Share

Plus-Minus Pola Asuh Kakek-Nenek

Mom& Kiddie, Jurnalis · Rabu 28 Mei 2008 12:10 WIB
https: img.okezone.com content 2008 05 28 196 113203 JHZrg4tZyb.jpg Foto: Corbis

SANG BUNDA harus kembali bekerja. Sementara babysitter belum dapat. Lalu siapa yang akan mengasuh si kecil? Kakek-nenek salah satu solusinya. Nah, apa saja kelebihan dan kekurangan pola asuh yang dilakukan pasangan sepuh ini?

Nisa langsung memasang wajah garang, ketika melihat putranya Nabil masih menonton televisi, padahal sudah waktunya tidur malam. "Dibolehin sama Nenek kok," begitu alasannya enteng, saat Nisa menanyakan kenapa belum tidur. Nabil sebenarnya tahu kalau Mamanya tidak senang bila mengetahui dia masih nonton televisi saat jadwalnya tidur malam. Tapi dia pun mengerti, Mamanya tidak akan mengomel ketika tahu sang Nenek yang memberikan izin.

Baca Juga: Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Solusi PowerEdge Gen 15 Server

Follow Berita Okezone di Google News

Plus: Penuh Kasih & Sangat Berpengalaman

Menurut Theresia Ceti Prameswari Psi, psikolog dari LPTUI, mempercayakan pengasuhan si kecil kepada kakek-nenek (grandparenting), di satu sisi memang menguntungkan. Kakek-nenek menjadi salah satu sumber bantuan, dukungan, dan dorongan. Mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan jika cucunya tidak enak badan, tidak mau makan, tidak bersendawa, menangis, dan sebagainya. Masalah kasih sayang juga tak diragukan lagi. Mereka dengan sepenuh hati akan memberikan yang terbaik bagi cucunya.

Minus: Permisif

Namun, kadang campur tangan kakek-nenek dalam pengasuhan anak, sering melanggar peraturan yang orangtua terapkan untuk mendisiplinkan anak.

Orang tua memang dituntut untuk menjadi pengasuh dan pendidik utama anak. Namun, ketika kakek-nenek harus ikut berperan dalam pengasuhan anak, pola asuh yang diterapkan biasanya cenderung permisif (lebih banyak memberikan keleluasaan kepada si anak untuk melakukan apa yang dikehendaki dan mendapatkan apa yang diinginkan).

Prinsip Sama, Zaman Berbeda

Menurut wanita kelahiran Jakarta, 27 September 1975 ini, pola asuh itu sifatnya prinsipil. Artinya, tidak ada pola asuh yang salah, sebab tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Hanya, cara mengasuhnya saja yang terkadang keliru.

Dalam hal keinginan untuk mendisiplinkan anak, orangtua zaman dulu dan jaman sekarang relatif sama. Namun karena pengalaman hidup yang dialami, kakek-nenek menjadi tidak tega kepada cucunya. Misalnya, ketika melihat cucunya seperti tidak mempunyai waktu bermain, karena sibuk les ini dan itu.

Maka, karena kakek nenek merasa berhasil menerapkan pola asuh kepada anaknya dan memberikan pengaruh yang positif, besar kemungkinan hal itu diterapkan kembali. Kadang-kadang mereka tidak memperhitungkan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan zaman dahulu. Kakek nenek merasa cara A lebih efektif, sementara orangtua memandang bahwa untuk kondisi saat ini cara B lebih baik.

Yang perlu disadari, dari tahun ke tahun, zaman ke zaman, gaya hidup akan berubah seiring dengan pergerseran nilai, kebutuhan dan harapan. "Jika hal ini dikomunikasikan, didiskusikan secara baik-baik, rasanya tidak akan ada konflik yang berarti dalam hal pengasuhan anak, antara kakek nenek dan orangtua," alasnya.

Kemandirian Anak

Lanjut Ceti, perbedaan pola asuh antara orangtua dan kakek-nenek, baik langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada kemandirian anak. Misalnya, anak akan menjadi kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas hariannya seperti makan, mandi, atau kurang mandiri dalam menyelesaikan masalah.

Dan yang menjadi masalah, ketika nenek tidak mengizinkan si cucu makan sendiri. Alasannya, anak masih kecil, akan berlepotan, berantakan, dan sebagainya. Jika sikap ini terus dilakukan, akan menyebabkan penerapan disiplin yang sudah diterapkan, menjadi tidak konsisten.

Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan si anak memiliki kecenderungan negatif. Bisa jadi si anak akan membantah perintah orangtua dengan berlindung pada kakek dan neneknya. Selain itu kemampuan anak dalam mengekspresikan emosinya juga terkadang menjadi kurang tepat, misalnya mudah merengek, merajuk, serta kurang percaya diri.

Nenek atau kakek biasanya kurang tegas dan kurang dapat menolak permintaan cucunya. Kalau mereka terlalu memanjakan si anak maka pola asuh yang sudah ada akan membuat si anak bingung. "Oleh karena itu orangtua seharusnya memiliki keberanian untuk berbicara dengan kakek-nenek mengenai permasalahan pola asuh yang tepat," tandasnya.

Kompromi dan Komunikasi

Biasanya kakek-nenek tidak tega kalau cucunya dilarang ini-itu. Sementara orangtua ingin menegakkan disiplin. Perbedaan semacam ini menurut Ceti, hendaknya dapat dikompromikan melalui diskusi antara anak dengan orangtua, yang kini sudah sama-sama menjadi orangtua. Pada saat membahas mengenai pola asuh anak, sebaiknya kakek-nenek juga diajak berdiskusi serta dilakukan kesepakatan yang baik antara mereka.

Ceti menyarankan, pertama-tama beri pengertian mengenai tahapan perkembangan anak kepada mereka. Sebagai pasangan yang sudah mempunyai pola asuh untuk anak-anaknya, mereka perlu diingatkan kembali akan tahap perkembangan anak sesuai usianya. Hal ini penting agar kakek-nenek juga mengerti apa yang harus mereka lakukan.

Hal-hal yang dapat dikompromikan misalnya penerapan disiplin yang bertujuan untuk melatih kemandirian. Kakek-nenek dalam hal ini bertugas untuk mengawasi saja. Misalnya kakek atau nenek bertugas untuk mengajarkan hal-hal yang religius, mengantar jemput sekolah, mengawasi makan, tetapi untuk urusan mengerjakan PR tidak boleh turut campur.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini