Share

Orang Baik Sulit Dapat Promosi?

Koran SI, Koran SI · Selasa 28 September 2010 10:01 WIB
https: img.okezone.com content 2010 09 28 198 376690 CTBccwbuWs.jpg Perilaku dan sikap yang baik adalah modal utama untuk bisa sukses dalam berkarier. (Foto: Google)

ORANGTUA atau para ahli selalu menyarankan agar seorang karyawan bisa bekerja dengan baik dan berperilaku baik jika ingin cepat mendapatkan promosi. Namun kenyataannya, orang baik sering kali menjadi orang terakhir yang diperhitungkan untuk mendapat promosi. Apa yang salah?

Saat kita kecil atau mulai masuk dalam dunia kerja, orang tua, bahkan konsultan karier, kerap kali memberi saran agar kita selalu bersikap sopan, bisa dipercaya, baik hati, kooperatif, dan toleran. Dengan sifat dan sikap ini, orangorang di sekeliling kita, termasuk atasan, akan menyukai kita. Kita akan memiliki banyak teman, dan tentu saja karier akan melaju pesat.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Tapi nyatanya tidak begitu. Dr Christine Riordan, Dekan University of Denver’s Daniels of Business, sekaligus konsultan berbagai perusahaan, yang telah melakukan studi dan pengamatan selama lebih dari 20 tahun,menyimpulkan bahwa terlalu baik tidak akan mampu membuat seseorang naik jabatan.

Bahkan, ia berani mengatakan bahwa bersikap terlalu baik bisa menghambat kemajuan karier dan memperlemah sebuah kepemimpinan. Begitu juga dengan sikap memelihara, simpatik, dan suportif. Sikap-sikap ini juga tidak terlalu berguna bagi kenaikan jabatan,juga bagi kenaikan gaji.

Namun, tentu saja ada juga berita baiknya. Bersikap baik dan ramah berhubungan dengan kepuasan hidup dan bekerja. Orangorang yang memiliki kualitas ini umumnya punya produktivitas kerja yang baik.Tentu saja hal ini dibutuhkan perusahaan.

Pertanyaannya, mengapa bersikap baik dan ramah bisa menghambat karier? Jawabnya, karena sikap ini membuat orang tersebut cenderung enggan untuk melakukan konfrontasi atau kesulitan lainnya di tempat kerja.

Riordan menuturkan pernah bekerja sama dengan seorang wakil direktur bagian marketing sebuah rumah sakit. Ia adalah orang yang menyenangkan.Pada awal kariernya, ia sangat sukses. Namun, begitu mencapai level wakil direktur, ia mengalami kesulitan menghadapi berbagai kepentingan dan konflik yang mengharuskannya cepat mengambil sikap.Karena terbiasa bekerja dengan kondisi yang harmonis,ia menjadi lambat saat diharuskan bertindak cepat.

Kelambanannya ini lalu membuat eksekutif yang lebih lincah dan dinamis mengambil keputusan tanpa keterlibatannya. Karena frustrasi, menurut Riordan, sang wakil direktur itu lantas mengundurkan diri.

“Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini ialah seorang pemimpin harus mampu mengatasi setiap tantangan yang muncul. Ia harus mampu memilah kepentingan mana yang harus diutamakan di antara banyak kepentingan,” kata Riordan, seperti dikutip dari Careerbuilder.com.

Masih menurut Riordan,untuk menjadi manajer yang sukses, seseorang harus mampu mengatasi isu-isu kontroversial sebagaimana ia merespons hal-hal yang konstruktif atau menangani kritik. Ia harus mampu membuat sebuah keputusan yang sulit dan membantu memulihkan kerja karyawannya yang buruk.

Satu hal lagi, seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tidak populer, sebuah tantangan yang umumnya dihindari oleh mereka yang ingin selalu bersikap baik dan sopan.

Orang yang baik umumnya juga enggan untuk menunjukkan pendapatnya karena tidak ingin ada kontroversi atau tidak ingin melawan arus. Ia juga sungkan untuk meminta kenaikan gaji, promosi, atau kesempatan mengerjakan proyek yang berprospek tinggi.Karena itulah,orang yang lebih cekatan akan menyalip orang tersebut atau karena keengganannya untuk pamer,maka hasil kerjanya tidak dilihat atau terlihat atasan.

“Juga sudah banyak buktinya bahwa pemimpin yang terlalu baik akan kesulitan untuk mengatasi konflik. Saat menghadapi sebuah konflik, maka ia akan mempertontonkan sebuah kepemimpinan yang lemah,”tegas Riordan.

“Jahat” bukan solusi

Jika menjadi orang yang baik bukan pilihan, tentu akan ada pemikiran bahwa menjadi orang yang “jahat” akan lebih menguntungkan. Riordan tidak setuju dengan pemikiran tersebut. Mengambil jalan yang ekstrem, dengan menjadi karyawan atau atasan yang membuat karyawan lain tersiksa, tentunya juga akan menghancurkan kariernya.

Sebenarnya, bersikap baik, kooperatif, toleran, dan mudah memaafkan adalah sifat yang baik. Asalkan sikap-sikap tersebut dilakukan pada saat yang tepat.Jika sikap ini dilakukan saat dibutuhkan sikap yang sangat tegas dari seorang pemimpin, maka sikap baik dan mudah memaafkan akan membuatnya terlihat sebagai pemimpin yang lemah.

Masalahnya,karena sikap baik itu umumnya sudah melekat dari kepribadian seseorang, agak sulit untuk mengubahnya.Namun tetap saja, seorang pemimpin atau mereka yang ingin menjadi pemimpin harus bisa “memaksa” kepribadiannya untuk menyesuaikan dengan tugas dan tujuannya sebagai pekerja atau pimpinan.

Solusi

Lantas, bagaimana agar bisa sukses dalam karier dengan kepribadian yang sudah dimiliki? Cara terbaik ialah dengan menganalisis sikap atau perilaku seperti apa yang bisa membuat Anda bisa mendapatkan promosi atau meraih kesuksesan. Perhatikan pula perilaku apa yang bisa menimbulkan hal sebaliknya. Intinya, cobalah bersikap lebih fleksibel dan jangan memaksakan menerapkan kepribadian yang tidak cocok dengan lingkungan kerja. Jika terus menandakan, maka Anda akan terlempar.

Intinya, setiap mereka yang ingin memperoleh kenaikan jabatan atau menjadi pemimpin harus mampu bersikap seimbang dan menempatkan sesuatu sesuai kondisi. Yang paling penting, tetaplah seperti diri Anda sendiri,tapi lakukan tindakan yang tepat jika menyangkut kredibilitas dan kekuatan kepemimpinan.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini