Share

Menghentikan Kebiasaan Jajan pada Anak

Fitri Yulianti, Jurnalis · Kamis 07 Mei 2009 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2009 05 07 196 217413 AQ3242SE3b.jpg Foto : corbis

PAGI ini Anda merasa aman karena sudah memberi uang jajan untuk si buah hati selama di sekolah. Tapi, tahukah Anda penganan apa yang akan dibelinya? Hati-hati, tanpa sadar Anda telah menggiringnya punya kebiasaan jajan.

Orangtua sering beralasan memberi uang jajan karena tak punya cukup waktu menyiapkan sarapan. Padahal, sarapan penting untuk persiapan asupan energi anak selama menyerap pelajaran dan beraktivitas di sekolah. Sebab aktivitas tersebut akan menguras banyak energi dan pikirannya.

"Kalau si anak terakhir makan pas makan malam, itu sudah sekitar 12 jam lalu. Asupan energi yang ada di tubuhnya sudah sangat sedikit sehingga tidak maksimal untuk bisa dipakai beraktivitas. Energi bertahan di dalam tubuh sekitar delapan hingga sepuluh jam setelah dicerna. Selepas itu, tubuh butuh asupan energi baru," jelas dr Fiastuti Witjaksono MS, SpGK, Spesialis Gizi Kinik FKUI/RSCM saat ditemui okezone di Melt Wine & Dine Gedung BRI 2-Center Park, Jakarta, baru-baru ini.

Dengan sarapan, lanjut dr Fiastuti, anak bisa lebih konsentrasi sehingga mudah menyerap pelajaran. Manfaat sarapan lainnya adalah mencegah anak jajan makanan kurang sehat (kurang higienis, pengawet, pewarna). "Seorang anak yang sarapan tidak mudah tergoda untuk jajan di sekolah," tutur Pengurus PDGKI (Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia) ini saat ditemui di tempat yang sama.

Sementara Mayke S Tedjasaputra, psikolog dan play therapist Klinik Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia memaparkan, jajan merupakan suatu habit atau kebiasaan yang dibentuk dari hasil belajar, baik oleh keluarga inti maupun lingkungan. Karena merupakan hasil belajar, kebiasaan jajan bisa dimodifikasi; dikurangi ataupun dihilangkan.

"Alasan anak-anak jajan biasanya karena meniru teman, â€~membeli' teman agar bisa diterima lingkungan pergaulan, kadangkala untuk melawan orangtua di mana semakin dilarang semakin dilawan, sebagian menganggap jajan merupakan pengalaman menyenangkan," tutur konsultan di Klinik Tumbuh Kembang KANCIL ini.

Mayke memaparkan beberapa penyebab kebiasaan jajan pada anak. Pertama, karakteristik anak; ada anak yang sedari kecil memang sulit makan dan cenderung hanya suka kudapan, mudah tergoda oleh bujukan, sulit mengikuti sesuatu yang rutin, ataupun tidak mudah diajak kerja sama. Karakteristik ini terbentuk akibat pengaruh kontak awal orangtua dengan anak dalam kegiatan makan sejak mereka berusia dini.

"Anak harus melihat kegiatan makan adalah sesuatu yang menyenangkan. Banyak data mengatakan, selepas ASI ekslusif, anak-anak diperkenalkan pada makanan padat. Sayangnya, orangtua kerap memaksa anak untuk mau makan. Padahal, mereka butuh adaptasi, dari sebelumnya ASI menjadi makanan padat. Hal itu yang kemudian menyebabkan pola hubungan anak dan orangtua buruk," papar Anggota International Society for Social and Behavioral Development (ISSBD) ini.

Ada baiknya orangtua memberi jadwal jajan dan membuat kudapan tandingan yang lebih enak, sekaligus dengan tampilan yang menarik perhatiannya.

Kedua, pola makan keluarga di mana ada keluarga yang tanpa sadar terbiasa jajan hingga akhirnya merusak pola makan yang sudah terbentuk rapi. Ketiga, tetangga, terutama bagi keluarga yang rumahnya saling berdempetan. Saat anak melihat tetangganya jajan, dia cenderung tergoda minta jajan. Keempat, sekolah. Dan kelima, iklan.

Lantas, bagaimana mengatasinya? Ada dua upaya, meliputi preventif dan kuratif. Upaya preventif antara lain sejak kecil, kenalkan anak pola makan sehat, tata cara makan, dan makna makan di mana orangtua menjadi "model peran". Sementara upaya kuratifnya adalah membuat penganan dan mempersiapkan meja makan bersama anak serta mengenalkan anak pada berbagai penganan.

"Harus ada penanangan menyeluruh dari banyak pihak untuk mengurangi, jika mungkin menghilangkan kebiasaan jajan anak. Kebiasaan jajan hanya bisa diatasi jika ada kerja sama antara orangtua dan anak. Dari sudut psikologis, bagaimana pola hubungan orangtua dan anak," tutup psikolog lulusan Course on Theraplay, Institute of Theraplay Chicago ini.

dr Fiastuti menyodorkan contoh menu sehat untuk anak sesuai kebutuhan kalorinya, berikut ini:

Sarapan: roti, telur rebus, lettuce, tomat, timun, saus tomat, susu

Cemilan: buah potong

Makan siang: nasi, tim ikan, sup kacang merah-wortel, buah

Cemilan: agar-agar susu + saus buah

Makan nalam: nasi, sup ayam-sayur-kacang polong, buah

Cemilan: susu

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini