Sulit Memaafkan Diri Sendiri, Pakai Terapi dari Media Sosial Saja, seperti Apa Ya?

Sulit Memaafkan Diri Sendiri, Pakai Terapi dari Media Sosial Saja, seperti Apa Ya?

Ilustrasi (Foto: Soshable)

SAAT ini media sosial begitu nyaring gaungnya. Dari sanalah berita hoax, pencitraan, dan hastag di mulai. Selain menjadi inspirasi, media sosial juga menyebabkan kebencian. Sayangnya, pemakaian media sosial menjadi candu bagi kaum milenial.

Seorang wanita di Amerika Serikat, Catherine Ryan Gregory, mengaku sedang beristirahat dari pemakaian Facebook. "Teman akan sering mengekspos banyak hal, seolah-olah platform itu adalah pacar yang kasar atau sebotol racun,” curhatnya di situs Realsimple, Jumat (11/8/2017).

Baca Juga: Menyedihkan! Setelah Kenalan, Pria Tak Pernah Menghubungi Lagi, Kira-Kira Kenapa Ya?

Seringkali ia berdebat di media sosial dengan beberapa teman. Sepertinya platform media sosial bukan hal main-main. Ya, memang ada sisi positifnya, karena Catherine dapat terkoneksi kembali dengan teman-teman di jejaring tersebut. Di media sosial pula Anda dapat melihat bayi-bayi menggemaskan muncul dengan senyumnya yang lucu.

Namun lebih dari itu, Catherine justru bersyukur kepada media sosial karena ia bisa memaafkan diri sendiri dari hal menakutkan dan sangat rahasia tersimpan selama 20 tahun.

“Ketika remaja saya pernah menjadi teman baik seseorang, sebut saja A, kami bermain bersama dan tumbuh bersama. Kami bahkan banyak terlibat dalam kegiatan sosial, salah satunya menjaga hewan langka yang hampir punah,” katanya.

Sebagai teman baik Catherine sangat percaya kepada A dan begitu pula sebaliknya. Di tengah-tengah perjalanan mereka berdua mulai memasuki masa dunia percintaan. “Saya mengenalkan A kepada seorang pria yang menyukainya. Kabar baiknya mereka berdua sama-sama tertarik maka hubungan pun berlanjut. Mereka berdua berpacaran,” sambungnya.

Di tengah perjalanan hubungan mereka, ternyata pria tersebut berbuat kasar kepada A, hingga pernah memukul wajah hingga terkena bagian pelipis mata yang menyebabkan bengkak. “Saya sungguh tak terima sahabat saya diperlakukan seperti itu. Saya berpikir A akan memusuhi saya karena mengenalkan kepada pria yang salah.”

Hubungan Catherine pun dengan A akhirnya menjadi jauh. “Saya merasa sangat bersalah karena telah membuat dia menderita. Saya menyesal dan tak bisa memaafkan diri sendiri. Hubungan kami menjauh dan lost contact dengan A,” katanya.

Baca Juga: Suami-Istri Bercerai Jangan Sedih Berlarut-larut! Mulai Awal Baru dan Bahagia!

Hingga suatu ketika Facebook mempertemukan mereka berdua. Kehidupan keduanya sudah berbeda dari yang dulu. Meski awalnya kaku untuk saling menyapa dan berhubungan, tetapi A lebih dulu membuka komunikasi.

“Berbincang lewat media sosial, saling menyapa, menanyakan kabar, dan membuka kenangan indah pada masa lalu kami berdua. Ternyata saya dan dia saling merindukan sebagai seorang sahabat.”

Perlahan namun pasti hubungan mereka membaik, bahkan sangat baik. Apalagi kehidupan A kini begitu bahagia bersama pasangannya. “Saya melihat foto-foto keluarganya. Tuhan begitu adil. Dia memberi pasangan pengganti yang jauh lebih baik. Melihat kebahagiaan A saya mulai bisa memaafkan diri sendiri. Bahwa setiap perjalanan hidup seseorang berbeda dan tak perlu terlalu jauh melibatkan diri terlalu jauh dalam kehidupan orang lain,” tukasnya.

(vin)

Baca Juga

HARI MERDEKA: Ternyata Lomba Agustusan Tak Cuma Seru, Juga Ajarkan Anak <i>Fight</i>

HARI MERDEKA: Ternyata Lomba Agustusan Tak Cuma Seru, Juga Ajarkan Anak Fight