nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesona Kain Songket Tradisional

Chaerunnisa, Jurnalis · Kamis 17 April 2008 18:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2008 04 17 29 101578 50swpuXNzn.jpg Foto : Eko Purwanto/ Sindo

TENUN songket merupakan produk budaya yang sangat berharga dan tertuang pada sehelai kain, serta memiliki martabat tinggi dari masa ke masa. Hal ini disebabkan dalam motif songket terkandung ajaran tentang adat istiadat, falsafah hidup, serta gambaran nilai-nilai kehidupan.

Menurut Sativa Sutan Aswar, seorang ahli tekstil dan pengembang kain tradisi Sumatera Barat di bawah naungan Rumah Songket, di dalam kain tradisional tersirat doa yang ditorehkan dalam gambar.

"Kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah biasanya bisa dibedakan melalui karakter masing-masing daerah, bukan dari warna, bahan baku, ataupun komposisi. Jadi filosofi itu yang tidak boleh ditinggalkan untuk menjadi identitas diri. Karena dari nenek moyang kita terdahulu telah mengucapkan doa yang direpresentasikan dalam sebuah kain," kata Sativa saat ditemui okezone dalam acara press conference "Dara Fashion Performing Art" di JCC, belum lama ini.

Menurutnya, budaya dipegang teguh agar harkat martabat kita tidak hilang. Sebab budaya mengajarkan tentang nilai-nilai hidup, norma-norma, dan aturan hidup.

Meski demikian, lanjut Sativa, umumnya orang awam lebih menilai bahwa kain tenun songket tak lebih dari sebuah kain tenun tradisional dan hanya cocok dikenakan pada upacara-upacara adat. Sehingga kain tenun songket lebih dikenal sebagai pakaian adat dan tidak cocok dikenakan sebagai busana kontemporer.

"Seperti Thailand, mereka tidak mungkin menggunakan pakaian dari negara lain, atau India tidak mungkin pakai kain selain sari. Sebab sari merupakan kebudayaan negaranya. Padahal Indonesia dari sabang sampai merauke mempunyai kekayaan berupa kain yang begitu menarik, salah satunya songket. Ragamnya yang bervariatif sebenarnya bisa dibuat menjadi pakaian, souvenir, atau pelengkap tatanan interior. Tapi orang Indonesia masih belum ada kesadaran untuk memanfaatkan kain tradisional," jelas wanita keturunan dari Sumatera Barat itu.

Ditambahkan olehnya, kain tenun songket sebagai produk budaya dapat disulap menjadi busana kontemporer tradisional Indonesia yang tak kalah bagus dan prestigious dibanding dengan busana-busana kelas dunia.

Menurutnya, kondisi ini bisa terwujud bila ada inovasi dalam proses desain dan tenun. Sehingga produk kain tenun songket juga bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat yang ada. Dengan sendirinya, busana tersebut akan cocok dikenakan dalam segala suasana.

"Sebenarnya kain tradisional itu tidak hanya dapat dikenakan oleh orangtua saja, tapi juga kaum muda. Jadi jangan hanya dibuat menjadi kebaya, tapi juga dapat menjadi sebuah baju. Dipotong-potong juga tidak apa-apa, yang penting orang tahu bahwa kain ini bisa menjadi busana untuk segala suasana," imbuhnya.

Sativa menambahkan, inovasi dalam proses desain dan tenun itu memang sedang berjalan dan dipelopori oleh Rumah Songket. Gagasan untuk membangkitkan kembali atau revitalisasi kain tenun songket itu datang langsung dari Ibu Mufidah Jusuf Kalla, yang sebelum menjadi Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Istri Wakil Presiden Yusuf Kalla tersebut telah terus menerus membicarakan tentang pengembangan produk tenun kain songket dari Sumatra Barat ini.

"Ibu Yusuf Kalla sebagai Ketua Dekranas yang mengaungkan kain tradisional. Saya membantu Dekranas ke daerah-daerah (propinsi-propinsi) untuk bisa mengajak pengrajin mulai berkarya lagi. Bantuan yang kami berikan kepada pengrajin berupa kail (kreativitas) agar selamanya mereka bisa survive," bebernya.

Upaya yang dilakukan Sativa ini dimaksudkan untuk tidak sekadar melestarikan kekayaan warisan leluhur agar tidak punah ditelan waktu, tetapi lebih jauh ditujukan untuk menjadikan kain tenun songket sebagai produk kebanggaan bangsa yang memiliki prestis di dunia internasional.

"Kalau kita pakai pakaian adat sendiri, maka pengrajin akan hidup kembali. Coba kita tengok orang Jepang yang teknologi dan modernisasinya luar biasa, tapi tradisinya masih dipegang. Nilai-nilai kebudayaan masih diterapkan. Karena itu, kita harus kembali mensosialisasikan kain tradisional agar masyarakat pengrajin bisa bekerja lagi," pungkasnya.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini