nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penggumpalan Darah dan Risikonya

Koran SI, Jurnalis · Senin 06 Juli 2009 11:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2009 07 06 27 235933

VTE atau penggumpalan darah di vena merupakan penyakit kardiovaskular paling umum ketiga setelah jantung dan stroke. Tanpa pencegahan tepat, penyakit ini berisiko kematian.

Jantung, darah, dan paru-paru merupakan tiga unsur penting dalam sistem sirkulasi tubuh manusia. Setiap hari tanpa henti, jantung memompa oksigen dan nutrisi melalui darah ke seluruh tubuh (sistemik). Dalam sehari, jantung berdetak 100 ribu kali atau memompa sekitar 2.000 galon darah.

Darah berperan penting dalam mengangkut oksigen dari paru-paru dan membuang sisa pernapasan keluar dari jaringan tubuh.Kita mengenal tiga tipe pembuluh darah, yakni pembuluh arteri, kapiler, dan vena. Arteri berfungsi mengangkut oksigen melalui darah dari jantung ke seluruh jaringan tubuh. Sementara, kapiler yang kecil dan tipis berfungsi sebagai penghubung arteri dengan vena.

Adapun pembuluh vena berfungsi menyalurkan darah yang berisi bahan sisa kembali ke jantung untuk dikeluarkan dari tubuh. Bagian atas vena membawa darah dari tangan dan kepala menuju jantung. Sementara bagian bawah membawa darah dari bagian perut dan kaki menuju jantung. Sistem vena pada tungkai bawah juga memiliki katup untuk melawan faktor gravitasi sehingga darah dapat mengalir kembali ke atas, yakni dari kaki ke jantung.

Terkait gangguan pembuluh darah dan jantung (kardiovaskular), penggumpalan darah pada pembuluh vena (Venous Thromboembolism/ VTE) merupakan penyakit yang kerap terjadi. Kondisi ini disebabkan adanya trombus (bekuan darah) yang lepas, lalu melayang dalam aliran darah, lantas tersangkut atau menyumbat aliran darah.

Tersumbatnya aliran darah akibat adanya bekuan darah ini dikenal dengan sebutan trombosis. Jika sumbatan terjadi pada vena bagian dalam, terjadilah DVT (Deep Vein Thrombosis), yang biasanya mengenai bagian kaki atau tungkai. Kemungkinan kedua adalah gumpalan darah yang pecah dan serpihannya menyangkut di paru-paru sehingga menyebabkan emboli paru (Pulmonary Embolism).

Menurut spesialis jantung dan kardiovaskular dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, Dr RWM Kaligis MD, VTE merupakan penyakit kardiovaskular paling umum ketiga setelah penyakit jantung dan stroke. Tanpa pencegahan atau penanganan tepat, baik DVT maupun emboli paru sama-sama mengancam jiwa.

"Penyakit ini biasanya tidak disadari karena awalnya bisa tanpa gejala atau asimtomatik," sebutnya dalam acara kelas jurnalis yang diselenggarakan Bayer Schering Pharma di Jakarta, baru-baru ini.

Kejadian VTE mengintai populasi besar manusia, dengan angka kematian mencapai 1 juta orang per tahun. Di Eropa misalnya, jumlah kematian akibat gumpalan darah pada pembuluh vena, bahkan lebih besar dibandingkan kematian akibat kanker payudara, kanker prostat, HIV/AIDS dan kecelakaan lalu lintas, yakni berkisar 544.000 per tahun.

Gumpalan atau bekuan darah memegang peran kunci dalam hal ini. Sejatinya gumpalan darah dibutuhkan untuk menyumbat manakala terdapat kerusakan pada pembuluh darah. Namun, apabila proses pembentukan gumpalan darah terpicu dengan tidak tepat, hal ini dapat menimbulkan penggumpalan darah yang berakibat fatal. Orang dengan peningkatan kecenderungan gumpalan darah (hiperkoagulabilitas) juga berisiko lebih tinggi terkena DVT. "Contohnya darah pada penderita kanker biasanya lebih mudah membeku," imbuhnya.

Kendati demikian, kecenderungan darah seseorang yang mudah menggumpal bukan satu-satunya pemicu. Kaligis mengemukakan, terjadinya DVT ditentukan oleh tiga hal, yaitu perlambatan aliran darah, kerusakan dinding pembuluh darah, serta hiperkoagulabilitas. Adapun beberapa faktor risiko yang perlu diperhatikan adalah usia lanjut, kurang gerak, fraktur, dan kelumpuhan.

Selain itu, pasien yang menjalani bedah ortopedi mayor, terutama pembedahan penggantian sendi pinggul (total hip replacement/ THR) atau sendi lutut total (total knee replacement/TKR), berisiko tinggi mengalami penggumpalan darah karena terjadi kerusakan pada pembuluh darah jantung dan kurang gerak. Diperkirakan 40-60 persen pasien yang telah menjalani bedah ortopedik mayor akan mengalami pembekuan darah jika tidak mendapat tindakan pencegahan.

Kendati demikian, spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialis Knee, Shoulder and Orthopedic Sports Medicine dari FKUI-RSCM Jakarta, Dr dr Andri Maruli Tua Lubis SpOT, menegaskan bahwa bedah ortopedi itu aman dan orang tidak perlu takut menjalaninya. Terlebih bagi pasien yang kerusakan pada tulang lutut atau pinggulnya sudah parah, prosedur penggantian lutut atau pinggul memang harus dilakukan agar kualitas hidup pasien menjadi lebih baik.

Kabar baik pun datang dari dunia obat-obatan profilaksis (pencegahan infeksi dengan obat). Bahwasanya risiko VTE pada pasien pasca THR ataupun TKR dapat dicegah, yakni dengan meresepkan tromboprofilaksis (obat anti penggumpalan darah) untuk dikonsumsi pasien hingga beberapa hari pascaoperasi.

Salah satu generasi terbaru terapi oral anti-penggumpalan darah yang tersedia saat ini adalah Ri-varoxaban dari Bayer Schering Pharma. Berdasarkan penelitian klinis, terapi dengan dosis satu tablet per hari ini terbukti menurunkan risiko relatif VTE total sebesar 70 persen setelah penggunaan selama 35 hari serta mengurangi tingkat perdarahan.

"Operasi TKR ataupun THR itu pada dasarnya aman,tapi bisa lebih aman lagi dengan pemberian profilaksis," tandas Andri.

(tty)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini