SELAMAT HARI KARTINI: Ketangguhan Noriyu Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mental di Indonesia

SELAMAT HARI KARTINI: Ketangguhan Noriyu Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mental di Indonesia

Nova Riyanti Yusuf (Foto: Helmi/Okezone)

MEMPERJUANGKAN untuk menangani masalah kesehatan jiwa, inilah salah satu target dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ. Ia sudah berkecimpung di dunia psikiater selama 9 tahun.

Wanita berparas cantik dan berperangai tegas ini tak bosan menyosialisasikan soal kesehatan mental. Melalui perjuangannya, Noriyu berharap agar masyarakat lebih sadar akan masalah ini.

Noriyu mengakui, dari awal ia memang senang mempelajari ilmu kesehatan jiwa. Spesialis yang diambilnya juga memiliki keterkaitan dalam keluarganya besarnya yang memiliki masalah kesehatan jiwa.

"Saat menghadapi masalah-masalah di RSCM, seperti ada yang enggak bisa bayar, instingnya saya ingin bantu mereka. Tapi apa saya harus bantu bayar mereka satu per satu? Ini artinya harus masuk ke dalam kebijakan dan sistem di politik," terang Noriyu kepada Okezone saat dihubungi melalui telefon.

Berbekal misi ingin membantu pasien, wanita kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 27 November 1977 itu terlibat sebagai anggota DPR pada 2009-2014. Ia menyuarakan dan mengatur misinya untuk masuk ke dalam sistem kesehatan mental nasional.

Semasa jabatannya, Noriyu membawa perubahan yang berarti untuk meningkatkan kesadaran pemerintah terhadap kesehatan mental masyarakat. Pasalnya, kesehatan jiwa masih belum menjadi sorotan utama pemeritah, khususnya Kementerian Kesehatan waktu itu. Indonesia mencurahkan kurang dari satu persen dari total anggaran untuk kesehatan mental. Jelas angka ini lebih rendah dibandingkan negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Kepada New York Times, Noriyu menceritakan persoalan tersebut dan perjuangannya membujuk Kementerian Kesehatan untuk mencurahkan lebih banyak dana untuk memperhatikan kondisi kesehatan masyarakat. Memang, penyakit yang kerap menjadi sorotan adalah penyakit tidak menular, seperti kardiovaskular.

Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR, perjuangan Noriyu berlanjut dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa cabang DKI Jakarta (PDSKI Jaya). Noriyu terpilih sebagai ketua di dalam perhimpunan itu. Ia bersama dengan timnya membuat wadah, agar masyarakat yang mengalami masalah depresi atau gejala gangguan kesehatan jiwa bisa bicara leluasa dalam wadah tersebut.

"Pemerintah dan mungkinsaya, Ketua Perhimpunan Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Jakarta, harus lebih proaktif. Kita punya program yang namanya #CallUs lewat Selasar," terangnya.

Setidaknya, menurut Noriyu jalan ini dapat membuka "keran" atau medium bagi masyarakat, tidak terkecuali dengan perempuan untuk berkomunikasi dengan para psikiater.

Ia bersama tim juga mengusahakan untuk membuka layanan dokter jiwa di area Jakarta untuk mempermudah masyarakat berkomunikasi dengan psikiater mengenai keluhan mental yang dialaminya.

Target Kesadaran terhadap Kesehatan Jiwa

Noriyu menekankan bahwa definisi sehat yang merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bukan sekadar sehat fisik. Tetapi orang tersbut harus sehat secara mental dan bahagia dengan diri mereka sendiri. Bagaimana ia bisa menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya, sehingga mampu untuk berkompetisi.

"Prinsipnya adalah harus aware dengan kondisi kesehatan jiwanya terlebih dahulu. Baru kemudian, mengurusi sekitarnya," ujar Noriyu.

Dalam peringatan Hari Kartini ini, Noriyu juga menyampaikan betapa pentingnya untuk memupuk kesadaran sehat jiwa sejak keci, khususnya kepada perempuan.

"Harus dididik, misalnya sexually aware dengan dirinya atau tubuhnya. Diberitahukan oleh orangtua dari kecil, bagaimana ia menempatkan dirinya untuk menjadi perempuan yang respectful dan menghargai dirinya," tambah Noriyu.

Ketika perempuan berhasil menanamkan kesadaran dan tahu bagaimana cara menghargai dirinya, ia mampu menghindari terjadinya pedofilia dan pelecehan seksual. Ia mulai bisa menilai apakah ia berada di dalam suatu hubungan yang sehat atau malah berada di tengah kekerasan. Ketika dasar kejiwaan mental perempuan terus dibina, perempuan akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Pandangan Noriyu soal Kartini Era Kini

Bicara soal emansipasi perempuan yang dipelopori oleh Kartini, tidak jauh dari bahasan feminisme. Ia mengidolakan sosok Emma Watson yang dengan tangguh menyuarakan feminisme dan pemberdayaan perempuan ke muka dunia.

Kini, perempuan sudah memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Bahkan, profesi dan jabatan lebih terbuka terhadap gender perempuan, dibandingkan di masa lampau. Tak sedikit pula perempuan yang menempati jabatan lebih tinggi.

Memang, perempuan dapat memahami bagaimana kompetensinya dan apa saja hak yang seharusnya diperoleh. Namun, bukan berarti perempuan memandang sebelah mata kaum adam. Feminisme dalam Kartini era kini, menurut Noriyu, perlu terciptanya keselarasan dan kesetaraan antara posisi perempuan dan laki-laki.

Agar kesetaraan tetap terbina, satu hal yang perlu dilakukan, komunikasi dua arah.

"Ini harus dua arah. Khawatirnya ketika perempuan sudah aware dengan haknya, pada saat bersamaan ia menyadari kompetensi dan kemampuannya, apakah acceptance itu selaras berjalan antara perempuan dan laki-laki," tutupnya.

Istilah feminisme diciptakan bukan berarti perempuan mendominasi laki-laki dari berbagai aspek. Melainkan, bagaimana mereka menciptakan keselarasan dalam menjalani kehidupan bersama.

"Kita melihat gerakan feminisme ini menjadi gerakan yang agak kasar dan kehilangan nuansa bahwa perempuan itu lembut walaupun tegas. Tidak boleh melangkahi atau menggagahi laki-laki," tutup Noriyu. (Hel)

(hel)

Baca Juga

Seledri Ampuh Turunkan Berat Badan, Begini Cara Mengolahnya

Seledri Ampuh Turunkan Berat Badan, Begini Cara Mengolahnya