nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Awal Mula Wisata Kemiskinan Jakarta

Pasha Ernowo, Jurnalis · Selasa 14 Desember 2010 10:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 12 14 407 403108 WqgHM0INM8.jpg (foto: daylife.com)

JAKARTA- wisata kemiskinan atau yang dinamakan jakarta hidden tour sudah berdiri sejak tahun 2008. Lalu, bagaimana awal berdirinya wisata ini?

Ronny poluan, sang pendiri, mengungkapkan ide tersebut awalnya muncul dari kebiasaannya mengantarkan koleganya seniman atau budayawan mancanegara berwisata mengunjungi ancol, museum atau wisata lainnya.

"Biasanya saya hanya ajak ke museum, ancol, atau wisata umum lainnya. Saya bosan, mereka juga bosan," kata pria yang pernah menjadi pemain teater dan sutradara film pendek ini.

Secara tak sengaja, saat menemani temannya dari Australia, Ronny bertemu dengan Maskun, seorang penjaga menara di Museum Bahari di kawasan Kota, Jakarta.

''Lalu, saya tanya di mana rumahnya. Ternyata dekat. Saya lalu ke sana dan bertemu dengan tetangga-tetangganya yang ramah. Ternyata teman saya itu terkesan,'' katanya.Nah, saat itu tercetus ide untuk mengajak lebih banyak turis asing ke Luar Batang, kampung Maskun

Dengan latar belakang sutradara film pendek, Ronny pun mengabadikan perjalanan wisata ke kampung galur, jakarta itu ke dalam sebuah film berjudul Eye of the Day dan Shape of the Moon. Film ini berhasil mendapatkan penghargaan World Cinema Award dalam kompetisi Sundance Film Festival, Amerika, pada 2005.

Sejak itu, satu demi satu turis mulai mengontak Ronny. Mereka meminta diantar ke kampung-kampung tersebut. Lalu, Ronny mengoperasikan wisata unik itu dari ruang tamu rumahnya.

''Ini memang tanpa modal. Hanya perlu koneksi internet dan lineVIDA atau Volunteering for International Development from Australia mengetahui aktivitas Ronny. Lembaga yang berbasis di Kent Town, South Australia, itu membantu Ronny mengembangkan tur tersebut menjadi lebih sistematis.

''Prinsipnya memang bukan untuk komersial, tapi lebih humanis. Merekatkan hubungan di antara dua budaya yang berbeda,'' katanya.

Untuk ikut dalam tur tersebut, peserta harus merogoh kocek minimal sekitar Rp 500.000 untuk paket jalan-jalan sekitar tiga jam. Awalnya Ronny hanya mematok tarif Rp 200.000, lalu naik menjadi Rp 300.000.

''Mereka (tamu) bilang, kok murah sekali. Padahal, mereka mengaku lebih suka trip ini dibandingkan dengan wisata konevensional yang ada di Jakarta," katanya.

Dari dana itu, Ronny mengaku 50 persen diberikan untuk warga kampung-kampung yang dikunjungi. Bahkan, sebagian besar turis yang datang tak sungkan memberikan dana lebih untuk orang-orang yang ditemui.

''Mereka berbagi dengan tulus. Warga juga tidak meminta, tapi juga turis yang tergerak hatinya," katanya.

Untuk ikut tur ini, tamu cukup SMS, email, atau telepon. Lalu, diatur jadwal yang diinginkan. ''Titik berangkatnya terserah tamu. Mau dijemput di hotelnya juga bisa,'' kata pria asli Manado yang sudah 57 tahun di Jakarta itu.

Rata-rata turis tertarik justru karena mendengar cerita dari temannya yang pernah mengalami. Ronny lalu menunjukkan situs mereka realjakarta.blogspot.com. Karena memakai fasilitas blog, Ronny tak perlu bayar. ''Hanya, bayar untuk berlangganan paket internet saja agar bisa online 24 jam,'' katanya.

(uky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini