Suku Moro, Penghuni Pulau Morotai yang Tak Kasat Mata tapi Diyakini Hidup!

Suku Moro, Penghuni Pulau Morotai yang Tak Kasat Mata tapi Diyakini Hidup!

Pulau Morotai (foto: Okezone)

MOROTAI di Maluku memiliki panorama alam perawan yang indah. Hamparan pasir putih dan birunya air laut membuat pulau ini mengundang antusiasme wisatawan dunia untuk liburan.

Pulau Morotai juga belum banyak memiliki penginapan sehingga wisatawan bisa dengan nyaman travelling di tempat sepi ini. Pesona indahnya juga tak hanya dihadirkan di atas pantainya, tetapi juga di bawah lautnya.

(foto: Instagram/@tiannasthasya)

Terumbu karang yang masih sehat dan natural menjadi daya tarik bagi pencinta diving. Ikan-ikan besar pun suka lalu lalang mencari santapan di kawasan Pulau Morotai.

Begitulah keindahan yang diberikan dari Pulau Morotai. Namun, tentu saja, Anda harus berhati-hati karena konon katanya di pulau ini masih dihuni oleh Suku Moro. Suku paling mistis di Maluku.

Suku Moro ini bukan seperti di Filipina, karena banyak kehadirannya tak kasat mata tetapi masih diyakini hidup. Banyak legenda yang dihadirkan Suku Moro ini dan beberapa di antaranya mengerikan.

Suku Moro ini diyakini adalah masyarakat yang menjelajahi lautan Maluku. Mereka berada di bawah pemerintahan Kerajaan Jailolo dan memiliki pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

(foto: Instagram/@dezztya)

Namun, ketika Portugis masuk ke Indonesia sekitar abad ke 15, Kerajaan ini terperosok ke dalam hutan di Morotai untuk melindungi diri mereka. Namun, entah mengapa, mereka tiba-tiba hilang lenyap di dalam hutan, hingga kini mereka tidak ditemukan.

Para pemangku adat di Halmahera meyakini jika kampung Suku Moro itu masih ada hanya saja di dunia lain alias dunia Gaib. Sebab, beberapa penduduk di pulau Morotai pernah melihat sosok aneh seperti tangan tanpa tubuh sambil mengapit sebatang rokok.

Atau, ada seorang penduduk pulau tengah berjalan ke ladang. Dalam perjalanan ia bertemu dengan dua ekor ular tanah. Dikarenakan takut, ia pun membunuh ular tersebut. Namun, setelah membunuh ia pingsan dan bangun di sebuah rumah.

Rumah itu ternyata rumah kepala kampung dan rupanya dua ular yang dibunuh penduduk tersebut adalah Suku Moro. Ia pun kemudian meminta maaf dan minta dikembalikan ke dunia nyata.

Namun, kepala suku memberikan syarat untuk membawa buah pinang dan membasuh muka di sebuah telaga. Setelah melakukannya, ia kemudian dikembalikan ke dunia nyata. Dan, ketika ia pulang, ia begitu kaget mendapati keluarganya tengah melakukan doa memperingati 7 hari kematiannya.

Rupanya penduduk sekitar menganggap ia sudah meninggal karena telah menghilang selama 7 hari. Diceritakannya lah kisah ia diculik oleh dunia gaib dan ketika menunjukkan buah Pinang yang dibawanya ia juga kaget. Sebab, buah tersebut berubah menjadi perak berbentuk buah pinang.

Sejak saat itu, masyarakat di Pulau Morotai tidak berani sembarangan menebang pohon atau membunuh hewan. Sebab, mereka yakin itu merupakan bentuk jelmaan suku Moro.

(fid)

Baca Juga

Pulau Kemaro dan Kisah Cinta Putri Fatimah & Tan Bun Ann yang Menerjunkan Diri ke Sungai Musi

Pulau Kemaro dan Kisah Cinta Putri Fatimah & Tan Bun Ann yang Menerjunkan Diri ke Sungai Musi