Tanamkan Sifat Jujur Melalui Perilaku Orangtua

sindo, Jurnalis · Sabtu 28 November 2009 14:28 WIB
https: img.okezone.com content 2009 11 28 196 279880 16kD7SbHac.jpg Foto: Ist.

MENANAMKAN sifat jujur kepada anak ternyata sangat dipengaruhi perilaku sehari-hari kedua orangtuanya. Artinya, anak-anak akan meniru perbuatan dan perilaku kedua orangtuanya. Karena itu, sebaiknya berikan contoh yang baik kepada anak.

Guru dari sekolah nasional Plus bidang Early Childhood Educational Program (ECEP) Silvi SV Andrianti mengatakan, kejujuran itu seperti air. Setiap hari kita pasti perlu air untuk memenuhi segala kebutuhan dan kegiatan seperti makan, minum, mandi, mencuci, memasak.

"Jadi, sama halnya dengan air, bahwa kejujuran itu bukanlah menjadi suatu keharusan tapi kebutuhan seseorang," tandas guru yang akrab disapa Ms Chipy ini.

Chipy menuturkan, dapat dibayangkan jika kita tidak minum air satu hari saja, pastilah menjadi haus. Selain itu, dengan banyak mengonsumsi air maka kotoran atau racun di dalam tubuh bisa dihilangkan melalui air seni.

"Berkata jujur sama saja dengan memelihara kesehatan jiwa agar akal, pikiran, dan hati kita tetap terjaga," tutur guru yang sudah mengajar sejak 1998 ini.

Ditambahkan olehnya, anak-anak adalah produk dari orang tua, orangtualah yang membentuk sifat dan sikap seorang anak. Itu semua dimulai dari dalam kandungan pada saat anak masih dalam bentuk segumpal darah dan daging kecil atau mulai umur 0 bulan.

"Jadi selain persamaan ~genetik', sifat dasar anak juga merupakan tanggung jawab orangtua," tutur guru yang juga menjadi trainer and education consultan di Early Step, Kebagusan, Jagakarsa ini.

Kejujuran yang dilakukan anak, ujar Chipy, terkadang diekspresikan lewat sifat polosnya. Kepolosan seorang anak kecil dalam mengungkapkan sesuatu adalah karena mereka masih mempunyai perbendaharaan kata yang terbatas.

"Tugas orangtua adalah memperluas wawasan anak dalam berkata kata. Dan, hargailah sikap jujur anak dan harus dijaga agar jangan sampai tercemar,"pesannya.

Selanjutnya, orangtua juga membiasakan untuk mengatakan semua masalah atau kejadian pada anak, dan tentunya dengan bahasa atau kalimat yang bisa dimengerti. Misalnya seperti "Hari ini mama akan pulang telat karena harus belanja dulu" atau "Papa sama mama harus pergi menghadiri acara pernikahan, jadi kalian di rumah saja".

"Pernyataan tersebut merupakan suatu alasan yang membuat si anak tidak bisa berargumentasi atau protes lagi.  Jadi, berlakulah jujur jika ingin anak-anak kita berkata jujur," ucap guru kelahiran 8 September 1975 ini.

Menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak adalah lebih banyak berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan sederhana, seperti kejadian apa hari ini, atau apa yang mereka kerjakan.

"Dari situ dapat terlihat, adakah kebohongan yang dikatakan. Intinya adalah komunikasi dua arah yang selalu dibangun antara orangtua dan anak," papar guru yang pernah mengajar di sekolah Highscope Jakarta ini.

Dia juga menambahkan, jika anak-anak sudah bicara jujur, janganlah orangtua mengungkit kebohongan yang pernah dikatakan si kecil. Dia juga mengatakan, menanamkan sifat jujur kepada anak bisa dilakukan dengan menonton film Pinocchio.

"Film tersebut punya pesan agar tidak berbohong karena dampaknya berbahaya. Saat menonton film tersebut, sebaiknya orangtua mendampingi anak-anak agar mereka dapat penjelasan tentang pesan film tersebut," paparnya.

Sementara itu, konselor dan Kepala Lembaga Pelayanan Psikologi dari Universitas Krida Wacana (LPP Ukrida) Clara Moningka SPsi MSi mengatakan, saat anak-anak diajarkan sesuatu dengan cara menyenangkan, mereka lebih cepat menyerap pesan yang ingin disampaikan.

"Dengan cara menyenangkan, anak-anak akan lebih mudah menyerap pendidikan formal atau moral dan mereka akan ingat hingga dewasa," ucapnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini