LIFE STORY #5: "Bersama Musik, Saya Merasa Lebih Sehat dan Tenang"

LIFE STORY #5:

Ilustrasi (Foto: BBC)

HIDUP saya tidak hanya sebatas kolam renang, melainkan sebatas samudera. Namun, saya baru menjelajahi beberapa samudera favorit di usia paruh baya ini. Lebih dari satu dekade berkecimpung sebagai aktivis HIV, saya butuh suasana baru yang lebih 'biasa' dan membuat saya menikmati hidup.

(Baca juga: LIFE STORY #1: "Saya Baby Rivona, Menanti Kematian Tiba")

Bukan berarti saya dengan HIV, hidup saya stuck di situ saja sampai tubuh menyatu dengan tanah. Saya ingin menjalani kehidupan yang fun! Saya suka musik dan harus tahu bahwa kakek saya dulu adalah pemain band.

(Baca juga: LIFE STORY #2: "Tak Perlu Menyamarkan Wajah dan Nama, Saya Bukan Seorang Kriminal"

Baby Rivona paling terkenal dengan Queen of Party, selalu bahagia dan merasakan bebas ketika ia mengenakan sepatu boots dan rok mini. Hadirlah saya di Malang untuk memulai 'kehidupan' baru, terlepas produktif di depan laptop dan flashdisk selama bertahun-tahun, ataupun berbusa-busa saya ngomong soal HIV. That's fine, tapi saya tidak ingin hidup mengalir stagnan seperti ini terus.

Dua tahun lalu, saya pikir saya sudah mau istirahat. Bergelut di bidang organisasi sama saja artinya belajar politik dan cukup bikin saya stres. Kemudian, saya pindah ke Malang, Jawa Timur, dan berusaha menjadi 'orang biasa' di sana.

Saya berteman dengan orang-orang di sana. Mereka yang sebelumnya belum pernah mengenal dan berteman, akhirnya mengenal saya. Berteman dengan musisi dan anak band di Malang begitu membuat kehidupan saya berbeda seratus delapan puluh derajat.

Dalam menyalurkan emosi dan mencurahkan isi hati, saya merangkul lima band asal Malang. Pun saya juga menuliskan lirik untuk lagu kelima band tersebut, di antaranya CrimsonDiary - ‘Fade Away’, Betterman - ‘Beauty of Naro’, KOKR - ‘Together We Stay’, Buritto’s Cousstic - ‘Comfort Zone’, dan Decimal - ‘My Princess’.

(Baca jug: LIFE STORY #3: "Siapapun Baby Rivona, Dia Tetap Ibu Saya")

Saya salut dengan mereka para pemain band di Malang. Mereka begitu dikaruniai bakat menyanyi dan bermusik. Teringat, ada beberapa tulisan yang sempat saya simpan untuk mencurahkan segala gundah yang ditemui dalam hidup. Siapa tahu, mereka bisa membuatnya menjadi sebuah lagu dan kita aransemen bersama. Betul saja, karya saya diminati mereka.

Dalam proses aransemen itulah saya mendampingi mereka. Saya bercerita, apa yang saya rasakan saat membuat tulisan tersebut, apa yang saya ceritakan di dalamnya, saya sedang ada di mana kala itu. Keterlibatan emosi antara diri ini dengan mereka yang menjadi akan melantunkannya bisa berpadu.

(Baca juga: LIFE STORY #4: Baby Rivona, "Hidup Kami Ibarat Dipeluk oleh HIV")

Ah, siapa sangka dari pertemanan ini membuahkan hasil yang manis. Salah satunya, lagu yang berjudul 'Fade Away' yang dinyanyikan oleh CrimsonDiary. Lagu ini hadir di album kedua mereka dan selalu menjadi andalan band itu. Ah, betapa bangganya! Rasanya bahagia bisa membagi sesuatu untuk kesuksesan ini.

Fade Away... Ini menceritakan kehidupan seorang junkie yang mati bunuh diri dan itu orang terdekat saya. Saya membuat lirik ini dua tahun lalu. Rencananya, lagu ini akan diberikan kepada dia. Namun, siapa sangka. Rencana itu membisu saat saya mendengar kabar bahwa dia ditemukan gantung diri di kamar kos.

Saya mengucap doa dan hanya berharap bahwa dia bisa mendengarkan lagu ini dari surga. Semoga ia tetap menyukainya meski kami tidak bertatap muka lagi. Bisa dibilang, bagi saya lagu ini penuh dengan misteri.

Berkarya di Malang, nama saya mulai dikenal di kalangan musisi. Salah satunya rocker Tanah Air, Sylvia Saartje. Ia tertarik dengan lirik yang telah saya buat untuk beberapa band di Malang.

Ketika Sylvia menawarkan diri untuk mengangkat karya Baby si aktivis HIV melalui konser, saya hanya bilang begini, "Mbak siapa sih seorang Baby, kok karyanya mau diangkat."

Menanggapi jawaban saya, Sylvia mengatakan bahwa karya itu tidak ternilai dan dia tetap ingin menyanyikan karya saya.

Hati ini seperti berbunga-bunga mendengar seorang rocker legendaris ini kepada saya yang biasa berkoar soal HIV. Namun, saya tidak tahu bagaimana caranya karena konser membutuhkan dana yang besar.

Bila Tuhan setuju dengan ide ini, pasti ada jalannya. Bisa jadi di hari AIDS, saya akan coba mengajukannya. Mungkin perspektifnya bukan Baby sebagai seorang artis atau penyanyi, tapi Baby seorang wanita yang punya talenta lain. Ia seorang song writer, yang mana lagunya bisa dinikmati. Baby yang seorang penderita HIV, ibu, dan seorang aktivis dalam dunia pekerjaannya.

Kalau kita bicara hari HIV/AIDS, Ya Allah, saya memiliki karya yang bisa dinikmati semua orang. Pun, yang membuat karya itu adalah seorang HIV dan dia seorang aktivis.

Berkarya di industri musik, saya tak harus melakoninya dengan serius, apalagi ambisius. Mungkin belum saatnya, mungkin juga suatu hari bisa jadi. Saya tidak tahu jalan cerita yang Tuhan siapkan untuk saya. Saya hanya selalu mencoba untuk mengisi hidup ini tetap produktif.

Musik seperti porsi bahagia yang bisa saya kecap di Kota Malang. Dengan adanya lagu, musik, dan semangat berkarya, saya bisa melupakan tetek bengek drama dan politik. Saya merasa lebih tenang dan lebih sehat.

Baby Rivona, aktivis HIV yang nyentrik ini masih punya cerita menarik yang menginspirasi Anda, okezoners. Jangan lupa nantikan kelanjutan kisah Baby hanya di Okezone.com, pukul 20.00.

(hel)

Baca Juga

5 Tipe Orang seperti Ini Tidak Disarankan Menyetir Perjalanan Jauh

5 Tipe Orang seperti Ini Tidak Disarankan Menyetir Perjalanan Jauh