nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengatasi Anak Berbohong

Koran SI, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2009 12:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 08 06 196 245553 paRAX6ElAy.jpg Foto: Corbis

SIAPA pun itu, pasti pernah berbohong tanpa pandang usia. Malah, si kecil pun bisa melakukannya. Lantas, bagaimana mengatasi kebiasaan buruk tersebut?

Yadi (10) terpaksa menjawab akan bermain di rumah Toni (10), ketika ibunya bertanya dia akan ke mana.  Padahal, sebenarnya Yadi tidak bermain ke rumah tetangganya itu, malah berencana berenang di kolam renang kompleks mereka tinggal.

Berenang di tempat itu, sama sekali dilarang ibunya, kecuali bersama ibu ataupun ayahnya. Mengaku ingin bermain bersama Toni bukan alasan satu-satunya yang diberikan Yadi kepada ibunya. Dia juga sering mengatakan ingin belajar bersama di rumah teman-teman lainnya. Padahal, semua alasan yang diberikannya itu tidak satu pun yang benar.

Sebab, ujung-ujungnya adalah pergi ke kolam renang. Berbohong agar keinginannya tercapai sering sekali dilakukan Yadi. Bukan hanya Yadi, banyak bocah lain juga berbohong kepada orangtuanya agar permintaan mereka terkabul.

Dengan kata lain, setiap orang pernah berbohong. Bahkan di Amerika Serikat, pernah diadakan penelitian yang hasilnya mengungkapkan bahwa semua orang berbohong sebanyak tiga belas kali seminggu. Hal menarik dari hasil penelitian itu adalah bahwa anak belajar dusta secara alamiah. Oleh karena itu, anak-anak sudah dapat berbohong, dan itu tidak didasarkan atas peniruan pada orang dewasa, ataupun dari hasil belajar. Namun, hal itu timbul dengan sendirinya.

Anak berbohong untuk menghindari gangguan atau aturan yang mengikat dirinya. Seperti yang dilakukan Yadi kepada orangtuanya. Lalu, apa yang membuat kebohongan Yadi muncul? Ternyata alasannya sangat sederhana. Itu karena dia tidak ingin diganggu aktivitasnya, yaitu bermain.

Dengan berbohong seperti itu, ibu mendapat jawaban yang melegakan, dan tidak akan mengusik kegiatan berenangnya yang mengasyikkan. Masalah yang dibohongkan anak bermacam ragam,dan itu seakan- akan benar, tidak kelihatan mengelabui. Akibatnya, orangtua sering terkena kebohongan anak.

Oleh sebab itu, kebohongan pada buah hati harus diwaspadai, karena dapat merugikan diri anak sendiri juga orang lain. Para psikolog sepakat, seorang anak mulai berbohong sejak berusia tiga tahun. Sekitar 90 persen di antara anak yang diteliti Ekman ternyata sudah pintar berbohong, sedangkan yang 10 persen dalam proses belajar berbohong, atau masih mengalami masalah karena belum berani berbohong.

Pada anak-anak, menurut Arnold Goldberg, seorang psikolog dari Rush Medical College, Chicago, berbohong merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kemampuan dalam upaya mengidentifikasi kenyataan sekitarnya. Sementara itu, Paul Ekman dalam bukunya yang berjudul Why Kids Lie, menyatakan keberanian akan berbohong merupakan pertanda munculnya keberanian menafsirkan kenyataan yang ada di sekitarnya, yang pada gilirannya merupakan awal kemandirian.

Keberanian yang dilakukan Yadi dengan membohongi ibunya menunjukkan kebenaran pendapat kedua psikolog itu. Yadi yang berbohong kepada ibunya itu ingin mandiri, ingin mengurus setiap tugasnya, serta kegiatan bermainnya, tanpa bantuan atau pengaruh ibunya. Hal ini menunjukkan pula, Yadi dapat mengidentifikasikan tanggung jawabnya. Pendapat psikiater berbeda dengan pendapat para psikolog.

Menurut psikiater Bryan King dari UCLA School of Medicine yang pernah meneliti kebohongan akibat kelainan patologis, menyatakan bahwa berbohong merupakan perilaku yang melebihi batas-batas kejahatan, tetapi pelakunya tidak harus berbuat dan tidak berbakat bertindak kriminal. Tidak sampai di situ saja, King menemukan kelainan neurologis pada otak anak yang suka berbohong. Pada bagian gudang memori terjadi gangguan yang mengakibatkan hilangnya sejumlah data.

Pada bagian lain, anak akan mengalami kelemahan pada pusat berpikir kritisnya, yang berfungsi untuk mengevaluasi setiap informasi yang masuk ke otak. Kerusakan neurologis ini akan mengakibatkan hilangnya sensitivitas pada akurasi yang membuat seseorang (pembohong) tidak lagi tahu mana yang bohong dan mana yang tidak bohong (benar).

Akhirnya, King berkesimpulan bahwa kebohongan merupakan pasangan tetap beberapa kelainan jiwa. Semua kebohongan dikategorikan sebagai kebohongan yang destruktif, merusak. Artinya, kebohongan itu akhirnya akan menyulitkan sang pembohong sendiri atau menyusahkan orang lain. Menghadapi dua pendapat yang berbeda itu, meskipun berasal dari para ahli jiwa, orangtua hendaknya waspada pada kebohongan anak.

Pada satu sisi, menurut psikiater, kebohongan sangat berbahaya karena mengganggu otak. Melihat kenyataan seperti ini, orangtua harus hati-hati dan bijaksana. Sebab, jika anak berhasil berbohong akan merasakan enak dan begitu mudahnya menghadapi masalah yang memojokkan sekalipun. Akibatnya, anak akan berusaha terus berbuat itu jika menghadapi konflik.

Akibat selanjutnya,anak akan meremehkan orang lain. Menghadapi anak yang gemar berbohong, Anda sebagai orangtua harus berani menelusuri pernyataan (bohong) itu,yaitu dengan memeriksa atau bertanya kepada teman-temannya, kegiatan apa yang mereka lakukan ketika bersama-sama. Dengan cara ini, dia tidak akan banyak berbohong lagi, bahkan sikapnya akan memperlihatkan pernyataannya tadi adalah bohong.

"Pemantauan dan penelusuran pada kebohongan anak perlu dilakukan sedini mungkin, karena pada masa remaja, kebohongan pada masa kanak-kanak mulai mencari bentuknya, sehingga kebohongan masa kanak-kanak akan berkembang terus sampai dewasa," kata psikolog anak alumni Universitas Indonesia (UI), Dr Widjanarko Hidayat.

Lebih lanjut ditambahkan Widjanarko, meskipun kebohongan itu untuk berbasa-basi, pada masa dewasa,kebohongan ini juga akan terbentuk kebohongan yang jahat.

Seperti yang dikatakan Dr Michael Lewis, psikolog dari Rutgers Medical School, berbohong pada usia remaja, ketika dewasa, sudah mulai berfungsi untuk kejahatan, seperti untuk menghindari hukuman dan berupaya membenarkan setiap tindakan yang salah.

Orangtua harus bertindak agar kebiasaan anak dalam berbohong bisa berhenti, yakni dengan membongkar bahwa alasan yang diberikan tidak benar. Jika sudah sangat sering dibohongi, orangtua berhak menghukum anak yang telah berbohong tersebut, untuk mendapatkan efek jera.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini