kebudayaan mendiskusikan dengan ahli tari, seniman atau budayawan soal ini. Mereka mendukung dan lebih paham," ujar Sudirman dikutip dari Sindonews.com.

Dia menjelaskan pihaknya berencana menggelar lomba cipta tari Sambut Palembang Darussalam tersebut. Perlombaan dilaksanakan setelah pemilihan Duta Budaya. "Mungkin sekitar akhir April mendatang," tegasnya.

Selanjutnya, tari Sambut Palembang Darussalam akan diperkenalkan ke masyarakat luas, termasuk dipelajari di sekolah-sekolah. Lalu, nasib Tari Gending Sriwijaya tetap akan ada, namun untuk dipakai oleh Pemerintah Provinsi Sumsel.

"Tari Gending Sriwijaya nanti ditarik oleh Pemprov Sumsel. Dan tari Sambut Palembang Darussalam akan diatur dalam Peraturan Daerah Kota Palembang," jelasnya.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Vebri Al-Lintani, menerangkan, Tari Gending Sriwijaya dulu diciptakan untuk menyambut pemerintah Jepang. Pertama kali ditarikan di depan Masjid Agung tujuh hari sebelum kemerdekaan.

"Setelah itu tari ini menjadi tari sambut di Sumsel," ulas Vebri.

Diceritakan Vebri, gerakan tari ini diciptakan oleh Tina Haji Gong dan Sukainan A Rozak. Lagu Gending Sriwijaya adalah lagu Sriwijaya Jaya yang diciptakan oleh A Dahlan M.

Sedangkan syair lagu Gending Sriwijaya diciptakan oleh tim yang diketuai oleh Nungtjik AR, ketika itu menjabat sebagai Kepala Kantor Hadohan (Departeman Panerangan Jepang).

Namun, pada 1965 PKI meletus karena Nungtjik AR, pencipta syair lagu Gending Sriwijaya terlibat PKI. Setelah itu, hampir beberapa lama tari ini tidak mainkan. Untuk menutupi tari sambut, maka gerakan Tari Gending Sriwijaya lagunya diganti lagu Enam Bersaudara, jadilah tari Tanggai yang sering ditarikan saat acara pernikahan.

"Tari Gending Sriwijaya kemudian dimantapkan sebagai tari sambut tamu agung, sedangkan tari Tanggai untuk tamu biasa," paparnya.

Adapun terkait gagasan tari sambut baru, Vebri mendukung penuh. Menurutnya, Palembang sebagai daerah otonom harus memiliki tari sendiri, makanya nilai-nilai yang ada bukan dari Kerajaan Sriwijaya tetapi nilai-nilai Palembang Darussalam yang Islami.

"Kita harus punya tari yang lebih menjiwai. Sebenarnya kami sudah membicarakan ini sudah lama, sejak pemerintahan sebelumnya. Alhamdulillah sekarang Dinas Kebudayaan Palembang merespon baik. Bahkan saat ini sudah mengumpulkan ahli-ahli tari," tandasnya.

(fid)

Baca Juga

Mau Menyelam di Gunung Kidul? Ke Pantai Sadranan <i>Aja</i>

Mau Menyelam di Gunung Kidul? Ke Pantai Sadranan Aja