LIFE STORY #6: Pendakian Gunung, Sebuah Refleksi dari Seorang Penderita HIV

LIFE STORY #6: Pendakian Gunung, Sebuah Refleksi dari Seorang Penderita HIV

Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

MENJADI seorang aktivis ODHA (orang dengan HIV/AIDS), bukan berarti rutinitas saya berkutat seputar persoalan ini saja. Perjalanan akan terasa tidak monoton ketika kita bisa menikmati hal yang berbeda.

(Baca juga: LIFE STORY #1: "Saya Baby Rivona, Menanti Kematian Tiba")

Dua tahun lalu saya memutuskan pindah ke Kota Malang, Jawa Timur. Di sana saya menemukan kehidupan bak kotak pandora. Hidup di sana, menghantarkan saya berkenalan dengan orang-orang istimewa di Malang.

(Baca juga: LIFE STORY #2: "Tak Perlu Menyamarkan Wajah dan Nama, Saya Bukan Seorang Kriminal"

Kumpulan orang-orang tersebut berasal dari berbagai latar belakang profesi. Ada yang pemusik, pegawai bank, seniman, dan aktivis seperti saya. Kami memiliki kesamaan hobi, yaitu naik gunung dan kami menyebut komunitas ini sebagai Kandang Mooong Dolen.

(Baca jug: LIFE STORY #3: "Siapapun Baby Rivona, Dia Tetap Ibu Saya")

Hidup di Malang membuat saya belajar banyak untuk menikmati hidup, terutama dalam meresapi hidup melalui keindahan alam. Pada tahun lalu kami melakukan pendakian menuju Ranu Kumbolo, sebuah danau yang terletak di bawah kaki Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Pendakian membuat saya semakin tersadar bahwa dir ini telah melalui benturan hidup yang begitu menyakitkan.

(Baca juga: LIFE STORY #4: Baby Rivona, "Hidup Kami Ibarat Dipeluk oleh HIV")

Pendakian menuju Ranu Kumbolo melelahkan bukan main. Mendaki bukan persoalan bagaimana menaklukan ego atau diri sendiri. Perjalanan dan medan yang berliku membuat saya begitu lelah, bahkan merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan tersebut. Saya sama sekali tidak tahu seperti apa jalan yang akan saya lalui di depan. Ditambah lagi tas carrier yang tersampir di punggung terasa begitu berat.

Memori mulai berputar seperti cuplikan potongan film semasa saya hidup. Rasanya tas carrier ini seperti beban hidup yang super berat. Mulai dari masa kelam, vonis HIV, ditinggalkan oleh sahabat, keluarga, perlakuan diskriminasi... semuanya saya tanggung sendiri kala itu.

(Foto: Dokumen pribadi)

Tiba di pos kedua dalam perjalanan, saya menangis meratapi hidup saya selama ini. Ternyata saya menggendong semua beban ini. Begitu lelah dan rasanya saya tak sanggup melanjutkan perjalanan ini. Apalagi menghadapi medan rintangan nantinya.

Teman saya tak banyak bicara. Dia hanya berkata, "Ya sudah, tinggalkan saja tas carriermu."

Bisakah saya meninggalkannya? Ada banyak makanan dan baju ganti di sana, mana mungkin saya meninggalkan hal esensial ini. Pertanyaan tersebut membuat angan ini terbawa pada kedua anak saya terkasih, Chessa dan Haikal. Apakah saya harus mencampakkan kedua anak terkasih ini untuk meringankan beban hidup? Tega sekali saya bila melakukannya.

Satu pikir saya kala itu, bagaimanapun saya harus menggendong semuanya ini. Tas carrier ini dan kehidupan saya. Kami masih saling membutuhkan, kami akan mati ketika melepaskan eratan masing-masing. Merekalah yang memberikan saya semangat untuk hidup.

Mendaki gunung, seperti merefleksikan kehidupan diri. Saya harus menerima begitu beratnya perjalanan ini. Begitu sulitnya medan yang harus dilalui. Selangkah demi selangkah, pelan-pelan saja, dan jangan berhenti. Meski begitu sakit jari kaki dan pegalnya, saya tidak akan berhenti hingga mencapai Ranu Kumbolo.

Ah, aduhai! Hati ini melengos ketika melihat indahnya pemandangan teduhnya Danau Ranu Kumbolo. Sunggun kalian harus percaya! Rannu Kumbolo seperti New York, bahkan lebih dari itu. Betapa beruntungnya diri ini, saya yang mengidap HIV masih bisa menikmati hidup. Banyak kesulitan tengah saya lalui, meskipun saya tidak tahu seperti apa jalan yang akan saya tempuh. Perjalanan ini membuat saya berpikir, ternyata saya lebih kuat daripada yang dikira.

Begitu menuruni pendakian, saya merasakan lahir kembali. Tidak satupun tubuh saya merasakan sakit dan rasanya tubuh ini menyatu dengan alam. Alam yang menyadarkan saya untuk bersyukur, seorang HIV seperti saya masih diberikan kesempatan untuk mencari bahagia dan saya menemukannya.

Saya bukanlah tipe orang yang harus menuliskan daftar banyak gunung yang wajib didaki. Bukan. Cukup di Malang, saya sudah bisa merefleksikan seperti apa perjalanan hidup saya. Harapan ini pun melambung, bila disetujui oleh yang Maha Kuasa, saya masih ingin menginjak Gunung Semeru dan Ranu Pane. Namun, saya tidak bersikap ambisius untuk mendaki gunung tertentu. Proses mendaki membuat saya kembali mengingat perjuangan diri menghadapi luka kehidupan.

Kisah Baby Rivona tidak berhenti di sini saja. Masih ada satu kisah selanjutnya dari wanita bertato kupu-kupu ini yang siap menginspirasi Anda. Tetapi nantikan artikelnya hanya di Okezone.com, pukul 20.00 WIB.

(hel)
TAG : gunung

Baca Juga

 Cegah Komplikasi Diabetes, Kontrol Gula Darah dengan Olahraga dan Batasi Kalori

Cegah Komplikasi Diabetes, Kontrol Gula Darah dengan Olahraga dan Batasi Kalori