nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Negeri 5 Menara, Terinspirasi Pesantren Modern

Dewi Arta, Jurnalis · Rabu 21 Oktober 2009 18:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 10 21 29 267946 lSxq4QuLxx.jpg Foto: Dewi Arta

MAN JADDA WAJADA, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Mantra bahasa Arab yang sederhana namun ampuh ini, mungkin sudah tergerus dari pikiran masyarakat Indonesia selaras perkembangan zaman.

Meski begitu, novelis A Fuadi mencoba mengangkat tema sentral itu dalam novel berjudul Negeri 5 Menara. Novel ini juga menjadi bukti untuk tidak pernah meremehkan impian setinggi pun, karena sungguh Tuhan maha mendengar.

"Negeri 5 Menara merupakan novel yang terinspirasi kisah nyata, perjuangan enam anak yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Menuntut ilmu di pondok pesantren modern di pelosok Jawa Timur menggapai mimpi-mimpi mereka, menaklukkan menara-menara dunia. Novel ini mengupas hidup di balik tembok sebuah pesantren yang penuh teka teki," ungkap A Fuadi saat peluncuran novel Negeri 5 Menara di Gramedia Lt II East Mall, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2009).

"Kisah inspiratif ini dikemas dengan bumbu yang lengkap, perjuangan hidup dan persahabatan enam anak yang berasal dari Medan, Maninjau, Bandung, Madura, Surabaya, dan Gowa. Tentang impian, semangat, kenakalan, dan keluguan, bahkan romansa mereka serta kedisiplinan yang ditegakkan di sekolah dan keikhlasan para guru dalam berbagai ilmu serta eksotisme internasional," lanjutnya.

Kehidupan santri di sebuah pondok pesantren memang menginpirasi Fuadi untuk menulis novel Negeri 5 Menara.

"Saya sangat terinspirasi oleh pendidikan di pesantren modern Gontor dan guru-guru saya yang ikhlas. Semoga juga pembaca mendapat inspirasi dari kisah di novel ini." tulis mantan reporter Majalah Tempo dan VOA itu dalam siaran persnya.

Man Jadda Wa Jadda, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Dari maknanya, orang banyak mengonotasikan sebagai ajaran agama tertentu, yaitu Islam. Namun ternyata, novel cetakan ketiga ini mampu dicerna oleh nonmuslim sekali pun.

"Buku ini tidak membatasi bagi yang nonmuslim. Negeri lima menara memiliki branding tersendiri. Yang pertama, menceritakan kehidupan di balik tembok pesantren. Kedua, ada nilai-nilai keIndonesiaan dari tokohnya. Kita boleh gagal, tapi ini menceritakan tentang seseorang yang tidak boleh berhenti bermimppi," ucap Rosiana Silalahi, bintang tamu acara tersebut.

"Saya suka halaman 50 dan 51, pondok Madani berusaha membuat orang jadi pintar dan spiritual. Buat saya, filosofi ini luar biasa," sambung mantan Pimpinan Redaksi SCTV itu.

Novel soft cover yang bergambar jam London, Monas, dan Masjid ini terdiri atas 420 halaman. Jika membeli novel ini, maka Anda dapat sambil beramal. Sebab, dengan harga dibanderol Rp50 ribu setiap Rp1.000 disumbangkan untuk korban gempa Padang yang terjadi 30 September lalu.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini