Mengenal Sejarah Kesultanan Riau di Pulau Penyengat

Mengenal Sejarah Kesultanan Riau di Pulau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau (foto: Tentry Yudvi/Okezone)

SEJARAH Kepulauan Riau tidak lepas dari riwayat Kesultanan Riau-Lingga. Sisa-sisa kegemilangan mereka masih bisa ditemui ketika Anda mendatangi Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat memiliki Masjid Raya Sultan Riau yang pembangunannya memakan waktu hingga 40 tahun. Masjid ini pun unik karena temboknya dibuat dengan perekat putih telur, memiliki warna mencolok kuning dan hijau, dan arsitekturnya bergaya India, Arab, dan Nusantara sendiri.

Pulau Penyengat...dengan Masjid Raya Sultan Riau . . . #instakepri #pulaupenyengat #tanjungpinang #masjidrayasultanriau

A post shared by Yuke WD 💚 Jakarta 🔁 Batam 💚 (@yukewd) on May 12, 2016 at 1:18am PDT

Masjid tersebut semula berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal yang didatangkan dari Selangor. Atapnya pun terbuat dari kayu bekian dan hanya memiliki menara dan kubah tidak sampai 20 hasta.

Dikutip dari berbagai sumber, Pulau Penyengat juga menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan Kerajaan Kesultanan Riau terhadap penjajah di abad ke-18 dan di pulau ini terdapat pula cerita tentang beberapa tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah bangsa Indonesia pada masa itu.

Dekat dari Pulau Bintan dan tidak jauh dari kota Tanjung Pinang, pulau ini dapat ditempuh hanya dengan 15 menit menyebrangi laut dengan menggunakan pompong atau perahu bermotor.

Masjid Raya Sultan Riau atau disebut juga Masjid Sultan Riau merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Indonesia yang berada di pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, provinsi Kepulauan Riau. Masjid ini merupakan salah satu masjid unik karena salah satu campuran bahan bangunan yang digunakan adalah putih telur. Masjid Sultan Riau ini sudah dijadikan situs cagar budaya oleh pemerintah Republik Indonesia. Masjid dengan ketebalan dinding mencapai 50 cm ini merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih utuh. Bahkan, hingga kini masjid ini masih digunakan oleh warga untuk beribadah. Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, dan ditopang oleh empat tiang. Lantai bangunannya tersusun dari batu bata yang terbuat dari tanah liat. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat menyelenggarakan musyawarah. #masjidIndonesia #exploremasjid #pemudacintamasjid #masjidrayasultanriau #yukkemasjid #makmurkanmasjid

A post shared by Menara Masjid (@menara_masjid) on Sep 10, 2016 at 3:51am PDT

(fid)

Baca Juga

Shiprock, Sisi Misterius nan Menawan di Meksiko

Shiprock, Sisi Misterius nan Menawan di Meksiko