Ajarkan Peran Gender Melalui Permainan

Koran SI, Jurnalis · Senin 28 Juni 2010 16:55 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 28 196 347459 APzAKu7QoY.jpg Ternyata cara yang berbeda saat ibu dan ayah bermain dengan si kecil dapat membantu membentuk pandangan mereka tentang peran gender. (Foto: gettyimages)

SATU lagi tujuan bermain bagi anak terungkap. Ternyata cara yang berbeda saat ibu dan ayah bermain dengan si kecil dapat membantu membentuk pandangan mereka tentang peran gender.

Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan bagi si kecil. Bermain memang sangat penting bagi anak-anak, terutama terkait kecerdasan otaknya. Karena, tiga tahun pertama merupakan periode emas perkembangan otak anak. Pada masa itu, dia membutuhkan banyak stimulasi. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, maka hubungan koneksi antarsaraf akan semakin banyak. Artinya, anak akan semakin cerdas.

Salah satu bentuk stimulasinya adalah mainan. Bermain selain memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan juga dapat mengembangkan kreativitas anak akan nilai, sikap, toleransi, serta pemahaman. Tidak sekadar hiburan semata, dengan bermain anak juga akan berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya.

Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki tentang dunia dan sekaligus bisa mendapatkan pengetahuan baru. Dan semua hal itu dilakukan dengan cara menggembirakan hati anak. Bermain merupakan cara untuk mengekspresikan perasaan dan emosi yang lebih cepat dibandingkan menyampaikan ekspresi secara verbal.

Ada satu lagi fungsi bermain yang baru-baru ini ditemukan. Cara yang berbeda saat ibu dan ayah bermain dengan anak ternyata dapat membantu membentuk pandangan anak tentang gender, yaitu apa itu maskulin dan feminin. Pengamatan ini didasarkan pada analisis interaksi yang direkam video dari sekitar 80 keluarga yang tinggal di dua kota kecil di Kansas, Amerika Serikat.

Rekaman itu termasuk saat para orangtua bermain dengan anak mereka yang berdurasi 15 menit di sebuah tempat dan sesi 10 menit saat orangtua memberi anak mereka makanan kecil seperti keju, biskuit, dan kismis. Semua kelompok interaksi direkam, termasuk ibu bersama anak laki-laki, ibu-anak perempuan, ayah-anak laki-laki,dan ayah-anak perempuan.

Setelah itu, penulis studi Eric Lindsey dan rekan-rekannya dari Penn State Berks University di Pennsylvania, Amerika Serikat, mulai menghitung seberapa sering jenis perilaku tertentu terjadi saat interaksi antara anak dan orangtua tersebut. Mereka mengungkapkan, dinamika verbal bergeser tergantung pada apakah orangtua itu mengasuh atau bermain dengan anak mereka.

Ketika memberi makan anak, fokus komunikasi adalah berpusat pada orangtua, dengan anak-anak menerima bahwa orangtua itu memegang kendali. Tapi ketika bermain, interaksi lebih setara dan anak lebih banyak terlibat dalam mengarahkan interaksi.

Peneliti menemukan fakta bahwa ayah dan ibu berlaku hampir sama saat menemani anak makan makanan ringan. Peneliti menyebutnya ”waktu pengasuhan”. Namun, ketika orangtua bermain dengan buku dan mainan dengan anak-anak mereka, para peneliti mencatat perbedaan yang nyata antara cara ayah berinteraksi dengan anaknya dan bagaimana ibu berlaku dengan anaknya.

”Ayah berperilaku secara tinggi tingkatannya dalam menolong dan bersikap tegas, sedangkan ibu lebih tinggi dalam tingkat perilaku memfasilitasi atau kooperatif,” kata peneliti Lindsey dan timnya dalam jurnal Sex Roles terbaru seperti dikutip livescience. com.

Misalnya, ayah lebih cenderung memerintah (seperti ”Letakkan mainan di dalam kantong!”) dan menyuruh dengan sopan (”Mengapa kau tidak mencoba mendorong mainan itu?”) Sedangkan ibu, seperti memberikan semacam pengarahan saat bermain seperti ”Mau melihat buku?” atau ”Mari kita lihat apa yang ada di tas ini”.

”Dalam menanggapi anak yang ingin bebas bermain, ibu lebih mungkin untuk memenuhinya dibanding ayah. Sedangkan ayah lebih cenderung untuk menolak atau mengabaikan hal itu daripada ibu,” tulis para peneliti. ”Perbedaan tersebut kemungkinan akan diterima oleh anak-anak sepanjang waktu dan dihubungkan dengan peran gender pada anak-anak,” kata peneliti.

Ketegasan mungkin akan dilihat oleh anak-anak sebagai sifat laki-laki, sementara anak-anak akhirnya memikirkan ketaatan dan fleksibilitas sebagai kualitas feminin.

”Ini akan muncul bahwa anak-anak dalam keluarga yang sama memiliki pengalaman bermain yang berbeda dalam interaksi mereka dengan ibu dan ayah mereka,” ujar para peneliti. ”Perbedaan tersebut dapat mengajarkan anak-anak pelajaran tak langsung tentang peran gender dan memperkuat pola perilaku gender yang kemudian mereka bawa ke luar konteks keluarga,” terang mereka.

Anak-anak dalam penelitian ini berusia antara 15 dan 18 bulan. Menariknya, dalam kedua situasi, para peneliti mencatat tidak ada perbedaan dalam cara anak-anak bertindak berdasarkan jenis kelamin mereka. Para ilmuwan menduga, perbedaan perilaku gender orangtua terjadi hanya selama waktu bermain, dan tidak dalam sesi pengasuhan, karena semua orangtua tentu lebih tegas saat memberikan makanan ringan pada anak.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini