nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Brunch, Gaya Hidup Masa Kini

Sindo Sore, Jurnalis · Selasa 08 April 2008 16:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2008 04 08 26 98732 a27cYrIhaa.jpg Foto: Corbis

BRUNCH mulai mewabah kaum urban Jakarta. Istilah brunch merupakan singkatan dari breakfast (makan pagi/sarapan) dan lunch (makan siang).

Brunch adalah kegiatan yang menggabungkan makan pagi sekaligus makan siang dalam satu waktu. Biasanya brunch dilakukan mulai pukul 11.00 hingga 15.00. Bagi orangtua, kegiatan ini selain dapat menikmati hidangan sekaligus sarana bersosialisasi. Berbeda dengan anak-anak, brunch akan diisi dengan aktivitas menarik. Sebuah ide yang inovatif untuk melewatkan Minggu siang ketimbang di rumah.

Sebagai budaya adaptasi dari luar negeri, brunch di Indonesia lebih cocok disebut gaya hidup. Lihat saja, kini tidak jarang ditemukan sekelompok orang duduk bersantap brunch bersama teman atau keluarga lengkap dengan kehadiran baby sitter.

Sementara itu, sebagai negara pengusung, Amerika Serikat (AS) telah menjadikan brunch sebuah tradisi. Mengadaptasi budaya AS, brunch di The Coffee Bean & Tea Leaf dilaksanakan setiap hari. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan konsumen.

"Selain menu utama kopi dan teh, di sini disediakan makanan yang disajikan cepat dengan kualitas tinggi, sehat, dan praktis. Sesuai target oriented, yaitu usia 20-35 tahun," papar Marketing Executive PT Trans CoffeeArio Saloko. Misalkan, saat di rumah belum sempat sarapan tapi sudah harus menghadiri meeting, bisa memesan menu breakfast tanpa ketinggalan meeting.

Namun, konsumen yang dirangkul tidak sebatas usia tersebut, mulai anak-anak sampai usia lanjut turut menjadi perhatian. Sebab, saat akhir pekan bukan hanya konsumen tertentu yang dibidik, melainkan keluarga. Untuk menjangkau semua konsumen, tersedia menu ice blended yang bisa dinikmati segala usia.

"Produk ice blended memang bukan difokuskan pada usia anak-anak. Ice blended bisa menjadi pilihan bagi mereka yang tidak menggemari kopi," tutur Ario.

Berbeda dengan gerai kopi asal Amerika itu, hotel berbintang turut menyelenggarakan brunch dengan membidik keluarga dalam melewatkan akhir pekan.

"Brunch merupakan salah satu cara untuk bersosialisasi saat akhir pekan. Sebab, pada hari libur orang lebih fleksibel menghabiskan waktu, dibandingkan hari kerja yang cenderung terburu-buru. Jam yang nanggung juga menjadi pilihan tepat bagi mereka yang tidak sempat sarapan," ungkap Communications Executive Hotel Shangri-La Yuska Lutfi Tuanakotta mengungkapkan alasan mengenai pemilihan brunch dilaksanakan hanya hari Minggu.

Menikmati brunch seolah menjadi pilihan tepat yang bertujuan mereduksi kepenatan bekerja. Selain itu, pemilihan Minggu merupakan hari yang pas untuk berkumpulnya seluruh keluarga. Orangtua dan anak-anak pasti sangat menikmati hari Minggu yang diisi dengan kegiatan menyenangkan.

"Konsep inilah yang ingin dikenalkan brunch. Banyak orangtua ingin menikmati akhir pekan bersama anak-anaknya, tetapi tidak membuat si anak bosan," tutur Public Relation Officer Hotel Borobudur Evi Rumondang.

Masing-masing hotel mempunyai kegiatan yang mengasah kreativitas anak. Beragam aktivitas seperti permainan mandi bola, football, karambol, basket mini, atraksi badut tersedia di sana. Orangtua tidak perlu mencemaskan keamanan buah hati karena tersedia tenaga profesional untuk membimbing mereka dalam bermain dan beraktivitas.

"Anak-anak dapat bermain dengan beragam jenis permainan dan dibimbing event organizer (EO) sehingga orangtua dapat menikmati hidangan dengan nyaman. Brunch didesain untuk hari khusus keluarga," imbuh Evi.

Fenomena brunch merupakan hal yang wajar, khususnya bagi kaum metropolitan Jakarta. Menurut pandangan sosiolog dari Universitas Indonesia Ricardi Adnan, melewatkan Minggu siang bersama keluarga sangat dibutuhkan karena masyarakat urban membutuhkan rekreasi setelah rutinitas pekerjaan.

"Kecenderungan masyarakat perkotaan memiliki tingkat stres yang tinggi sehingga kebutuhan menurunkan ketegangan sangat diperlukan agar terjadi keseimbangan hidup," ujar pria yang akrab disapa Ricky ini.

Mengibaratkan tubuh layaknya komputer yang harus di-refresh ulang setiap selesai bekerja. Terkait pemilihan tempat di dalam kota lebih menekankan alasan keefisienan waktu serta meminimalisasi ongkos liburan. Bila dihitung-hitung secara matematis, pemilihan lokasi di luar kota membutuhkan biaya tidak sedikit, waktu lebih panjang, dan harus berjuang melewati kemacetan lalu lintas. Tak ayal, kondisi yang terjadi adalah energi sudah habis terkuras. Kecuali, bila mempunyai waktu libur yang panjang, perjalanan ke luar kota pun dapat dilakukan.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini