nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kurangi Minuman Manis Mulai Sekarang

Koran SI, Jurnalis · Kamis 27 Mei 2010 09:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 05 27 27 336805 5TLZ2Dvgfn.jpg Minuman manis memang menyegarkan, tapi meningkatkan risiko terkena obesitas. (Foto: Google)

MINUMAN bersoda, jus buah atau energy drink bisa jadi salah satu minuman favorit Anda. Namun, minuman ini bisa meningkatkan risiko diabetes, obesitas, meningkatkan tekanan darah.

Siapa yang tidak suka minuman berasa manis? Apalagi saat dahaga menjelang. Namun, dampak kesehatan masyarakat jika terlampau berlebihan mengonsumsi minuman manis telah lama didengungkan. Selain meningkatkan risiko menderita diabetes, minuman manis juga menambah risiko terhadap berat badan yang berlebihan.

Meningkatnya konsumsi minuman manis antara tahun 1990 dan 2000 berkontribusi pada meningkatnya 130.000 kasus baru diabetes, 14.000 kasus baru penyakit jantung koroner dan 50.000 orang yang kehilangan tahun-tahun hidupnya akibat penyakit jantung koroner selama sepuluh tahun terakhir.

 

Gula pemanis dalam soda, minuman pembangkit energi (energy drink) dan minuman buah (tidak 100 persen jus buah) mengandung kalori yang setara dengan 120–200 kalori per porsi. Dengan kadar seperti itu, tentu saja memainkan peran penting dalam peningkatan obesitas masyarakat. Begitu besarnya efek yang ditimbulkan minuman manis, tidak berlebihan jika Anda diminta untuk mengurangi konsumsinya setiap hari. Bahkan, pengurangan sedikit takaran per hari dalam asupan minuman manis dapat berpengaruh pada tekanan darah Anda.

Dalam sebuah studi terbaru selama 18 bulan, para peneliti menemukan penurunan 1,8 poin pada tekanan darah tinggi dalam tekanan sistolik, semakin menuju tekanan ideal 120/80 yang diinginkan dan 1,1 poin dalam tekanan diastolik ketika asupan minuman manis berkurang satu harinya.

 

Laporan terbaru ini telah dipublikasikan pada 24 Mei lalu di jurnal kesehatan Circulation. ”Kami menemukan hubungan antara dosis (minuman manis) dan respons langsung,” kata pemimpin utama studi Dr Liwei Chen, asisten profesor epidemiologi di Louisiana State University Health Science Center School of Public Health, New Orleans, Amerika Serikat seperti dikutip laman HealthdayNews.com.

 

”Kalau pengurangan (gula) secara individual memang tidak banyak berpengaruh. Tetapi jika terjadi dalam populasi yang besar, mengurangi konsumsi total gula bisa memiliki dampak yang signifikan,” terangnya.

 

Chen mencatat, peningkatan kadar minuman manis tercatat dalam kelompok orang tua yang mengonsumsinya jauh di bawah rata-rata konsumsi Amerika, yaitu 2,3 porsi minuman manis per hari.

 

Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit serangan jantung, stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. The American Heart Association (AHA) telah lama memperingatkan tentang bahaya kesehatan yang mungkin timbul dari penggunaan gula yang ditambahkan dalam produk seperti minuman ringan, terutama dalam laporan yang dikeluarkan tahun lalu.

 

”Penelitian baru ini berupaya memperkuat bukti yang mengaitkan hubungan menurunnya ketahanan tubuh dengan penambahan kadar gula, dalam kasus ini di minuman. Dan risiko peningkatan tekanan darah di dalamnya,” kata Rachel K Johnson, penulis utama laporan asosiasi jantung dan profesor gizi di University of Vermont, Amerika Serikat.

 

Laporan AHA sendiri hanya berfokus pada gula yang ditambahkan ke dalam makanan olahan, bukan pada gula yang ditemukan dalam makanan alami, seperti buah. Rekomendasi dari lembaga itu, laki-laki harus membatasi asupan gula ditambahkan maksimal 150 kalori hari, sekitar sembilan sendok teh. Sedangkan perempuan hanya 100 kalori, atau enam sendok teh.

 

Dalam studi terbaru ini, definisi minuman manis termasuk minuman ringan bersoda, jus buah, fruit punch atau limun. Sekitar 12 ons dalam minuman bersoda memiliki 130 kalori gula, atau delapan sendok teh. Tim peneliti mencatat. orang dewasa Amerika rata-rata mengonsumsi 28 ons minuman manis per hari. Chen mengemukakan, orang muda lebih banyak minum soda dibanding orang tua.

 

Para partisipan yang berjumlah 810 orang, yang rata-rata berusia 50 tahun mengaku minum 10,5 ons minuman manis per hari,hanya di bawah satu porsi rata-rata saat penelitian baru dimulai. Tekanan darah mereka rata-rata di atas 120/80. Beberapa orang telah divonis menuju hipertensi antara 120/80 dan 139/89,  dan lainnya jelas menderita hipertensi karena tekanan darahnya di atas 140/90, yang terus menjadi perhatian medis.

Pada akhir studi, konsumsi minuman soda sehari-hari para partisipan turun rata-rata sekitar setengah porsi, dan sangat bermanfaat bagi tekanan darah mereka. Bahkan ketika berat badan adalah faktor yang memengaruhinya, dampak pengurangan konsumsi gula dengan tekanan darah tetap signifikan. ”Mereka dikontrol untuk semua jenis variabel dan masih ditemukan hubungan itu,”  kata Johnson.

Minuman manis terutama yang bersoda terus menimbulkan kontroversi politik. Bahkan, di Washington DC dan kota-kota lainnya di Amerika Serikat, para pejabatnya mengusulkan adanya pajak yang tinggi untuk minuman bersoda. AHA sendiri tidak berkompeten memutuskan soal ini. ”Saya umumnya mendukung konsep ini,” tegas Johnson.

 

”Ketika Anda melihat biaya penanganan obesitas pada sistem perawatan kesehatan dengan minuman bersoda dianggap memainkan peran penting dalam epidemi itu, bisa masuk akal apabila panda patan lain yang dapat digunakan untuk mengurangi biaya kesehatan,” lanjutnya.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini