nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Homoseksual, Bagian dari Identitas Diri

Dewi Arta, Jurnalis · Selasa 11 November 2008 16:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2008 11 11 197 162967 BgEqcQjssa.jpg Foto : Corbis

HOMOSEKSUAL sering dianggap sebagai perilaku sesama jenis yang hadir dari gangguan orientasi seksual seseorang. Perilaku seksual ini biasanya dikategorikan antara gay (sesama lelaki) atau lesbi (sesama wanita). Bahkan beberapa kalangan menyebut mereka sebagai 'orientasi yang menyimpang'.

Namun kini perilaku seksual ini tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa atau sebuah penyimpangan seksual. Mengenai hal itu dr Lukas Mangindaan, SpKJ, Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membenarkannya.

"Homoseksualitas kini tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa atau penyimpangan seksual. Penghapusan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa merupakan keputusan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada 17 Mei 1990 dan keputusan Departemen Kesehatan Indonesia yang dicantumkan dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi II tahun 1983," kata dr Lukas saat berbicara dalam seminar nasional Seksualitas yang Ditabukan: Tantangan Keberagamaan di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2008).

Lebih lanjut dr Lukas menuturkan, baik homoseksualitas, biseksualitas, atau heteroseksualitas kini dikategorikan sebagai bagian dari identitas atau ciri khas seseorang.

"Sesuatu yang berbeda tidak secara otomatis berarti 'lebih baik' atau 'lebih buruk' dan kita juga perlu melihat pelbagai jenis identitas diri orang sebagai bagian dari keberagaman manusia, jadi kita perlu bersikap pluralistik tanpa harus bersikap apriori atau disertai dengan perasaan emosional tertentu. Justru yang diperlukan adalah sikap berempati," paparnya.

Kendati homoseksualitas tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa, tapi masih banyak kalangan homoseksualitas yang merasa menderita karena tekanan batin dengan perkataan orang lain. Padahal bila dilihat lebih dalam lagi ada beberapa faktor yang memengaruhi perilaku seorang homoseksual. Antara lain:

Pola asuh keluarga

Seberapa jauh keluarga berempati (menerima jati diri sebagaimana adanya) ataukah bersikap homofobik terhadap anak atau anggota keluarga yang homoseksual, juga seberapa jauh keluarga menanamkan nilai-nilai positif atau negatif yang berkaitan dengan homoseksualitas kepada anaknya.

Lingkungan masyarakat

Seberapa jauh sikap homofobia ada dalam masyarakat atau tokoh masyarakat termasuk juga dalam peraturan atau undang-undang pemerintah.

Faktor individu

Seberapa jauh orang homoseksual menginternalisasi (menelan bulat-bulat tanpa berpikir kritis) konsep homofobia dari masyarakat, sehingga timbul rasa penderitaan (distress) dalam dirinya.

Faktor terapis atau konselor

Seberapa jauh terapis atau konselor masih menganggap homoseksualitas sebagai gangguan jiwa atau seberapa jauh terapis berpaham "heteroseksisme", yaitu anggapan bahwa heteroseksualitas adalah "lebih superior" atau "lebih baik" dari homoseksualitas.

Nah agar Anda tidak bermasalah dengan identitas diri seseorang, sambung dr Lukas, sebaiknya memiliki sifat empati. Yaitu mengerti, menghayati, dan menempati diri seseorang di tempat orang lain. Sehingga dengan sikap ini tidak menghakimi, menyalahkan, membenarkan, menyetujui atau tidak menyetujui perbuatan orang lain. Atau dengan kata lain menerima orang lain sebagaimana adanya.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini