10 Langkah Seni Mendengar

Koran SI, Jurnalis · Kamis 25 Maret 2010 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2010 03 25 198 315995 7HY4LBkGcR.jpg Dengan mendengar, seseorang bisa membangun hubungan berkualitas. (Foto: Google)

DI dunia yang semakin berputar cepat, teknologi yang semakin tinggi, dan tingkat stres yang semakin melonjak, komunikasi dan mendengarkan orang lain sering kali menjadi hal yang langka.
 

Padahal, dengan mendengarkan, setiap orang bisa membangun sebuah hubungan yang berkulaitas, mampu memecahkan masalah, menciptakan saling pengertian, dan menciptakan akurasi informasi yang tinggi.

 

Dalam dunia kerja, mendengarkan dengan baik bisa berarti meminimalkan kesalahan dan menghindarkan pelakunya dari menghambur-hamburkan waktu. Sementara di rumah, keahlian ini bisa menciptakan kualitas hubungan yang baik dengan pasangan dan anak. Singkat kata, mendengarkan dengan baik bisa menciptakan sebuah hubungan pertemanan, karier yang baik, dan akhirnya menghasilkan pendapatan dan menyelamatkan rumah tangga.

 

Seperti apakah seni mendengar yang baik tersebut, berikut beberapa tip yang diungkap Dianne Schilling, penulis sekaligus konsultan training di bidang bisnis dan industri, seperti dikutip dari Womensmedia.

 

Kontak mata

 

Berapa persen konsentrasi Anda mendengar saat Anda ada orang lain yang berbicara kepada Anda? Kontak mata antara komunikator (orang yang berkomunikasi) dan komunikan mampu meningkatkan efektivitas komunikasi. Dengan kontak mata, keinginan untuk menjalin kemunikasi yang lebih baik akan tetap terjaga. Karena itulah, singkirkan segala hal yang bisa mengganggu kontak mata, seperti buku atau ponsel. Walaupun lawan bicara tak mau melihat Anda dengan alasan malu atau karena kondisi lain, tetaplah menatap matanya agar Anda tetap bisa fokus kepadanya.

 

Perhatikan

 

Tapi tetap rileks. Jika kontak mata telah dilakukan, tetaplah rileks. Anda tak harus selalu menatap matanya. Cobalah sesekali alihkan pandangan, yang terpenting Anda tak kehilangan fokus terhadap perkataan lawan bicara. Sebab, secara mental manusia sering terdistraksi terhadap aktivitas di sekitar area pembicaraan dan juga suara yang mengganggu. Jangan pula sibuk memikirkan aksen lawan bicara atau terganggu dengan pikiran-pikiran dan perasaan Anda sendiri.

 

Tetap berpikir terbuka

 

Dengarkan perkataan lawan bicara tanpa harus menghakimi perkataannya. Jika perkataannya menyinggung atau membuat Anda tersentak, silakan saja namun jangan mengatakan pada diri sendiri bahwa Anda merasakan hal itu. Karena, jika Anda melakukannya, maka perhatian dan efektivitas Anda sebagai pendengar akan terganggu. Yang juga penting, dengarkan perkataan lawan bicara dan jangan memotong perkataannya. Ingatlah bahwa ia bicara dengan pikiran dan perasaan yang ada di dirinya. Jadi, Anda tak akan pernah tahu apa yang ada di pikiran dan isi hatinya jika Anda tidak benar-benar mendengarkan.

 

Dengarkan kata-katanya

 

Ciptakan gambarannya di kepala Anda. Biarkan pikiran Anda menciptakan gambaran terhadap perkataan lawan bicara. Gambaran tersebut bisa berupa sebuah model atau kata-kata kunci yang bisa mempermudah Anda mengingat sekaligus fokus pada inti dari perkataan tersebut. Satu hal lagi, jika Anda sedang mendapat giliran untuk mendengarkan, jangan sibuk memikirkan apa yang harus Anda katakan nanti saat Anda mendapat giliran berbicara. Anda tak bisa melakukannya bersamaan. Lebih baik konsentrasi mendengarkan perkataan lawan bicara. Jika Anda bosan dengan perkataannya, tarik napas dan coba konsentrasi ulang.

 

Jangan menyela dan jangan memaksakan

 

Solusi menyela atau menginterupsi saat orang sedang berbicara, selain kurang beretika, juga akan mengaburkan pesan yang akan disampaikan lawan bicara Anda. Sebuah interupsi juga bisa menyiratkan bahwa Anda menganggap perkataan Anda lebih penting dari apa yang dikatakan lawan bicara. Interupsi juga bisa menyiratkan bahwa perkataan Anda lebih menarik dan lebih akurat dibanding perkataannya, Anda tak peduli dengan perkataannya, Anda tak punya waktu untuk mendengarnya, atau jika ini adalah masalah perdebatan, maka Anda berusaha untuk bisa memenangkan perdebatan tersebut. Semua orang tentu memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dan Anda harus bisa sedikit rileks dan bersabar untuk mendengarkan pesan yang disampaikan seseorang secara utuh dan jelas.

 

Tunggu saat yang tepat untuk bertanya

 

Jika Anda tak mengerti perkataan lawan bicara, tunggu ia selesai menerangkan satu hal dulu sebelum mengajukan pertanyaan. Ini akan lebih baik daripada Anda menyelanya di tengah-tengah pembicaraan.

 

Bertanya saat yang tepat untuk bertanya

 

Sering kali ada lawan bicara yang sedang menceritakan suatu hal, namun tiba-tiba orang yang diajaknya bicara menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pembicaraan sebelumnya. Jangan sampai Anda melakukan hal tersebut karena selain tidak beretika juga bisa menciptakan perasaan tak nyaman kepada lawan bicara. Kalaupun Anda terpaksa mengalihkan pembicaraan, lakukan sejenak, kemudian mengajaknya kembali membicarakan topik yang sebelumnya sedang diceritakan.

 

Berempati terhadap lawan bicara

 

Jika ia merasa sedih cobalah rasakan kepedihan tersebut, begitu pula saat ia sedang senang. Intinya, berusaha berempati atau memahami perasaan lawan bicara adalah inti dari sebuah seni mendengarkan yang baik. Untuk bisa melakukan empati dengan baik, cobalah untuk menempatkan diri Anda sebagai dirinya, seperti apakah rasanya jika Anda berada dalam posisinya. Jika Anda berhasil melakukannya, maka Anda akan mampu mengucapkan kata-kata yang bisa mengena di hatinya.

 

Berikan umpan balik

 

Ucapkan satu dua patah kata untuk menunjukkan empati Anda kepadanya. Ini untuk menunjukkan bahwa Anda mendengar dan memahami apa yang diceritakannya.

 

Perhatikan bahasa nonverbal

 

Bahasa nonverbal sering kali berkata lebih banyak dari kata-kata yang terucap. Lewat tatapan mata, ekspresi wajah, sampai gerakan bahu dan tangan bisa menunjukkan perasaan terdalam dari lawan bicara. Bahkan, jika komunikasi dilakukan lewat telepon, desahan napas, nada bicara, helaan napas, sampai suara tawa atau tangis bisa dijadikan tanda-tanda tentang perasaan sesungguhnya dari lawan bicara.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini