SELAMAT HARI KARTINI: Elizabeth Santosa, Kartini Masa Kini Tak Selalu Mengejar Karier, Carilah Kebahagiaan!

SELAMAT HARI KARTINI: Elizabeth Santosa, Kartini Masa Kini Tak Selalu Mengejar Karier, Carilah Kebahagiaan!

Elizabeth Santoso (Foto: Instagram)

MENGINGAT sosok R.A Kartini memberi semangat bagi wanita Indonesia untuk melakukan perjuangan dan kontribusi lebih untuk bangsa dan negara. Emansipasi wanita yang dicita-citakan pahlawan kelahiran Jepara, 21 April 1879 sudah tercapai dengan terbukanya peluang karier besar bagi wanita masa kini.

Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2017, Elizabeth Santosa seorang Psikolog Pendidikan berpendapat, Kartini bukan saja pejuang dan tokoh inspirasional. Kartini merupakan kebangkitan kaum wanita, khususnya di Indonesia.

Psikolog yang wajahnya kerap menghiasi layar kaca ini memiliki kekaguman sendiri terhadap Kartini. Kepribadian, pemikiran, semangat, serta filosofi hidupnya memberi pelajaran berharga bagi wanita untuk berperan di tengah lingkungan, baik secara nasional maupun global.

“Daya ‘dobrak’ beliau mempertahankan hak wanita untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik adalah tindakan luar biasa untuk memperjuangkan nasib wanita. Kemudian, daya tahan beliau dalam menghadapi tempaan tekanan dari keluarga dan lingkungan yang saat itu menganggap ideologi beliau terlalu modern dan tidak sesuai dengan peran wanita di jaman tersebut menjadi pelajaran penting untuk wanita saat ini yang sudah tidak lagi merasakan hal tersebut,” papar Elizabeth kepada Okezone, Kamis 20 April 2017.

Selain terinspirasi dari Kartini dalam berkarier, wanita yang kini tercatat sebagai Komisioner Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) termuda 2015-2020 ini juga mendapat inspirasi dari sang ibu. Ia menganggap ibu adalah sosok Kartini yang hadir secara nyata dalam hidupnya.

“Ibu saya. Ibu saya adalah ibu rumah tangga yang memiliki dedikasi tinggi untuk keluarga. Saya sebagai wanita karier, seringkali terlalu fokus pada pekerjaan sehingga melupakan hal-hal kecil yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas keluarga saya. Ibu saya berkomitmen tinggi terhadap suami dan anak anak. Ia selalu berikan yang terbaik untuk kami. Hal ini mengingatkan saya untuk dapat menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga. Mengingatkan kembali peran seorang ibu untuk anak anak saya,” tuturnya.

Kendati demikian, sebagai wanita modern ia merasa bertanggung jawab meneruskan cita-cita dan perjuangan Kartini. Yaitu menjadi wanita yang memberi makna bagi lingkungan sekeliling, bukan cuma dalam pencapaian karier pribadi.

“Saya berusaha untuk memiliki daya juang mempertahankan ideologi dan prinsip-prinsip yang saya yakini saat ini. ‘Bertahan’ dan bermental kuat di tengah tantangan hidup, penolakan dari beberapa pihak dan sebagainya. Hari Kartini menjadi refleksi diri tentang diri kita sebagai wanita. Evaluasi apakah sudah memberikan terbaik dari diri kita untuk keluarga, masyarakat? Sudahkah hidup kita sebagai wanita memberi makna untuk sekeliling?” ungkap psikolog yang pernah menjadi dosen di Swiss German University.

Ia menambahkan, seperti layaknya sosok Kartini. Jadi diri sendiri. Bukan lagi mencari emansipasi wanita. Itu zaman dulu. Sekarang hak wanita sudah hampir sejajar dengan laki-laki. Fokus Kartini modern adalah menyeimbangkan peran wanita saat ini. Tidak melulu mengejar karier, namun juga bahagia di dalam diri. Seperti yang kita tahu, bahwa wanita pada dasarnya mengalami banyak tekanan dari lingkungan. Harus berperilaku seperti ini dan itu.

“Fokus kartini modern adalah mencari keseimbangan. Bukan serta merta ambisi dengan karier namun menelantarkan suami dan anak anak. Tetap mencapai aktualisasi diri melalui pekerjaan tapi tetap berperan aktif sebagai pilar rumah tangga, pengayom, penuh kasih,” imbuhnya penuh harap.

(ren)
TAG : masa

Baca Juga

4 Perempuan Termulia di Dunia Sepanjang Sejarah, Siapa Saja Mereka?

4 Perempuan Termulia di Dunia Sepanjang Sejarah, Siapa Saja Mereka?