SELAMAT HARI KARTINI: Berpeluh Tak Kenal Lelah, Bidan Apung Siti Sumiyati Layani Warga Sepenuh Hati

SELAMAT HARI KARTINI: Berpeluh Tak Kenal Lelah, Bidan Apung Siti Sumiyati Layani Warga Sepenuh Hati

Bidan apung Siti Sumiyati (Foto: Daserste)

NAMA Siti Sumiyati sempat geger pada 2008. Wanita yang berprofesi sebagai bidan itu mengabdi kepada masyarakat, khususnya ibu hamil di sekitar Kepulauan Seribu.

Wanita yang kerap disapa Bidan Sum, bak sosok Kartini yang membawa keselamatan para wanita hamil di Pulau Panggang dan sekitarnya. Seakan tidak pernah lelah, Bidan Sum mengabdikan waktunya bagi para warga yang membutuhkan pertolongan secara medis.

Meski tidak lagi muda, Bidan Sum yang kala itu berusia 58 tahun, terus berjuang melayani warga tanpa membeda-bedakan. Meski membutuhkan waktu berjam-jam mendatangi satu pulau ke pulau lainnya, ia membantu para ibu untuk melahirkan.

Sudah 38 tahun lebih Bidan Sum melakoni pekerjaan ini. Jarak yang ditempuh dari satu pulau ke pulau lainnya memang agak jauh. Begitu juga ia ke Pulau Sebira yang memakan waktu 7 jam perjalanan.

Awalnya, Budan Sum menggunakan kapal ojek untuk mengunjungi warga. Namun, sekarang ada speedboat puskesmas keliling yang membantu para petugas kesehatan membantu warga di Kepulauan Seribu.

Diakui oleh warga, Bidan Sum memang sosok yang penuh perhatian. Meskipun ia dianggap bawel karena memberikan nasihat para ibu hamil untuk menjaga asupan garam atau mengingatkan mereka terus cek ke puskesmas keliling, warga merasakan dampak yang positif berkat pengabdian Bidan Sum.

Bidan Sum yang mulai memasuki masa pensiun kala itu, sering mewanti-wanti ibu hamil dan warga setempat untuk menjaga pola makannya. Tidak bosan-bosannya ia mengingatkan mereka untuk tetap sehat selalu.

Melihat ketangguhan Bidan Sumiyati, Organisasi Kesehatan Dunia memberikan julukannya sebagai 'Penyelamat Ibu Melahirkan' pada Juni 2008. Ia juga menceritakan pengalamannya di Kongres Bidan Sedunia di Glasgow, Inggris. Sebuah kebanggaan bagi Bidan Sum menerima penghargaan itu. Ia tetap semangat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Ia menceritakan pengalaman pertamanya bertugas di Pulau Panggang pada 1971. Tak ada penerangan sedikit pun di tempat itu. Ditemani dengan lampu minyak tanah, ia membantu persalinan ibu hamil. Walaupun terbatasnya fasilitas, semangat Bidan Sum tidak redup.

Sebelumnya, ia juga pernah membantu ibu hamil dengan bayi sungsang. Karena keterbatasan fasilitas, ia membawa sang ibu ke rumah sakit di Jakarta. Saat di tengah perjalanan, kapal yang ditumpanginya sempat mogok di tengah laut. Untungnya, kerusakan mesin dapat diatasi. Bahkan, sang ibu hamil bisa tiba di rumah sakit dan melahirkan dengan selamat.

Bidan Sum berhasil menurunkan angka kematian ibu melahirkan hingga nol persen di Kepulauan Seribu. Pemerintah Kuba juga melirik pencapaian dan ketulusan Bidan Sum dan memberikannya penghargaan.

Bidan Sum kerap menyebrang dari Pulau Pramuka, rumahnya, menuju Pulau Panggang. Semuanya didasari atas misi kemanusiaan. Ia mengatakan, sehari saja ia tidak berkunjung, pasti ada banyak warga yang mengantre untuk menantikan Bidan Sum. Maka dari itu, ia tak pernah absen untuk melayani warga Kepulauan Seribu.

Sosok Kartini pada era 2000-an ini tidak pelit ilmu kepada para bidan muda. Ia berbagi pengalaman bidan muda dapat meneruskan perjuangannya yang membutuhkan keikhlasan.

Secara totalitas Bidan Sum mengerahkan tenaganya. Bukan soal material, semuanya soal panggilan kemanusian yang timbul dari nurani Bidan Sum. Demikian Okezone rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (22/4/2017).​

(hel)

Baca Juga

Menstruasi Sebelum Usia 12 Tahun, Perempuan Berisiko Lebih Besar Terkena Kanker Payudara dan Serviks

Menstruasi Sebelum Usia 12 Tahun, Perempuan Berisiko Lebih Besar Terkena Kanker Payudara dan Serviks