Pedofilia Ancam Tumbuh Kembang Anak

Chaerunnisa, Jurnalis · Selasa 04 November 2008 17:49 WIB
https: img.okezone.com content 2008 11 04 196 160700 nA7ArRNYBX.jpg Foto : Corbis

KASUS pernikahan di bawah umur yang dilakukan oleh seorang pengusaha Pujiono Cahyo Widiono atau Syekh Puji terhadap Lutfiana Ulfa (12 tahun) beberapa waktu lalu marak dibicarakan berbagai kalangan. Nada miring pun mengarah pada Syekh Puji, benarkah dia seorang pedofilia?

Menurut Dr Widodo Judarwanto SpA, kekerasan dan kejahatan seksual sering dilakukan oleh penderita dewasa yang mengalami kelainan seksual. Kelainan seksual itu merupakan cara yang ditempuh seseorang untuk mendapat kenikmatan seksual dengan jalan tidak wajar, yaitu menggunakan objek seks yang tak lazim.

"Salah satu bentuk kelainan seksual yang ada di masyarakat adalah parafilia. Parafilia merupakan gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan desakan serta praktik seksual yang kuat, yang biasanya berulang kali dan menakutkan bagi seseorang," ungkap Dr Widodo.

Dr Widodo menambahkan, kategori parafilia utama dalam DSM-IV adalah ekshibisionisme, fetihisme, frotteurisme, pedofilia, masokisme seksual, sadismeseksual, veyourisme, fetihisme transvestik, dan suatu kategori terpisah untuk parafilia lain yang tidak ditentukan. Pedofilia merupakan salah satu jenis parafilia yang lebih sering terjadi.

Meskipun kasusnya cenderung meningkat, sampai saat ini belum ada data yang akurat tentang angka kejadian penderita yang mengalami gangguan tersebut. "Adanya prostitusi terhadap anak-anak di beberapa negara dan maraknya penjualan materi-materi pornografi tentang anak-anak, menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan seksual terhadap anak tidak sedikit. Anak yang sedang tumbuh dan berkembang akan menjadi korban baik secara psikis dan fisik," paparnya.

Pedofilia terdiri dari dua suku kata, pedo (anak) dan filia (cinta). "Pedofilia adalah kelainan seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Orang dengan pedofilia umurnya harus di atas 16 tahun baik pria maupun wanita. Sedangkan anak-anak yang menjadi korban berumur 13 tahun atau lebih muda (anak pre-pubertas). Dikatakan pedofilia jika seseorang memiliki kecenderungan impuls seks terhadap anak dan fantasi maupun kelainan seks tersebut mengganggu si anak," ucap dokter dari Children Allergy Clinic dan Picky Eaters Clinic ini.

Para pelaku pedofilia seringkali menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama dewasa atau adanya ketakutan wanita untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa. Kebanyakan penderita pedofilia menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.

Anak-anak yang terlibat dalam pedofilia, dua hingga tiga di antaranya, bersifat kooperatif dalam aktivitas seksual terhadap orang dewasa karena perasaan takut dibanding ketertarikan terhadap seks itu sendiri.

"Aktivitas seks yang dilakukan oleh penderita pedofilia sangat bervariasi, mulai dari menelanjangi anak, memamerkan tubuh mereka pada anak, melakukan masturbasi dengan anak, dan bersenggama dengan anak. Jenis aktivitas seksual lain yang dilakukan juga bervariasi, termasuk stimulasi oral pada anak, penetrasi pada mulut anak, vagina atau anus dengan jari, benda asing, atau alat kelamin laki-laki," jelasnya.

Orang dengan pedofilia seringkali merasionalisasikan dan beralasan bahwa perilakunya mendidik anak-anak tersebut juga mendapat kepuasan seksual, atau anak-anak itu sendiri yang menggoda.

Korban dari penganiayaan seks biasanya diancam untuk tidak membeberkan rahasia. Seringkali orang dengan pedofilia sebelumnya melakukan pendekatan terhadap anak, seperti melibatkan diri dengan wanita yang memiliki anak-anak, menyediakan rumah yang terbuka pada anak-anak dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan, kesetiaan, maupun kasih sayang anak tersebut, sehingga dapat menjamin rahasia atas tindakannya.

Anak korban pedofilia, lanjut Dr Widodo, secara jangka pendek maupun panjang dapat mengalami gangguan fisik dan mental. Saat melakukan hubungan kelamin pun seringkali masih belum sempurna karena organ vital dan perkembangan hormonal pada anak belum sesempurna orang dewasa. Belum lagi bahaya penularan penyakit kelamin maupun HIV dan AIDS, karena penderita pedofilia kerap disertai gonta-ganti pasangan atau korban.

"Beberapa penelitian menunjukkan perempuan yang menikah di bawah umur 20 tahun berisiko terkena kanker leher rahim. Pada usia anak atau remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker," terangnya.

Usia anak yang sedang tumbuh dan berkembang seharusnya memerlukan stimulasi asah, asih, dan asuh yang berkualitas dan berkesinambungan. Bila periode anak mendapatkan trauma sebagai korban pedofilia, perkembangan moral, jiwa, dan mentalnya akan terganggu.

Bila kejadian tersebut disertai paksaan dan kekerasan, masih menurut Dr Widodo, maka tingkat trauma yang ditimbulkan lebih berat. Trauma psikis tersebut sampai usia dewasa akan sulit dihilangkan. Dalam keadaan tertentu yang cukup berat bahkan dapat menimbulkan gangguan kejiwaan dan berbagai kelainan patologis lainnya yang tidak ringan.

"Dalam keadaan ini pendekatan terapi sejak dini mungkin harus segera dilakukan. Secara sosial, baik lingkungan keluarga atau kehidupan anak kadang merasa diasingkan dengan anak sebaya dan sepermainan. Beban ini dapat memberat trauma yang sudah ada sebelumnya," tandasnya.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini