Potensi Wisata Spiritual Tinggi, Indonesia Punya Banyak "Pekerjaan Rumah!"

Potensi Wisata Spiritual Tinggi, Indonesia Punya Banyak

Candi Borobudur (foto: Okezone)

SPIRITUALITAS sejarah dan sosial sangat bernilai tinggi untuk dikelola sebagai wisata. Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan religi yang tinggi, sangat bisa mengembangkan wisata spiritual untuk meningkatkan potensi wisata.

Setyono Djuandi Darmono dari Tidar Heritage Foundation dan Ketua PATA Indonesia Chapter, dalam seminar berjudul Menggembangkan Pariwisata Berbasis Budaya & Spiritual di Jakarta, mengatakan, nilai sejarah dan budaya punya nilai tinggi dalam mendukung pariwisata.

"Tidak cukup tempat indah kalau tidak ada budaya yang mendukung, apalagi kalau punya nilai sejarah. Menariknya dari pariwisata, cerita sejarah yang diblow up akan membuat satu tempat jadi lebih menarik. Contoh di Belgia ada objek wisata yang terkenal karena ada patung anak kecil lagi kencing, yang diwajibkan untuk didatangi kalau pertama ke Belgia. Saya rasa negara kita punya banyak cerita menarik yang bisa dikembangkan untuk pariwisata," tutur Djuandi.

Lebih lanjut, Djuandi menyebut itu sebagai narasi budaya yang bisa dikemas ke dalam wisata spiritual. Narasi sejarah atau budaya religius akan membuat orang tertarik untuk datang ke satu objek wisata.

"Narasi di objek wisata spiritual ini akan membuat orang bolak balik berkunjung, entah mengharap jodoh, mengharap rezeki, atau mengharap jadi orang suci. Contohnya, Borobudur itu diketahui sebagai lokasi sejarah Pangeran Saudana, sosok roh sebelum menjadi Buddha yang kemudian harus melewati 40 penitisan, yang semuanya digambarkan pada 1400 lukisan relief di Borobudur. Ini sangat menarik, selain bangunannya, yang bahkan ada salinan ceritanya di China dalam bentuk lukisan terkenal," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, pihak Kementerian Pariwisata RI yang diwakili Hari Untoro Dradjat, selaku Staf Ahli Menteri Bidang Multikultura dan Tim Percepatan Kawasan Borobudur, mengatakan, pekerjaan rumah lainnya terkait promosi wisata spiritual adalah membangun potensi wisata di sekitar kawasan wisata spiritual.

"Dalam fokus Borobudur, misalnya, kita kembangkan ke wilayah 'Joglosemar'. Di sana ada banyak warisan budaya dan religi juga mahakarya besar seperti Borobudur, Prambanan, Kota Lama, dan Sangiran yang berumur dua setengah juta tahun. Semua itu banyak yang sudah diakui sebagai Wolrd Heritage, tapi kenapa kunjungan wisatawannya masih kurang dari 300 ribu?" ujar Hari.

Ia menyampaikan bahwa contoh masalah Borobudur disebabkan pengelolaan wilayah Joglosemar yang masih multi management dan masih banyaknya kekurangnya di amenitas, seperti homestay.

"Kalau melihat ke Dieng, di sana ada kegiatan yang menghubungkan spitirual dengan pariwisata. Misal festival potong rambut gimbal di bulan Agustis yang kini mendunia dan didatangi 100.000 orang dengan tiket yang bisa mencapai Rp400 ribu. Itu jadi contoh bagaimana pengembangan wisata spiritual bisa diterima masyarakat," pungkasnya.

(fid)
TAG : pekerjaan

Baca Juga

HARI MERDEKA: Berbahaya, TNBTS Larang Upacara Agustusan di Puncak Semeru

HARI MERDEKA: Berbahaya, TNBTS Larang Upacara Agustusan di Puncak Semeru