Tak Sengaja Merusak Barang Teman, Haruskah Diganti? Yuk Contoh Adab Rasulullah SAW

Tak Sengaja Merusak Barang Teman, Haruskah Diganti? Yuk Contoh Adab Rasulullah SAW

Ilustrasi (Foto: Tempemosque)

PINJAM-meminjam barang merupakan hal wajar di dunia ini, sebab manusia satu sama lain saling membutuhkan. Namun, dalam pinjam meminjam barang mungkin saja terjadi kerusakan pada barang, baik disengaja maupun tidak.

Lantas, bagaiamana aturan mengembalikan barang yang dipinjam menurut Islam? Haruskan barang itu diganti atau dibiarkan saja kembali dalam keadaan rusak? Dan, bagaimana jika tidak sengaja?

Baca Juga: Teguran dari Allah SWT untuk Orangtua yang Berlaku Kejam kepada Anak

Di zaman Rasulullah SAW pernah terjadi pinjam-meminjam barang antar istri-istri beliau. Meski pinjam-meminjam tersebut tidak disengaja.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pernah bercerita,

Suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah salah satu istrinya (Aisyah). Tiba-tiba ada istri beliau yang lain (Zainab bintI Jahsy) menyuruh pembantunya mengirim sepiring makanan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat itu, Aisyah marah dan langsung memukul piring yang masih di tangan si pembantu, hingga pecah dan berserakan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan, sambil mengatakan,

Baca Juga: Kuteks Halal Impian Muslimah, Temanya Beragam dan Kekinian

“Ibumu sedang cemburu.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti dengan piring yang ada di rumah Aisyah, sementara piring yang pecah ditinggal. (HR. Ahmad : 12027, Bukhari 5225)

Baca Juga: Wanita Berniqab Keluar dari Toko Victoria Secret, Kanada dan Jadi Perdebatan di Media Sosial

Belajar dari kejadian tersebut, Rasulullah SAW mengganti piring Zainab dengan piring yang ada di rumah Aisyah, meski pun Zainab tidak ada di tempat. Jadi ketika barang orang dirusak, maka wajib diganti. Lantas, bagaimana jika pemilik barang diam saja?

Diam bukan berarti pertanda pemilik ridha. Mengutip dari berbagai sumber, dasar yang dipakai adalah jika merusak barang orang maka harus bertanggung jawab, yaitu mengganti. Lain halnya jika pemilik menyatakan tak perlu diganti. Tertera sebuah penyataan.

Baca Juga: Zam-Zam, Panglima dari Segala Air

Menurut pendapat Imam as-Syafii dalam al-Qoul al-Jadid, ketika ada orang yang merusak harta orang lain, sementara pemiliknya menyaksikan dan diam saja, maka diamnya tidak menunjukkan bahwa dia mengizinkan agar barangnya dirusak. Namun dia harus ganti rugi. (al-Wajiz fii Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 205).

(vin)
tipsramadan

Baca Juga

Bosan dengan Dekorasi Ruang, Usik Sedikit Area Kulkas, Buat Tampilan Baru yang Menyegarkan

Bosan dengan Dekorasi Ruang, Usik Sedikit Area Kulkas, Buat Tampilan Baru yang Menyegarkan