Share

Agar Terhindar dari Keguguran

Tuty Ocktaviany, Jurnalis · Jum'at 10 Desember 2010 10:46 WIB
https: img.okezone.com content 2010 12 10 196 401957 g1Ie2v31mc.jpg Saat Mom memeriksakan kehamilan. (Foto: Google)

KEGUGURAN adalah kehilangan bayi secara spontan dan dapat terjadi kapan saja sejak sekira terlambat haid sampai minggu ke-24 kehamilan. Rasa marah dan berkabung lebih kuat karena seluruh harapan dan antisipasi terhadapi lahirnya seorang bayi tiba-tiba hancur.

 

Nah, Anda tentu tak ingin mengalami masalah kehilangan bayi yang sudah lama diinginkan. Karena itu, ulasan dari Dr Miriam Stoppard dalam bukunya berjudul “Panduan Kesehatan Keluarga” bisa menambah referensi Anda untuk terhindar dari keguguran.

 

Apa yang menyebabkan keguguran?

 

Keguguran dapat terjadi akibat faktor orangtua, faktor janin, atau gabungan keduanya. Berikut adalah sejumlah penyebab keguguran:

 

- Sel telur atau sperma yang cacat membentuk janin abnormal.

 

- Rahim berbentuk tidak normal dan tidak dapat mempertahankan kehamilan.

 

- Mioma dalam rahim mengganggu pertumbuhan janin.

 

- Leher rahim yang lemah mungkin terbuka selama kehamilan.

 

- Plasenta yang lemah mungkin terbuka selama kehamilan.

 

- Diabetes atau tekanan darah tinggi tahap lanjut yang tidak dikontrol secara penuh dengan obat.

 

- Ketidaksesuaian rhesus.

 

- Infeksi ibu oleh bakteri atau virus akan merusak janin.

 

- Hormon kehamilan tidak seimbang dan janin tidak dapat tumbuh.

 

Haruskah berkonsultasi dengan dokter?

 

Jika Anda tahu bahwa Anda hamil, atau merasa mungkin hamil, dan mengetahui perdarahan Miss V apa pun dan/atau nyeri seperti mulas, segera hubungi dokter.

 

Saat menunggu dokter, berbaringlah dan angkat kaki Anda. Gunakan pembalut wanita jika perlu. Jangan membilas cairan yang keluar karena dokter akan memeriksa cairan tersebut.

 

Apakah bentuk terapi bedahnya?

 

- Jika Anda mengalami keguguran tak menyeluruh (saat janin telah dikeluarkan tapi sebagian plasenta masih tertinggal) sebuah tindakan khusus untuk mengeluarkan sisa kehamilan yang masih tertinggal (kuret atau ERPC, evacuation of the retained products of conception) akan dilakukan untuk mencegah infeksi. Infeksi seperti ini jika tidak ditangani lebih lanjut dapat menyebabkan infertilitas.

 

- Jika janin meninggal dalam rahim tapi tetap tertinggal, janin harus dikeluarkan dengan tindakan bedah.

 

- Anda mungkin menjalani pemeriksaan histerosalpingogram untuk mengetahui kondisi rahim dan saluran telur Anda.

 

- Dokter akan memeriksa janin dan plasenta yang sudah gugur untuk memastikan semua normal dan menangani Anda sesuai kondisi. Dalam beberapa kasus, Anda mungkin dirujuk ke pakar infertilitas untuk mendapatkan saran.

 

- Jika mengalami keguguran sepsis (organ dalam Anda terinfeksi), Anda akan mendapatkan antibiotik dalam dosis besar untuk mengatasi infeksi.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini