OKEZONE STORY #2: Annisa Octiandari Pertiwi, "Waktu Kecil Perutku Buncit, Orang Bilang Saya Hamil"

OKEZONE STORY #2: Annisa Octiandari Pertiwi,

Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

SAKIT yang saya rasakan tidak cukup dari segi fisik. Psikis saya juga terguncang akibat cemoohan orang-orang sekitar.

Dampak dari terapi thalasemia banyak menimbulkan rasa sakit hati yang terdalam. Waktu kecil saya bisa tergolong tidak bahagia.

Saya harus menjalani terapi transfusi darah yang hampir dijalani setiap hari. Slang dan kantung darah menjadi teman saat itu.

Tapi berkat dua benda itu saya bisa sehat hingga sekarang. Jarum menusuk kulit, meski sakit tapi saya harus bisa menyelamatkan diri dari ancaman thalasemia.

Rumah sakit menjadi tempat bermain saya di waktu kecil setiap hari. Ditemani perawat-perawat yang baik dan mau menjaga saya ketika menjalani transfusi darah.

Saat menjalani perawatan, sudah pasti harus bolos sekolah. Orangtua meminta izin ke sekolah agar saya bisa menjalani terapi rutin.

Meski saat kecil saya banyak bolos sekolah, tetap tidak patah semangat untuk meraih cita-cita. Sejak kecil saya ingin menjadi ilmuwan, seorang peneliti yang handal dan dapat membantu sesama.

Tapi mereka yang berada di sekeliling saya cukup tidak bisa menerima kondisi saya. Mereka tidak peduli dengan apa yang saya rasakan.

Padahal saat itu tidak hanya badan terasa lemah, tapi juga hati rasanya teriris. Hampir setiap orang yang bertemu saya mengatakan hal tak enak.

Waktu kecil, perut saya membuncit dan kulit menghitam. Orang-orang di sekililing saya bilang "Wah, kamu hamil. Kamu hamil".

Pedih rasanya dengan kenyataan itu, saya harus menerima efek samping dari terapi. Karena tubuh saya kelebihan besi darah, jadilah perut membuncit seperti orang hamil.

Ini sangat fatal, saya malu dengan semuanya. Tapi paling penting yaitu legowo, saya harus berusaha menerima semuanya.

Agak sulit sebenarnya, tapi sudahlah itu semua hanya sindiran belaka yang membuat saya jatuh. Pada saat itu, ayah dan ibu berusaha lagi memupuk semangat saya yang hampir hilang.

Saya tetap bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Saya masih mau sekolah untuk meraih impian menjadi ilmuwan.

Karena orang di luar keluarga saya bukan apa-apa. Mereka hanya tahu saya dari luar saja. Saya berdoa kepada Tuhan agar tetap bisa mendapatkan semangat untuk sembuh dari penyakit kelainan darah ini.

Apalagi tantangan yang dihadapi oleh Annisa Octiandari Pertiwi saat berjuang sembuh dan meraih cita-cita di tengah mengidap thalasemia. Simak terus Okezone Story setiap hari pukul 20.00 WIB!

(hel)

Baca Juga

AWAS! Jangan Abaikan Hipertensi saat Hamil, Risikonya Bisa Kena Penyakit Jantung

AWAS! Jangan Abaikan Hipertensi saat Hamil, Risikonya Bisa Kena Penyakit Jantung