Image

Asah Kreativitas Anak Down Syndrome

Koran SI, Jurnalis · Rabu 03 Maret 2010, 10:17 WIB
https img z.okeinfo.net content 2010 03 03 196 308604 UsrZtULnMd.jpg Anak yang memiliki keterbelakangan mental atau down syndrome seharusnya diperlakukan sama dengan anak normal lainnya. (Foto: Google)

ANAK yang memiliki keterbelakangan mental atau down syndrome seharusnya diperlakukan sama dengan anak normal lainnya. Jika diberi kesempatan, mereka bisa percaya diri dan berprestasi.
 

Aryanti Rosihan Yacub mungkin tidak menyangka bahwa anak bungsunya yang kini berusia 20 tahun, Michael Rosihan Yacub, menderita down syndrome. Padahal, saat lahir dia tampak sehat dan normal seperti anak-anak lainnya. Kedatangannya ke dunia pun disambut dengan sukacita seluruh keluarga.

 

Namun, kelainan itu mulai tampak saat Michael beranjak usia satu tahun. Dokter memvonis bahwa Michael menderita down syndrome. Bak petir di siang bolong, tentu saja Aryanti kaget. ”Dia termasuk down syndrome ringan, jadi tidak terlihat secara kasatmata selama satu tahun itu,” ceritanya.

 

Apalagi, Michael juga tidak menderita kelainan tubuh apa pun yang biasanya menyertai anak dengan kelebihan kromosom ini. Seperti kelainan jantung, usus, dan lainnya. Seperti ibu-ibu lainnya yang anaknya menderita kelainan, Aryanti sempat terpukul dengan kenyataan pahit yang menghinggapi anaknya itu.

 

Dia tentu saja terus memikirkan masa depan buah hatinya itu. Terlebih pandangan sinis, cemoohan, dan olokan dari orang-orang sekitar saat bertemu Michael, yang membuat hatinya makin miris. ”Makin sakit saat banyak yang menghindar saat berpapasan dengan Michael. Dipikirnya saya bawa anak yang memiliki penyakit yang menular,” ucap Aryanti.

 

Karena itu, dia tidak heran banyak orangtua yang justru mengucilkan dan menjauhkan anak down syndrome dari lingkungannya karena takut malu. Namun, lambat laun dengan dukungan dan motivasi dari keluarga dan teman terdekat, Aryanti mulai bangkit. Dia tidak mau kesedihannya itu malah menjadi batu sandungan buat anaknya untuk maju dan berkembang. ”Ini sudah jalannya Tuhan. Jadi, saya bersyukur saja dan terus mendukung anak saya,” katanya.

 

Bahkan, Aryanti malah bertambah cinta dan kasih sayang kepada anaknya itu. Dia merasa Tuhan selalu memberikan umatnya sesuatu yang indah. Kalaupun satu keluarga diberi anak dengan mental terbelakang, berarti keluarga tersebut merupakan pilihan Tuhan yang terbaik untuk mengasuh anak tersebut.

 

”Jangan terbuai lama-lama dengan kesedihan. Tabahkan hati, lihat ke depan, karena anak ini perlu segera dibantu. Jalannya memang panjang, tetapi tetap konsisten bahwa mereka pasti bisa. Mereka juga bernilai bagi keluarga dan bangsa,” tegasnya.

 

Dedikasi dia terhadap penyandang down syndrome pun disalurkan dengan mendirikan Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI) pada 21 April 1999. Aryanti langsung ditunjuk sebagai ketua. Tujuannya tidak lain adalah mengubah nasib anak-anak tersebut. Dalam wadah ini, mereka diberi pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan penyandang down syndrome agar dapat berkembang dan mandiri di hari depan.

 

”Kita angkat harkat dan martabat mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kita juga ingin menunjukkan kalau mereka kita olah dan tangani sedini mungkin, kecerdasannya akan hampir sama dengan anak-anak yang normal,” tandasnya. Kini, anggota ISDI telah mencapai 120 anak. Aryanti mengharapkan seluruh elemen masyarakat agar memperhatikan dan memberikan kesempatan kepada penderita down syndrome untuk meningkatkan kreativitas dan kemandiriannya. Jangan selamanya dipasung dan dikebiri.

 

Orangtua, kata dia, merupakan faktor penting agar para anak dengan keterbelakangan mental ini bisa terus maju dan berkembang. Kenyataannya, mereka dapat menghasilkan prestasi terbaik di bidang seni, keterampilan, ataupun olahraga juga. ”Walaupun kendalanya banyak. Namun, jangan dijadikan momok. Buktinya mereka ada yang menang olimpiade,” ungkap Aryanti.

 

Melly Kiong, seorang pemerhati anak dan pendiri Rumah Moral, mengatakan jangan lagi menyebut anak down syndrome dengan sampah masyarakat. Mereka, lanjut dia, dapat menjadi ”mutiara bangsa” jika kita dapat mengasah dan membinanya dengan baik.

 

”Mereka tidak seburuk dugaan orang. Kita ingin mengajak peran semua orang, baik orangtuanya maupun guru sebagai pendidik mereka, juga lingkungan agar melibatkan dan mengajari mereka ‘memancing’, bukan memberikan ‘ikan’,” katanya.

 

Artinya, saat di rumah, ajari anak sikap-sikap yang menunjukkan kemandirian. Bebaskan dan lepaskan dia melakukan hal apa pun, namun tetap dengan pengawasan penuh. ”Biarkan mereka mandi sendiri, makan sendiri, ajarkan memasak, dan hal-hal sederhana lainnya yang berguna buat kehidupannya kelak,” ujar Melly, yang juga penulis buku ”Cara Kreatif Mendidik Anak” ini.

 

Di Rumah Moral dan ISDI, anak-anak yang disebut Melly sebagai anak berkebutuhan khusus ini dilatih keterampilan dengan membuat kerajinan tangan atau mainan yang nantinya dijual ke masyarakat umum. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan mereka sendiri.

 

”Waktu itu mereka buat jepit rambut dan laku 200.000 buah. Hasilnya, mereka bisa membeli 10 sepeda. Ini kan bermanfaat buat mereka untuk pergi ke sekolah. Pokoknya, kita tanamkan kepada mereka kalau jangan hanya berpangku tangan, tetapi harus mau bekerja dan berjuang untuk mendapatkan sesuatu,” katanya. Hal ini tentu saja memberikan pelajaran besar bagi anak-anak normal lainnya, bahwa anak yang memiliki keterbelakangan mental saja bisa berbuat sesuatu.

 

”Ini penanaman mental berjuang yang sangat luar biasa buat anak-anak normal dan orang lainnya untuk tetap semangat mengejar cita-cita, karena sekarang banyak yang merasa itu mulai luntur,” tandas Melly.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini