nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polusi Jakarta Makin Membahayakan

Koran SI, Jurnalis · Selasa 15 September 2009 10:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2009 09 15 27 257551 rz8VrdP5qH.jpg Foto: Corbis

KONDISI air, udara serta pangan yang bersih dan bebas bahan pencemar dapat membuat tubuh kita tetap sehat. Namun, mungkinkah hal ini dapat terwujud dalam kondisi polusi yang buruk seperti halnya di Jakarta?

Baru sebulan bekerja di Jakarta, Sofyan, 27, memutuskan untuk berhenti dan kembali ke kampung halamannya di Godean, Yogyakarta. Alumnus Universitas Gadjah Mada ini mengaku tidak tahan dengan cuaca panas sekaligus polusi asap kendaraan yang kerap membuat dadanya sesak.

"Paling terasa kalau pada siang hari sehabis dari luar kantor lalu langsung masuk ruangan kantor yang ber- AC. Rasanya sesak," tuturnya.

Pria yang kini bekerja pada sebuah bank swasta di Kota Pelajar itu sebelumnya memang sempat terdiagnosis menderita bronchitis. Kotornya udara Jakarta disinyalir menjadi pemicu gejala sesak napasnya sering kambuh.

"Buktinya setelah saya kembali ke Yogyakarta,keluhan sesak itu tidak pernah muncul, malah sembuh," tukasnya.

Pengalaman tak jauh berbeda dialami Dr Ir Firdaus Ali MSc. Pakar lingkungan yang pernah menimba ilmu selama sepuluh tahun di Amerika ini pernah merasakan sendiri kontrasnya kondisi udara di Jakarta dengan beberapa kota di Amerika yang pernah ditinggalinya seperti Boston dan Chicago.

Firdaus yang berdomisili di kawasan Tanjung Barat Jakarta ini berkisah, sebelum berangkat ke Amerika pada 1992, dirinya mengalami radang tenggorokan setidaknya setiap 2 bulan sekali. Akibatnya, ia harus rutin mengunjungi dokter dan mengonsumsi antibiotik.

"Untuk keperluan melanjutkan studi, saya lantas tinggal di Amerika pada 1992-2002. Selama sepuluh tahun di sana, radang tenggorokan saya tidak pernah kambuh sekali pun!" kenang staf pengajar di Universitas Indonesia (UI) Jakarta itu.

Sayangnya, masa-masa melegakan tanpa gangguan radang tenggorokan itu segera berakhir manakala Firdaus dan keluarganya harus kembali ke Jakarta pada Juni 2002.

"Akhir Juli 2002, keluhan radang tenggorokan yang sudah sepuluh tahun tidak saya rasakan kembali muncul. Begitu cepatnya," kata Firdaus yang lantas rajin mengonsumsi vitamin C dosis tinggi (1000 mg) per hari untuk memperkuat daya tahan tubuhnya.

"Saat ini, empat bulan sekali saya masih suka terserang radang tenggorokan. Selain asupan vitamin C dan menghindari paparan bahan pencemar, saya juga melakukan olahraga seperti berenang, jogging atau lari di atas treadmill," beber ayah empat putra-putri itu.

Sudah bukan kabar baru lagi bahwasanya polusi udara di Jakarta memang dalam taraf mengkhawatirkan. World Bank bahkan menempatkan ibu kota Indonesia tercinta ini sebagai salah satu kota dengan kadar polutan tertinggi setelah Beijing, New Delhi, dan Mexico City.

"Ada banyak sumber pencemar di Jakarta seperti limbah industri dan rumah tangga. Namun, hampir 90 persen pencemar berasal dari transportasi. Hal ini juga sebagai dampak dari kemacetan di Jakarta yang terbilang parah," kata Firdaus saat berbicara dalam diskusi media "Polusi Jakarta Ancaman Serius Terhadap Kesehatan" di Jakarta, Kamis (10/9).

Pajanan bahan pencemar (polutan) udara dapat mengenai bagian tubuh mana pun dan tidak terbatas pada partikel yang terhirup (inhalable) ke saluran napas saja. Sebagai contoh, pengaruh polutan udara dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mata.

Ukuran atau besarnya partikel polutan juga menentukan lokasi anatomis terjadinya deposit polutan dan efeknya terhadap jaringan sekitar. Adapun yang dikategorikan bahan pencemar misalnya bahan kimia beracun, mikroba (bakteri, virus, parasit, jamur), partikel mikro (PM) dari berbagai macam bahan, serta bahan radiasi.

"Bahan pencemar dengan partikel mikro 10 (PM 10) paling berbahaya. Ukurannya kira-kira 1/7 rambut manusia. Sangat kecil sehingga bisa masuk alveoli paru (ujung paru), dan setelah terserap bisa masuk ke aliran darah. Sumbernya bisa dari amoniak, debu, gas," ungkap Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Prof Dr Umar Fahmi Achmadi MPH PhD.

Pencemaran lingkungan tak hanya dari polusi udara semata, melainkan juga pencemaran air dan pangan (rantai makanan). Menurut Umar, kondisi ketiga hal tersebut akan memengaruhi baikburuknya status kesehatan seseorang.

Dan kenyataannya, ketiganya sering bercampur dan sulit dipisah-pisahkan. Sebagai gambaran, bahan pencemar yang melayang-layang di udara bisa mengendap di tanah atau langsung mencemari makanan atau air, dan airnya itu sendiri lantas digunakan untuk mengolah makanan. Umar mengemukakan, bahan-bahan pencemar dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui sistem pernapasan,pencernaan maupun kontak kulit saat membersihkan badan.

Dampaknya bisa beragam, tergantung besarnya pajanan (dosis dan lamanya pajanan). Selain itu, faktor kerentanan individu juga turut berpengaruh. Misalnya, efek buruk lebih mudah terjadi pada anak kecil serta penderita penyakit tertentu (penyakit jantung, saluran napas, gangguan pembuluh darah, diabetes).

Mereka yang terpapar bahan pencemar bisa mengalami gejala beragam dan tidak spesifik. Misalnya pusing, iritasi (mata, hidung, tenggorokan), radang saluran napas bagian atas,tekanan darah meningkat, pandangan kabur, gatal-gatal alergi, hingga diare.

"Gejalanya acapkali tidak khas sehingga kerap dianggap penyakit tanpa sebab yang jelas. Padahal, semuanya itu bisa jadi bersumber dari pencemaran yang dampaknya memang sangat luas. Merokok juga termasuk proses mencemari diri sendiri," sebut Umar.

Sementara itu, staf Departemen Paru Divisi Asma dan Penyakit Paru Obstruksi Kronik RS Persahabatan Jakarta, Dr Budhi Antariksa PhD SpP, mengungkapkan, paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat menyebabkan kemunculan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK). Penyakit kronis ini biasanya ditandai tiga gejala utama, yaitu sesak napas, batuk berdahak, dan batuk menahun.

"PPOK awalnya bisa jadi dikarenakan kebiasaan merokok yang lantas diperberat oleh polusi udara," ujar dokter yang juga berpraktik di RS Royal Taruma Jakarta.

Selain PPOK, polusi juga bisa memperberat penyakit asma. Budhi mencontohkan seorang pasien asma yang tinggal di Jakarta mengaku berkurang keluhan asmanya setelah pindah ke Sawangan di kawasan Depok yang kadar polusi udaranya relatif lebih rendah. Adapun untuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), polusi udara memang dapat memancing peradangan, terlebih pada musim pancaroba di mana kejadian batuk-pilek sedang merebak.

"Sebagai penyeimbang, dianjurkan makan-makanan yang mengandung antioksidan, misalnya buah-buahan berwarna merah seperti tomat dan wortel," pungkasnya.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini