Ternyata 'Badai' Itu Belum Usai!

Mom& Kiddie, Jurnalis · Sabtu 08 Januari 2011 09:12 WIB
https: img.okezone.com content 2011 01 07 196 411646 tDlq6892sV.jpg Perceraian membawa masalah baru yang lebih rumit. (Foto: Getty Images)

SAAT keputusan bercerai ditetapkan, sepintas permasalahan yang terjadi antara moms and dads berakhir. Namun, pernahkah terpikir bahwa dari perceraian itu akan membawa masalah baru yang mungkin lebih besar dan rumit?

Seperti masalah yang sedang melanda Ayu Azhari, salah satu artis terkenal Indonesia. Pernikahan ketiga ibu dari enam orang anak ini dengan musisi dunia, Mike Tramp –vokalis band White Lion– memunculkan masalah baru.

Pasalnya, menurut isu yang beredar, anak sulung dari mantan suami pertama, Axel, dan Sean –anak kedua dari mantan suami kedua, Teemu Yusuf Ibrahim– mengaku tak lagi diurus oleh sang bunda. Selain itu, mereka pun merasa diperlakukan berbeda dengan kedua adik tirinya, hasil pernikahan Ayu dengan Mike.

Konon, si bapak tiri lah pemicu pertengkaran Ayu dan anak-anaknya. Sampai akhirnya, Sean bersikeras mengajak kedua adik kandungnya untuk pulang ke Finlandia, negara asal sang Ayah. 

Berkaca dari kasus di atas, memang ada beberapa hal yang patut diperhatikan pascaperceraian. Terlebih jika Anda akan memutuskan untuk menikah kembali. Dan, Mom&Kiddie akan mengulik perihal tersebut. Semoga bisa menjadi pertimbangan moms and dads sebelum memutuskan kata bercerai.

Bercerai, Anak lah Korbannya

Jangan pernah berpikir bahwa perceraian hanya merupakan torehan luka orangtua. Sekalipun perceraian tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan damai oleh orangtua, namun tetap akan menimbulkan masalah bagi anak.

"Reaksi anak berbeda-beda dalam menyikapi perceraian orangtuanya. Bergantung pada usia anak dan intensitas serta lamanya konflik yang berlangsung sebelum terjadinya perceraian," kata Edward Andriyanto Soetardhio, S.Psi, M.Psi, Psikolog, staff pengajar bagian Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi UI.

Anak-anak yang orangtuanya bercerai saat mereka berusia sekolah atau remaja biasanya merasa ikut bersalah dan bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Mereka juga khawatir akan imbas buruk terhadap kehidupannya di masa kini dan masa depan berkaitan dengan status orangtua yang sudah bercerai.

Biasanya, anak-anak korban perceraian akan mengalami perubahan tingkah laku secara drastis. Misal, prestasi belajar menurun tajam, perilaku anak berubah dari penurut menjadi nakal dan sering membangkang.

Anak yang aslinya ceria dan mudah bergaul berubah menjadi anak yang pemurung dan menarik diri dari lingkungannya. Bisa dikatakan, anak-anak akan merasakan penderitaan dan dampak yang lebih dahsyat daripada yang dirasakan oleh orangtua mereka sendiri.

Orangtua sering lupa, pada saat proses bercerai, mereka kerap mencurahkan sebagian besar waktu dan tenaga untuk saling bertikai. Mulai dari rebutan harta gono-gini, perdebatan mengenai besarnya uang tunjangan yang akan diberikan setelah bercerai, hingga masalah hak asuh.

Sementara di balik perselisihan tersebut, tanpa sadar orangtua hanya mencurahkan sedikit waktu dan usaha untuk mengurangi emosional yang menimpa anak-anaknya.

Hal penting yang dapat dilakukan orangtua pascaperceraian adalah mencoba meyakinkan anak-anaknya bahwa mereka tidak bersalah dan tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya.

"Bantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin di rumah, misalnya kebiasaan nonton televisi bersama, berkaraoke, hingga jalan-jalan di akhir pekan. Jangan sekalipun memaksa anak untuk memihak salah satu pihak yang sedang cekcok. Dan jangan pernah melibatkan mereka dalam proses perceraian Anda dan pasangan!," tandas Edward.

Penentuan Hak Asuh Anak

Ironis memang, saat anak-anak masih syok menerima kenyataan bahwa orangtuanya bercerai, mereka kembali (harus) dihadapkan pada kasus perebutan akan dirinya. Ya, banyak keluarga yang ketika bercerai saling mengklaim bahwa istri atau suami paling berhak atas hak asuh anak-anaknya.

Hal ini pula yang akhirnya merenggangkan hubungan kekeluargaan mantan istri-suami pascabercerai. Sayangnya, perundang-undangan Indonesia pun tidak secara rinci menjelaskan kepada siapa hak asuh anak diberikan, jika orangtua bercerai.

"Menentukan hak asuh anak setelah perceraian dalam Undang-Undang No 1 tentang Perkawinan pun tak dijelaskan secara khusus. Bahkan seorang ibu mungkin saja akan kehilangan hak asuh terhadap anaknya yang masih berusia di bawah 12 tahun, meski anaknya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari ibunya. Jika merujuk pada konsepsi Kompilasi Hukum Islam (KHI), disebutkan bahwa dalam pasal 105 huruf a, anak korban perceraian orangtua yang masih berusia dibawah 12 tahun berada di bawah kekuasaan ibunya dengan pertimbangan bahwa anak seusia itu sangat membutuhkan kasih sayang dari ibunya dibandingkan ayahnya," jelas Listiana Lestari, SH, pengacara dari Kantor Advokat Listiana Lestari SH, Yogyakarta.

Namun, dalam pasal 156 huruf c KHI menjelaskan kembali, seorang ibu bisa kehilangan hak asuh terhadap anaknya -sekalipun masih berusia di bawah 12 tahun- ketika dia dianggap tak mampu melindungi keselamatan jasmani maupun rohani anaknya.

Masih menurut Listiana, dalam konstruksi hukum positif negara, bisa saja hak asuh berpindah dari ibunya kepada bapaknya atau sebaliknya, melalui proses pengadilan yang sah. Kondisi ini tercatat dalam UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dimana hak asuh anak hanya bisa diberikan kepada pihak ibu atau bapaknya saja.

Inilah mengapa pengajuan hak asuh hanya bisa dilakukan oleh istri atau suami, bukan orang lain meskipun terikat hubungan keluarga dekat. Bahkan, kakek-nenek pun tidak memiliki hak untuk mengambil hak asuh anak. Ingat, bagi pihak yang tak diberi hak asuh, bukan berarti memutus berbagai kewajiban terhadap anaknya.

"Dalam perceraian, kekuasaan orangtua baik ayah maupun ibu tidak terputus begitu saja. Misal, sepanjang seorang ayah masih hidup, tidak akan menimbulkan perwalian terhadap anaknya. Perwalian baru diizinkan jika sang ayah meninggal, sakit parah atau berdasarkan keputusan yang dikeluarkan oleh pengadilan. Misal, kakek atau nenek diberikan hak dalam hal perwalian," tegas Listiana.

Kamu Tidak Bersalah, Nak!

Richard Bugelski dan Anthony M Graziano (1980), para psikolog  yang menyatakan bahwa dua tahun pertama pascaperceraian merupakan masa-masa yang amat sulit bagi anak. Mereka biasanya kehilangan minat untuk pergi dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, bersikap bermusuhan, agresif depresi, dan dalam beberapa kasus mencoba bunuh diri.

Sebagian anak juga menampakkan beberapa gejala psikosomatis akibat perceraian tersebut, mulai dari insomnia, migrain, kehilangan nafsu makan, mag, hingga penyakit kulit.

Setelah kira-kira dua tahun mengalami masa sulit itu, barulah anak-anak tersebut sampai pada masa keseimbangan (equilibrium). Di mana, penderitaan yang dialami sejak terjadinya perceraian mulai berkurang. Anak-anak mulai bisa menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang sulit disembuhkan!

Hal itu diangguki oleh Hadi Supeno, ketua KPAI. Menurutnya, selain beberapa dampak yang disebutkan di atas, dengan bercerainya orangtua, tidak menutup kemungkinan saat dewasa nanti si anak menjadi takut untuk menikah.

Akan timbul kekhawatiran yang besar dalam diri anak bahwa kelak pernikahannya akan mengalami nasib yang sama seperti orangtuanya. Bahkan bisa saja terjadi saat dewasa nanti anak mengalami orientasi seksual yang menyimpang (gay atau lesbian). Penyebabnya karena dia membenci laki-laki atau perempuan dan beranggapan bahwa semua laki-laki atau perempuan sama jahatnya dengan ayah atau ibunya yang telah menghancurkan kebahagiaan yang pernah dimilikinya dulu.

"Jangan lupa untuk mencarikan orang dewasa lainnya di luar orangtua, seperti tante, paman, kakek atau nenek yang sementara waktu dapat mengisi kekosongan hati anak. Berika dukungan dan topangan batin yang memperkuat mereka dalam masa-masa kehilangan figur orangtua yang tidak lagi dapat hadir sepenuhnya seperti sebelum perceraian terjadi," imbuh Hadi.

 

Ketika Keputusan Menikah Kembali Datang...

Pada dasarnya, manusia tak bisa hidup sendirian, utamanya pada usia yang masih produktif. Nah, jika Anda memutuskan untuk menikah kembali, hendaknya persiapkan beberapa hal agar kasus seperti Ayu Azhari tidak menimpa Anda.

Utamakan Kenyamanan Anak!

Kala Anda kembali menjalin hubungan dengan seseorang dan memutuskan ingin menikah lagi, ajaklah anak berdiskusi tentang calon orangtua tirinya. Lihat apa reaksinya. Jangan lupa untuk memberi alasan mengapa orang tersebut layak Anda pilih sebagai pasangan.

"Jangan kenalkan calon pasangan secara tiba-tiba apalagi di masa-masa yang begitu dekat dengan tanggal pernikahan yang telah ditentukan," ujar Edward.

Sertakan pula pihak ketiga yang hadir sebagai penengah untuk mencairkan suasana agar anak dan calon pasangan Anda mudah beradaptasi. Dan sebaiknya dari kalangan yang netral atau memiliki hubungan emosional yang baik dengan anak.

Jika si kecil tipe pengalah, dia mungkin dengan mudah menerima keputusan yang diambil orangtuanya. "Repotnya, kebanyakan anak memiliki ego yang tinggi dan tidak mau tahu bagaimana perasaan orangtuanya. Maklum, mereka belum matang secara emosi. Yang terpenting adalah apa yang mereka rasakan," papar Edward.

Untuk itu, Orangtua sebagai pihak penengah harus meyakinkan kalau sewaktu-waktu ada perselisihan antara anak dengan ayah atau ibu tirinya, dia akan tetap berada di pihak anak.

Hadi Supeno menambahkan, "Bantu anak untuk bisa menilai sendiri apakah ia nyaman dan bisa menerima kehadiran calon orangtua tirinya. Biarkan mereka menyuarakan isi hatinya, tanyakan adakah hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Bicaralah mengenai perasaan Anda juga. Pembicaraan dari hati ke hati yang diliputi kejujuran biasanya akan berbuah kesepahaman yang tidak dipaksakan. Jangan karena sudah terlanjur cinta dengan calon pasangan, Anda tidak mendengarkan suara dan pendapat anak."

Mitos Orangtua Tiri Jahat

Untuk merebut hati anak, calon orangtua tiri hendaknya bersikap tulus, apa adanya dan tidak berlebihan. Perhatikan dan peka terhadap hal-hal yang memang dibutuhkan oleh calon anak tiri Anda.

"Masa pendekatan itu bukan berarti harus mencari muka ataupun menjilat! Anak-anak peka lho terhadap orang yang niatnya tulus atau tidak," saran Edward.

Calon ibu tiri cenderung lebih sulit diterima daripada calon bapak tiri. Pasalnya, ibu tiri lah yang nanti akan memegang kendali atas peraturan rumah tangga. Mulai dari menetapkan aturan di rumah, belanja, uang bulanan dan hal lainnya.

Selain itu, faktor usia anak juga turut memengaruhi apakah dia akan mudah atau tidak menerima kehadiran orangtua tirinya. Biasanya, anak usia balita akan lebih mudah menerima karena mereka belum memiliki pemahanan tentang aturan.

Lain halnya dengan anak usia sekolah hingga remaja di mana telah mengenal aturan yang diterapkan oleh orangtua mereka sebelumnya. Mereka pun membutuhkan adaptasi untuk mengenal calon orangtuanya terlebih dulu.

Berbeda dengan anak yang sudah memasuki usia dewasa, biasanya mereka sudah lebih mandiri. Sehingga mereka akan menyerahkan keputusan kepada orangtuanya. "Dengan tingkat egoisme yang rendah mereka juga ikut memikirkan kebahagiaan ayah atau ibunya jika kembali memiliki pasangan hidup," jelas Edward.

Berdamai dengan Saudara Tiri

Bagaimana jika ternyata masing-masing pasangan memiliki anak bawaan atau memutuskan untuk kembali memiliki anak? Bukankah masing-masing anak selain dipersiapkan untuk menerima calon orangtua tiri, juga harus diperkenalkan dengan calon saudara tirinya?

"Mengutip dari pendapat seorang konsultan keluarga, Claudia Schweitzerm, bahwa setiap keluarga memiliki sumber-sumber dalam jumlah tertentu. Ada yang bersifat emosional, ada pula yang bersifat material. Apabila kakak–adik berkelahi biasanya mereka bersaing untuk mendapatkan sumber-sumber tersebut," ungkap Hadi.

Anak yang lebih tua mungkin kesal karena mendapat porsi tanggung jawab yang lebih banyak dalam rumah. Kerapkali muncul pula kecemasan dari anak bahwa kasih sayang serta perhatian ayah atau ibunya akan dirampas oleh sudara tiri yang notabene orang baru dalam kehidupan mereka, utamanya jika saudara tiri tersebut berusia lebih kecil.

"Jika hal itu terjadi, maka masa penyesuaiannya juga akan jadi lebih panjang. Waktunya, bergantung dari kematangan emosi masing-masing anak," imbuh Edward.

Untuk menambah keakraban dalam masa adaptasi, masing-masing orangtua bisa mengajak liburan bersama atau libatkan anak dalam kegiatan keluarga besar kedua belah pihak. Satu lagi, jangan mengistimewakan anak dari salah satu pihak.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini