nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jatuh Bangun Komik Indonesia

sindo, Jurnalis · Minggu 13 April 2008 17:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2008 04 13 29 100127 zinj4htUDM.jpg Foto:Ist

BERMULA, berjaya, dan tenggelam. Komik Indonesia dan sejarahnya bereskalasi di Gedung Centre Cultural Francais (CCF), Salemba Raya, Jakarta.

Perjalanan panjang komik Indonesia dimulai sejak 1931. Kala itu, Kho Wang Gie (alias Sopoiku) menorehkan coretan seninya melalui komik strip Put On di surat kabar Sin Po hingga media itu tenggelam pada 1960.

Langkah itu diikuti Nasroen AS yang menerbitkan Mentjari Puteri Hidjau di surat kabar mingguan Ratu Timur Solo. Dari situ lantas komikus pionir seperti Abdulsalam, RA Kosasih, John Lo, dan Deisy Sjamsumar mulai menunjukkan eksistensinya.

Kebanyakan tema yang dibidik adalah kisah patriotisme perlawanan terhadap Belanda, tema-tema perjuangan, kepahlawanan, termasuk cerita pewayangan seperti Mahabarata dan Ramayana.

Perubahan tema secara signifikan mulai tampak pada era 1960-an. Keberagaman topik tergali salah satunya oleh komik filsafat Batas Firdaus karya Taguan Hardjo, gubahan dongeng Puteri Melur (The Sleeping Beauty) karya Jan Mintaraga, genre roman Senja Terakhir dari Simon Iskandar, serta genre cerita rakyat Dewi Krakatau oleh Zam Nuldyn.

Era itu pula yang memunculkan Si Buta dari Gua Hantu guratan Ganes Th yang sempat difilmkan. Begitu pula komik Jaka Sembung, tokoh rekaan yang begitu populernya hingga dipercaya sebagai mitos, bahkan pernah eksis dalam sejarah rakyat Indonesia.

Hadir pula menyemarakkan dunia komik di Indonesia, Hans Jaladara dengan Panji Tengkorak yang sempat dilukis ulang medio 1984 dan 1996. Menjelang 1980-an, Dwi Koen memulai komik strip Panji Koming yang muncul di surat kabar Kompas. Komik tersebut memuat kritikan terhadap pemerintah dan kondisi sosial melalui cara yang kocak.

Pemerintah Indonesia pun sempat menerbitkan Merebut Kota Perjuangan (Serangan Umum 1 Maret 1949) pada 1983. Tahun 1987, Misurind yang sebelumnya banyak menerjemahkan komik asing kembali memulai penerbitan komik Indonesia full colour yang didukung oleh Teguh Santosa, Wid NS, Hasmi, dan Jan Mintaraga.

Pada era 1990-an, banyak studio komik lahir di Bandung, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain di Indonesia. Salah satunya adalah Qomic Nusantara (QN) yang menerbitkan antihero Caroq karya Thoriq, Peong, dan Hilman. Juga Kapten Bandung besutan Pidi, Anto Motulz, dan Ivan.

Atas prakarsa Dirjen Kebudayaan Edi Sedyawati, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sempat menggelar Sayembara Komik Nasional sejak tahun 1993 hingga 1997.

Kegiatan Pekan Komik dan Animasi (PKAN) pertama pada 1998 di Gedung Pameran dan Seni Rupa Depdikbud Jakarta mencetuskan 12 Februari sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional.

Tak putus di situ, beberapa penerbit lokal mulai melihat ceruk bisnis di ladang komik. Penerbit M&C, Elex Media, KPG, hingga Mizan mulai menggarap tema lokal. Benny dan Mice adalah salah satu yang populer lewat serial Lagak Jakarta.

Untuk pertama kali pula, Indonesia mengikuti ajang internasional 24 Hours Comic Day (24HCD) 2006 yang berlangsung serentak di seluruh dunia. Penggemar dan kreator komik juga menunjukkan eksistensinya lewat media on-line seperti komikindonesia.com. Begitu pula terobosan teknologi M-Komik sehingga membaca komik dapat dilakukan melalui ponsel.

Sayangnya, gempuran komik dari Jepang (manga) yang membanjiri pasar membuat komik lokal kehilangan tajinya. Pengarang Jaka Sembung, Djair Warni, menyebut bahwa sangat susah untuk mencari ikon yang dapat mencerminkan kebudayaan bangsa.

"Komik Indonesia seharusnya bercerita tentang kebudayaan kita. Baik keindahan alam, budaya, termasuk mitos dan legenda, maupun tema-tema sosial berupa kritik terhadap pemerintah. Tidak peduli siapa pembuatnya, yang penting memberikan solusi terhadap masalah yang dilontarkan," tutur Djair.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini