SELAMAT HARI KARTINI: Membaca Kembali Sejarah Isi Surat R.A Kartini

SELAMAT HARI KARTINI: Membaca Kembali Sejarah Isi Surat R.A Kartini

Ilustrasi R.A Kartini (Foto: Okezone)

BUAH pemikiran R.A Kartini meretas sejarah kebangkitan wanita pribumi yang selama masa kolonial terkekang. Beliau menjadi pahlawan emansipasi wanita Indonesia dalam memeroleh hak, kebebasan, dan kesetaraan gender.

Berawal dari tak dapat melawan keputusan sang ayah untuk berhenti sekolah dan berdiam di rumah karena harus dipingit. Kartini yang sempat mencicipi pendidikan hingga usia 12 tahun tetap menjalin komunikasi dengan sahabat-sahabatnya yang berkebangsaan Belanda lewat surat-menyurat. Diskusi lewat surat membuka cakrawala pemikiran Kartini. Bahwa budaya Jawa telah merenggut hak wanita untuk berkarya. Ia pun berusaha mendobrak aturan tersebut dengan caranya sendiri.

Dari surat-suratnya, tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.

Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max havelaar dan Surat-Surat Cintakarya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.

Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Setelah Kartini wafat pada 1903 di usia 25 tahun, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Demikian dikutip dari Wikipedia.

(vin)

Baca Juga

Inilah Tuntunan Bertakbir di Hari Raya Idul Fitri

Inilah Tuntunan Bertakbir di Hari Raya Idul Fitri