Niatnya Baik, Tapi Pasangan Justru Bisa Memperburuk Insomnia Anda

Niatnya Baik, Tapi Pasangan Justru Bisa Memperburuk Insomnia Anda

Ilustrasi (Foto: Medicaldaily)

JIKA pasangan Anda mengalami susah tidur, pasti Anda berkeinginan membantunya agar bisa cepat tidur. Namun tahukah Anda, dengan membantu pasangan untuk cepat tidur bisa membuat masalah bertambah parah.

Sebuah penelitian yang baru-baru ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan Associated Professional Sleep Societies LLC, perusahaan gabungan American Academy of Sleep Medicine dan Sleep Research Society mengungkapkan, sebagian besar orang yang membantu pasangannya untuk tertidur malah menyebabkan insomnia memburuk.

Dari hasil penelitian yang didapatkan, mereka menemukan bahwa orang yang tidak mengalami masalah tidur sering sekali membuat akomodasi baru untuk insomnia pasangan mereka. Biasanya mereka mencoba memodifikasi jadwal tidur, jadwal kerja, dan aktivitas santai, seperti yang dilansir dari Health, Selasa (20/6/2017).

Ketika orang mengatakan, mereka berusaha membantu masalah tidur pasangannya, mereka tentu akan dihargai karena hal itu. Teman-teman di sekitarnya akan memuji hubungan mereka. Tapi ternyata hal itu malah menimbulkan masalah baru. Terlebih bantuan yang mereka tawarkan tidak selalu baik untuk dilakukan.

Sebagian besar orang akan mendukung pasangannya tidur dini hari atau bangun terlambat. Saran umum lainnya adalah membaca atau menonton TV di tempat tidur, tidur siang, menggunakan kafein, santai di siang hari, dan minum obat tidur atau alkohol sebelum tidur.

Hal-hal itu tentunya bertentangan dengan pedoman tidur yang dituangkan dalam terapi perilaku kognitif (CBT). Selama sesi CBT, orang belajar untuk tidak tidur sampai mereka merasa mengantuk, bangun pada waktu yang sama setiap hari, menggunakan tempat tidur mereka untuk tidur dan melakukan hubungan seks saja, serta menghindari tidur siang. Latihan di siang hari umumnya dianjurkan untuk membantu mata menutup di malam hari. Sementara alkohol dapat mengganggu tidur nyenyak.

“Meskipun niatnya bagus, pasangan dapat berkontribusi untuk mengawetkan insomnia," tulis para peneliti. Pada saat yang sama, orang-orang itu mungkin juga mengalami kecemasan terkait dengan masalah tidur pasangan, sehingga membuatnya sulit tidur.

Penulis utama Alix Mellor, PhD, peneliti postdoctoral di Monash University, mengatakan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk perawatan insomnia yang dapat menguntungkan pasien mereka sendiri dan juga pasangannya. Program perawatan harus melibatkan kedua pasangan dalam sebuah hubungan, agar secara proaktif bisa membahas bagaimana perilaku satu pasangan dapat membantu atau merugikan tidur pasangannya.

(hel)

Baca Juga

AWAS! Jangan Abaikan Hipertensi saat Hamil, Risikonya Bisa Kena Penyakit Jantung

AWAS! Jangan Abaikan Hipertensi saat Hamil, Risikonya Bisa Kena Penyakit Jantung