SELAMAT HARI KARTINI: Seperti Ini Perjuangan R.A Kartini Belajar hingga Memiliki Pemikiran Terbuka

SELAMAT HARI KARTINI: Seperti Ini Perjuangan R.A Kartini Belajar hingga Memiliki Pemikiran Terbuka

Memaknai perjuangan Kartini (Foto: Outmagazine)

RADEN Ajeng Kartini. Wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 ini mungkin bisa dikatakan wanita beruntung di kalangan wanita pribumi lainnya.

Lahir dari keturunan bangsawan, ia menjadi wanita pribumi pertama yang berhasil mencicipi bangku pendidikan. Tak tanggung-tanggung Kartini bersekolah di tempat para anak-anak pemerintahan Hindia-Belanda bersekolah.

Dari hasil pencarian tentang informasi terkait pendidikan R.A Kartini, Okezone menemukan, pahlawan nasional ini disekolahkan oleh sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat di ELS (Europese Lagere School).

ELS adalah Sekolah Dasar (SD) pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. ELS atau Sekolah Rendah Eropa tersebut diperuntukkan bagi keturunan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. ELS yang pertama didirikan pada tahun 1817 dengan lama sekolah 7 tahun.

Meski hanya menempuh pendidikan hingga usia 12 tahun karena terbentur aturan adat, Kartini tidak berhenti belajar. Pengalamannya bersekolah menggunakan bahasa Belanda adalah kunci untuknya belajar banyak hal dari teman-teman yang berdarah Belanda semasa sekolah.

Dalam kondisi dipingit di rumah, ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendadon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.

Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.

Dalam beberapa surat Kartini, ia menulis keinginan melanjutkan pendidikan, bahkan bersekolah di Eropa. Namun keinginan itu ditentang oleh sang ayah. Karena rasa cintanya yang lebih besar kepada ayah, Kartini terpaksa mengubur cita-citanya, termasuk ingin sekolah kedokteran di Betawi yang juga dilarang, meski akhirnya ayah mengizinkan namun ia menolak.

Beberapa sahabat surat-menyuratnya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

(vin)

Baca Juga

Serunya Tradisi Berbagi THR saat Lebaran

Serunya Tradisi Berbagi THR saat Lebaran