Modernisasi Kebaya dan Kain Batik Boleh Dilakukan, asal....

Modernisasi Kebaya dan Kain Batik Boleh Dilakukan, asal....

Batik (Foto: Okezone)

BATIK bukan hanya sekadar motif di atas kain lantaran segala prosesnya yang tergolong rumit untuk menghasilkan ribuan motif dengan filosofi tersendiri. Hal inilah yang membuat kain asli Indonesia mendapat pengakuan dari dunia melalui penetapan oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

"Batik itu enggak cuma pakaian yang bergambar, tetapi ada yang namanya visual komunikasi dalam setiap motifnya, ada universal wisdom message-nya," ujar Era Soekamto, Creative Director Iwan Tirta Private Collection di Gran Melia, Jakarta, belum lama ini.

Sebagai salah satu warisan bangsa dengan jumlah motifnya yang sangat banyak, sudah sepatutnya Era Soekamto pun memperkenalkan satu persatu motif batik kepada khalayak. Salah satunya ditampilkan dalam Iwan Tirta Private Collection untuk Spring/Summer 2017.

"Koleksi ada beberapa yang di-highlight. Salah satunya adalah kain batik panjang yang biasanya dipotong untuk fesyen, ini kami buat menjadi culturewear asli Indonesia," papar Era sebelum peragaan.

Kain batik dengan beragam motif tersebut pun ada yang dikenakan dengan cara diikat atau diberi aksen wiron. Kain ini kemudian dipadukan dengan ragam model kebaya, seperti kebaya kartini, kebaya kutu baru, dan kebaya panjang.

Perihal warna, Era banyak mengambil warna-warna kebaya yang klasik, seperti hitam, biru, merah, ungu dan putih. Penampilan kian terasa klasik dengan kain batik yang dibuat selendang dan dikenakan dengan cara disampirkan pada bahu. Aksesori, seperti tusuk konde, bros, hingga clutch yang cantik merupakan karya desainer kenamaan Rinaldy A. Yunardi.

 

(Foto: Imogen PR)

Dalam pagelaran yang menghadirkan enam outfit kebaya dan kain batik ini, Era mencoba memperkenalkan bahwa kebaya bukan hanya digunakan untuk acara tradisional melainkan untuk tampilan sehari-hari.

"Kalau untuk tampilan sehari-hari bisa dipadankan dengan celana yang lebih kasual," imbuh wanita lulusan LaSalle International Fashion College Singapore itu.

Menampilkan kebaya kartini, kebaya kutu baru, dan kebaya panjang bukan tanpa alasan pula dilakukan oleh Era. Menurutnya, saat ini modernisasi kebaya ada yang dirasa berlebihan.

"Merancang kebaya agar dibuat lebih modern dan sesuai dengan pangsa pasar sah-sah saja, asalkan pakemnya jangan dilupakan," kata Era.

Ia menjelaskan jika dahulu kebaya dibuat dari material beludru dengan detail payet yang tidak banyak. Saat ini, kebaya dibuat mewah sehingga tidak menonjolkan material kebaya itu sendiri.

"Padahal sederhana itu sarat akan makna, kita jadi lebih mengerti bahwa kecantikan itu datangnya dari material itu sendiri," terangnya.

Begitu pula dengan kain batik, dituturkan anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia ini, batik sudah banyak yang dicetak print. Inilah yang membuat banyak orang belum paham filosofi batik tidak sampai ke akarnya.

"Batik bukan hanya tampilan fisik. Orang banyak yang enggak tahu bahwa batik printed itu sebenarnya bukan batik. Filosofi ini yang banyak belum dipahami. Filosofinya hanya sekedar membuka tetapi menutup sekaligus, bukan ke akarnya," tutupnya.

(dno)

Baca Juga

Aroma Parfum yang Pas Disemprotkan di Bulan Puasa

Aroma Parfum yang Pas Disemprotkan di Bulan Puasa