Image

Hati-Hati, Udara Dingin Bisa Sebabkan Bell`s Palsy!

Genie, Jurnalis · Jum'at 22 Oktober 2010, 17:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 10 22 195 385438 VfJyUOoRo6.jpg Udara dingin sebabkan Bell's Palsy (Foto: Google)

BANYAK orang kaget ketika melihat Samuel Zylgwyn, kekasih Alexandra Gotardo. Mulutnya menceng. Orang mengira ia menderita stroke. Padahal tidak. Itu Bell`s Palsy!
 

Menurut spesialis saraf, dr Arman Yurisaldi Saleh SpS, Bell`s Palsy merupakan gejala klinis dari suatu penyakit mononeuropati (gangguan yang mengenai satu syaraf). Syaraf yang dimaksud adalah saraf no.7 (nervus fascialis). Saraf ini juga sering disebut syaraf fascialis. “Ini saraf 7 yang terkena adalah saraf 7 yang tepi,” katanya. Inti dari saraf 7 berada di batang otak.

 

Perlu diketahui, syaraf 7 berfungsi mengatur otot-otot pergerakan organ pada daerah wajah, antara lain di daerah mulut dan gerakan seperti meringis dan bibir maju ke depan. Pada daerah mata, syaraf ini juga mengatur seputar pergerakan kelopak seperti memejam, pergerakan kelopak bola mata, dan mengatur aliran air mata. “Saraf 7 juga ada serabutnya yang menuju ke arah kelenjar ludah dan juga ke bagian pendengaran,” sambung dr Arman.

 

Nah, pada kasus Bell`s Palsy, saraf ini mengalami gangguan. Saraf tidak dapat mengantar impuls motorik kepada otot karena terjerat akibat pembengkakan. Sekadar diketahui, susunan saraf 7 dari inti di bagian otak hingga ujung saraf itu sangat panjang.

 

Beberapa bagian saraf itu akan melewati sebuah celah atau rongga di dekat telinga yang disebut canalis facialis. Rongga tersebut sangat sempit.

 

Dalam keadaan normal, saraf bisa melewati celah kecil itu. Tapi jika saraf mengalami peradangan, saraf akan membengkak. Diameternya menjadi lebih besar. Karena itulah, saraf tak bisa melewati celah itu.

 

Saraf terjerat di dalam canalis facialis. Bila sudah demikian, kemampuan saraf untuk menghantarkan impuls terganggu. Impuls dari bagian inti di batang otak tidak akan sempurna disalurkan atau bahkan bisa berhenti karena bagian badan saraf yang meradang tersebut tidak dapat meneruskan impuls hingga ke ujung sarat atau akson.

 

Akibatnya, otot-otot pada organ yang langsung berhubungan dengan saraf tersebut tak berfungsi. Organ yang langsung berhubungan dengan saraf tersebut tak berfungsi. Organ menjadi lumpuh.

“Saraf ini menghidupi otot, menginervasi. Otot itu baru bisa bergerak kalau ada listrik yang melalui saraf. Jadi, karena aliran listriknya turun, otot jadi seperti lumpuh,” terang dr Arman. Itulah mengapa terjadi kelumpuhan pada separuh daerah wajah.

 

Gejala awal Bell`s Palsy sangat beragam. Misalnya, mata menjadi kering, telunga terasa bergemuruh, susah mengangkat alis, kelopak mata tidak bisa ditutup, dan bola mata memutar ke atas karena kelopak mata yang lumpuh dipaksa menutup. Pada akhirnya gejala Bell`s Palsy akan menunjukkan kelumpuhan pada separuh wajah. Ini pula yang membedakan Bell`s Palsy dengan stroke. “Pada akhirnya gejala yang sangat tampak adalah separuh wajah menjadi lumpuh,” jelas dokter yang sedang menyelesaikan studi S3 tentang saraf ini.

 

Hingga saat ini penyebab penyakit yang kerap dianggap stroke ini masih diteliti. Namun beberapa literatur menunjukkan bahwa Bell`s Palsy ini disebabkan oleh infeksi virus. Dan virus ini pun sangat beragam seperti virus herpes, virus hepatitis, dan beberapa virus lainnya.

 

Selain itu, masih ada hal lain yang diduga kuat turut menyebabkan Bell`s Palsy. Faktor genetik, seperti riwayat keluarga yang pernah mengalami Bell`s Palsy, juga menunjukkan angka terjadinya kasus ini sebanyak 4 persen dari total kasus.

 

Bell`s Palsy ini juga, lanjut dr Arman, berhubungan dengan suhu dan udara dingin. Meskipun data pendukung faktor ini masih sangat kurang, data (anamnesis) dari sekian banyak pasien yang mengalami Bell`s Palsy merujuk pada faktor itu. Misalnya, sopir kendaraan yang tiba-tiba merasa mulutnya bergeser atau menceng setelah membuka jendela kaca mobil. “Orang yang sering tidur di lantai, pada saat bangun mulutnya langsung menceng. Atau biasanya kalau di daerah itu orang sering pergi-pergi ke tempat yang lembap seperti ke sumber mata air. Setelah itu, wajah mereka lumpuh dan mereka mengatakan itu karena ditampar hantu. Padahal karena Bell`s Palsy. Dan semua contoh itu berhubungan dengan udara atau suhu yangn dingin,” terangnya.

 

Berbahayalah Bell`s Palsy ini? Bell`s Palsy, bila dibandingkan dengan stroke, bisa dikatakan tidak terlalu berbahaya. Malah penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya. Untuk menghindari cacat pascapenyembuhan, pasien dianjurkan menjalani terapi kortikosteroid, penyembuhannya lebih cepat dan sedikit meninggalkan cacat,” imbuh dr Arman.

 

Penyakit ini memiliki masa akut selama 7 hari. Bila pada masa tersebut pasien mendapatkan terapi kortikosteroid, kemungkinan pasien sembuh tanpa cacat sangat besar. Oleh karena itu, pasien tidak boleh terlambat mendapatkan penanganan dalam kurun waktu 72 jam. “Sebaiknya dilakukan penanganan selama 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan penanganan lewat dari 72 jam hasil klinisnya buruk,” kata dr Arman.

 

Penanganan terhadap penyakit ini mesti diperhatikan baik-baik mengingat saraf memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri. “Kalau saraf itu mengalami kerusakan, saraf akan berusaha untuk memperbaiki diri. Pada orang pasca Bell`s Palsy yang tidak ditangani dengan baik, saraf ini akan mengalami pertumbuhan aberrant,” tegas dr Arman.

 

Pertumbuhan aberrant  adalah pertumbuhan saraf yang menuju pada organ bagian hidung mengalami kerusakan, saraf akan memperbaiki diri. Saraf akan tumbuh kembali dan menuju tempat yang sama. Ini bila dilakukan penanganan tepat. Bila tidak, saraf bisa tumbuh dan mengarah ke tempat lain seperti ke arah mata.

 

Sehingga jika hidung mengalami rangsangan, hidung tak dapat mengenali atau mencium bau. Justru akan keluar air mata. Selain itu, penanganan yang tidak tepat juga kerap menyebabkan gerakan sinkinesis. Data dari jurnal menunjukkan sebanyak 85 persen penyakit Bell`s Palsy sembuh sempurna dalam waktu 3 minggu dan sebanyak 15 persen pasien sembuh dalam waktu 3-4 bulan dengan atau tanpa cacat yang menyertainya.

 

Bell`s Palsy ini perlu diwaspadai mengingat selama ini banyak sekali orang yang salah persepsi dan menyebutnya stroke. “Perlu diwaspadai supaya orang tidak melakukan tindakan yang over. Lumpuh di wajah sudah dikira stroke. Misalnya, orang di usia muda mengalami lumpuh sebelah di wajah sudah dikira stroke. Tentunya ini dapat menyebabkan kepanikan.

 

Karena pengetahuan masyarakat yang minim, tentunya ini bukanlah hal yang menyenangkan, bukan? Dan kalau orang sudah panik, biasanya bisa melakukan hal-hal yang over. Misalnya, minta dirawat inap dan sebagainya. Kalau sudah seperti itu kan hubungannya dengan biaya. Mahal tentunya. Namun kalau tahu apa yang harus dilakukan kan tidak demikian,” terang dr Arman.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini