5 Tradisi yang Dilakukan Selama Equinox Tiba

5 Tradisi yang Dilakukan Selama Equinox Tiba

Ilustrasi Bermain Bubuk Warna (foto: Shutterstock)

EQUINOX adalah fenomena yang terjadi karena pengaruh pergerakan bumi terhadap matahari yang menyebabkan peristiwa unik. Terjadi dua kali dalam setahun, equinox yang pertama jatuh di Maret, bertepatan dengan pergantian musim di seluruh dunia.

Hal ini membuat banyak orang di dunia melakukan tradisi untuk merayakannya. Meski tidak lagi banyak dirayakan dengan cara khusus, tapi berikut adalah lima di antaranya, seperti dilansir dari Mirror, Selasa (21/3/2017).

Menyeimbangkan telur

Pada periode equinox Maret, ada yang mempercayai bahwa jatuhnya matahari tepat di atas kepala dapat membuat telur berdiri tegak dengan ujungnya pada hari pertama musim semi.

Ini adalah kepercayaan kuno bangsa Tiongkok, yang hanya sekadar mitos. Tapi, hal ini menjadi permainan yang menyenangkan untuk dicoba.

Bermain bubuk berwarna

Tahu festival Holi yang dilakukan masyarakat Hindu di India? Keseruan melempar bubuk berwarna-warni dan rangkaian festival tersebut adalah tradisi yang dilakukan untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Festival ini dilakukan setiap tahun sekitar waktu vernal equinox di Bulan Maret. Festival ini juga dirayakan untuk menandai masuknya musim semi, menggantikan musim dingin.

Mengenakan daun Semanggi

Tanaman ini menjadi simbol dari equinox dalam kepercayaan Druidry, yang juga lazim dipakai pada Hari Raya St Patrick. Daun berbentuk tiga hati ini dikaitkan dengan Tiga Dewi dalam mitologi Celtic, atau dikenal sebagai "Tiga Morgan”. Daun semanggi atau shamrock dianggap simbol dari kekuatan regeneratif alam.

Menanam tanaman

Equinox musim semi adalah simbol dari kelahiran kembali, pembaharuan, dan pertumbuhan. Di Italia kuno, perempuan di sana punya tradisi untuk menanam benih di kebun Adonis sekarang ini. Tradisi berlanjut di Sisilia, di mana perempuan menanam benih lentil, adas, daun selada, atau bunga di keranjang dan pot.

Ketika mereka tumbuh, tangkai dan bunga yang diikat dengan pita merah ditempatkan pada kuburan di Jumat Agung, melambangkan kemenangan hidup atas kematian.

Mengunjungi monumen kuno

Banyak monumen kuno di dunia dibangun sebagai kalender astrologi, untuk memetakan pergerakan Matahari selama setahun.

Oleh karena itu equinox adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi monumen ini, karena adanya keselarasan dengan posisi unik Matahari di langit.

Stonehenge di Wiltshire, misalnya, matahari dapat dilihat naik tepat antara dua batu. Sementara di Chichen Itza di Meksiko, matahari yang naik mengubah salah satu ujung piramida raksasa menjadi ular menyala, mewakili dewa Maya Kukulcan.

(fid)

Baca Juga

5 Tempat Paling <i>Instagramable</i> di Dunia

5 Tempat Paling Instagramable di Dunia