SELAMAT HARI KARTINI: Kartini Masa Kini Tidak Sungkan Masuk Dapur, Bahkan Bisa Jadi Bisnis Menjanjikan

SELAMAT HARI KARTINI: Kartini Masa Kini Tidak Sungkan Masuk Dapur, Bahkan Bisa Jadi Bisnis Menjanjikan

Wanita harus mau masuk dapur (Foto:Youtube)

BANYAK istilah yang dilontarkan untuk merangkai kalimat demi mengungkapkan pendapat tentang sosok Kartini masa kini. Bagi Fatmah Bahalwan, pendiri Natural Cooking Club (NCC), sosok Kartini masa kini adalah cerminan dari semua perempuan Indonesia yang kembali bergelut dengan bahan makanan di dapur.

Bagi pecinta kuliner ataupun orang yang hobi memasak, nama Fatmah Bahalwan pasti sudah familiar terdengar. Pendiri NCC ini memiliki banyak member yang hingga saat ini jumlahnya lebih dari 17 ribu anggota milis.

Saat ini memang prestasi Fatmah sudah bisa diakui di Indonesia tapi mungkin belum banyak yang tahu bagaimana Ia memperjuangkannya mulai dari nol. Bagi perempuan ramah ini, pekerjaan yang seharusnya paling membanggakan bagi kaum hawa adalah kembali ke dapur dan mengolah berbagai hidangan lezat dengan penuh cinta.

“Memasak dan membuat kue dianggap pekerjaan belakang, enggak keren. Bukan pakai jas, sepatu mengilap, rambut bersanggul atau make-up yang merias wajah. Tapi sesungguhnya sosok Kartini-Kartini masa kini adalah yang kembali ke dapur demi menyuguhkan makanan dan minuman lezat untuk keluarga tercinta,” kata Fatmah saat dihubungi via sambungan telepon, Kamis (20/4/2017).

Fatmah termasuk orang sangat berani dan tegas mengatakan bahwa nyawanya rumah tangga ada di dapur dan perempuan yang bergelut di dalamnya bisa dikatakan sebagai pahlawan. Sebagai perempuan yang memilih untuk tetap mengolah makanan di dapur rumahnya adalah pekerjaan yang paling bernilai tinggi dibandingkan bidang lain.

 

Perempuan kelahiran Wonosobo, 15 Januari 1964 ini menjelaskan, mengolah makanan di rumah intinya memang untuk disajikan ke keluarga tercinta. Tapi bukan berarti tidak bisa menjadikan kegiatan ini sebagi mata pencaharian.

“Asal kreatif, jalinan dengan teman baik dan jadi pribadi yang baik dengan siapapun, bukan tidak mungkin mengolah makanan jadi satu mata pencaharian yang menghasilkan pundi-pundi Rupiah,” lanjut Fatmah yang juga penulis buku masak.

Hal ini sebenarnya sudah dialami sendiri oleh Fatmah, Ia merasa semakin banyak berbagi maka semakin banyak juga kebaikan yang diterimanya.

Meski kegiatan di dapur selalu diidentikkan dengan pekerjaan perempuan tapi nyatanya di lapangan justru yang banyak berkecimpung secara professional di bidang ini adalah kaum Adam. Miris memang tetapi inilah kenyataannya, beberapa kali Fatmah menjadi juri memasak tingkat professional namun pesertanya acap kali lebih banyak pria dibanding wanita.

 

“Kenyataannya begitu, menurut saya karena laki-laki bisa menjadikan profesi chef ini secara total, full profesi, sementara perempuan tidak bisa terlalu total belajar karena masih ada tugas sebagai ibu rumah tangga, ada pekerjaan yang wajib dijalani selain menggeluti ilmu koki secara lebih professional,” jelas Fatmah.

Sejauh langkah Fatmah mempromosikan, memperkenalkan hingga melestarikan kuliner Indonesia, banyak hal yang sudah dilakukannya. Lewat obrolan bersama Okezone ini juga Fatmah membeberkan kegiatan rutinnya bersama NCC yang dilakukan demi melestarikan kuliner Indonesia.

Kegiatan pertama yang dilakukan NCC adalah menghimpun dan merangkum kuliner Indonesia mulai dari kue, minuman tradisional hingga makanan berat. Sampai saat ini, NCC dan para membernya sudah berhasil mempublikasikan 400 resep hidangan Nusantara. Seluruh resep ini ada dalam blog khusus yang memang sengaja dibuat, sehingga siapapun yang mencari resep makanan tradisional bisa ‘mencontek’ resepnya.

Kegiatan selanjutnya yang pernah dilakukan adalah event online bertemakan Ketupat dan Lontong. Merasa geram karena sempat beredar isu bahwa ketupat dan lontong diklaim oleh negara tetangga, NCC tak tinggal diam. Banyak member yang berlomba membuat tulisan seputar ketupat dan lontong adalah dari Indonesia sehingga saat dicari via Google maka dua olahan berbahan beras ini muncul sebagai kuliner khas Indonesia.

 

Kegiatan yang tak kalah seru dan menarik adalah saat kopi darat antar member. Saat bertemu di dunia nyata, ada konsep yang diusung yakni Home Made Food Fiesta. Dalam kegiatan ini para member berkumpul di satu tempat dengan membawa hidangan hasil olahannya sendiri yang ditentukan berdasarkan tiap daerah. Dengan koordinasi yang jelas maka kegiatan pot luck ini berhasil mengumpulkan makanan dari Sabang hingga Merauke yang nantinya disantap bersama.

Satu yang tak boleh ketinggalan, saat kumpul member ini cara makan yang dilakukan juga melestarikan tradisi makan bersama ala Indonesia. Cara makan ala bancakan, ngaliwet atau bajamba itu kerap dilakukan.

“Kita ngaliwet makan bajamba, yang seperti ini selalu kita lakukan. Pertama supaya rasa kekeluargaan semakin erat dan yang kedua agar semua tahu ada lho tradisi makan bersama ala Indonesia yang seru,” pungkas Fatmah menutup perbincangan.

(ndr)
TAG : masa

Baca Juga

HARI MERDEKA: Bubur Ase Sampai Nasi Krawu, Sajian Indonesia Zaman Kolonial yang Sudah Sulit Ditemukan, Ada Resepnya Juga Lho!

HARI MERDEKA: Bubur Ase Sampai Nasi Krawu, Sajian Indonesia Zaman Kolonial yang Sudah Sulit Ditemukan, Ada Resepnya Juga Lho!