Image

'Logic & Emotion' Dian Adriani

Tuty Ocktaviany, Jurnalis · Kamis 08 April 2010, 12:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2010 04 08 194 320506 X8cmRsKr8t.jpg Model Zenk Lotta menutup acara pergelaran busana karya Dian Adriani (Foto: Fariz/Genie)

KEKUATAN konstruksi dan modernisasi gaya menjadi kata kunci dari busana siap pakai eksklusif Dian Adriani. Lewat ajang pergelaran busana tunggal perdana, desainer muda ini menawarkan koleksi apik bertema ”Logic & Emotion”.

Busana siap pakai memang sedang menjadi primadona. Tidak hanya memberikan keuntungan bisnis semata, namun di sinilah kreativitas tanpa batas menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap perancang.

Salah satu desainer yang melirik peluang ini adalah Dian Adriani. Dengan menonjolkan kekuatan konstruksi, modernisasi gaya, dan tidak mengandalkan dekorasi ”cling-cling” (seperti payet, manis, dan kristal), wanita yang kerap disapa Dian ini mencoba menawarkan koleksi yang berbeda dari hasil karya desainer senior dengan label ADRIANI.

”Saya senang berada di tengah teman-teman generasi baru yang mau maju bersama untuk membuat breakthrought, terobosan,” kata Dian mengawali perbincangan dengan okezone, sebelum peragaan busana tunggal di Ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Rabu (7/4/2010) malam.

Menurut Dian, pilihannya pada rancangan busana siap pakai berangkat dari pemikiran untuk memberi rasa nyaman bagi kaum wanita urban kota besar dalam berpakaian di tengah kesibukannya sepanjang hari.

”Busana siap pakai itu menarik karena effortless. Sekali pakai baju, tidak rumit, kita langsung berangkat. Saya tidak suka dibalut busana yang rumit, seperti korset misalnya,” jelas Dian yang mengaku sering mengunjungi situs okezone.com ini.

Lewat tema rancangan ”Logic & Emotion”, wanita cantik yang menggali ilmu desain mode dan tekstil di L’Institut Superieus des Arts Apliquees (LISAA), Paris, 2001-2004, ini berupaya menerjemahkan dari sudut pandang mendalam yang ditangkapnya pada wanita modern Indonesia saat ini. Menurutnya, mereka mampu mengorganisasi seluruh emosinya di tengah kesibukan beraktivitas, baik pekerjaan rumah tangga, maupun di luar rumah.

”Wanita bagaikan memiliki arsitek, pengontrol, penjadwal waktu dan penyaring di dalam pikirannya. Semua itu memerlukan keteraturan dan kekuatan logika. Namun di saat yang sama wanita memilih curahan emosi, yang merupakan unsur yang tidak memiliki takaran,” katanya setengah berfilosofi.

Di mata Dian, wanita memiliki keahlian untuk tetap bersikap logis, meski emosi sedang berkecamuk. Kontradiksi itulah yang membuka kotak kreativitasnya dalam menyiapkan koleksi ini.

Dan hasilnya memang terlihat saat Dian memamerkan 69 set busana untuk 2010-2011 di ajang pergelaran busana tunggal tadi malam. Diawali dengan permainan biola Maylaffayza, satu per satu model pun keluar dari pintu peragaan busana. Mereka memamerkan karya Dian yang menonjolkan struktur busana tegas, keras, dan tajam dengan detail lipit dan garis sambungan, yang menggambarkan kekuatan logika.

Tak heran bila terobosan yang Dian lakukan kali ini berhasil mencuri perhatian dari tamu undangan, yang sebagian besar merupakan relasi bisnis Dian dan keluarganya yang berasal dari kalangan pengusaha.

”Saya kaget dan surprise, karena Dian tidak memperbolehkan saya melihat koleksinya terlebih dahulu. Selain bikin baju, ternyata Dian juga menjadi produser sekaligus stylish di acara peragaan busana malam ini,” puji mantan Ketua Kadin Indonesia Bidang Hubungan Luar Negeri periode 1999-2004, Iman Taufik, yang tak lain ayahanda Dian Adriani.

Sebagai pendatang baru di dunia mode, Dian patut mendapat apresiasi positif. Namun, langkah wanita kelahiran Jakarta, 8 Mei 1982 ini untuk maju dengan busana siap pakai tidak berhenti sampai di sini. Asisten perancang Felipe Oliveira Baptista, 2005, ini harus mempersiapkan segala infrastruktur dan manajemen yang kuat untuk bisa menembus pasar lokal dan luar negeri.

”Saat ini saya memang baru mempunyai 11 tim. Saya punya gagasan untuk mencari outsourcing jika mendapat banyak pesanan baju di kemudian hari. Namun di sini peran saya tetap dominan sebagai pemegang quality control-nya,” tandas Dian yang bercinta-cinta membuat film.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini