nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lindungi Rumah dengan Secondary Skin

SINDO, Jurnalis · Rabu 19 Januari 2011 10:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2011 01 19 30 415477 g4hi6W5lnb.jpg Lindungi rumah dengan secondary skin. (Foto: Idea)

RUMAH semestinya tidak hanya cantik secara visual, tapi juga baik bagi penghuninya. Secondary skin adalah salah satu faktor pendukungnya. Seperti apa?

Dulu, untuk melindungi rumah dari panas dan curah hujan, biasanya kita menggunakan kerai. Kini, seiring kemajuan zaman, Anda bisa menggunakan alternatif lain, yaitu secondary skin. Menurut arsitek Briyan Talaosa, secondary skin adalah “pelapisan” pada fasad bangunan yang digunakan dengan tujuan tertentu.

Secondary skin yang biasanya disebut kulit luar kedua itu awalnya hanya berfungsi untuk mereduksi panas dari sinar matahari pada bukaan langsung (frontal) yang menghadap arah matahari pagi atau senja saat sinarnya masuk maksimal dari dinding. Kini, fungsi tersebut sudah berkembang. Belakangan secondary skin kerap pula digunakan sebagai nilai tambah penunjang estetika bangunan rumah.

Hal tersebut dibenarkan arsitek Bambang Eryudhawan. Dia mengatakan, pengertian secondary skin sama seperti pemahaman kita terhadap tubuh manusia yang kemudian diberi baju dan celana sebagai pelindung. Sebab, tubuh perlu dilindungi dan harus beradaptasi dengan iklim.

Hal itulah yang kemudian menjadi inspirasi pada sebuah bangunan. Dewasa ini secondary skin sifatnya menjadi multifungsi. Selain sebagai lapisan luar dari bangunan inti agar bangunan dapat terlindungi dari panas dan hujan, nilai tambah secondary skin adalah kulit luar yang ditempatkan sebagai bagian dari atraksi.

“Sama halnya dengan baju. Bahan baju tidak hanya polos, tapi saat ini muncul baju bercorak, sarung bermotif. Kemudian secondary skin menjadi media untuk memberi nilai tambah pada estetika bangunan yang bahannya bisa macam-macam. Bahannya bisa dari bambu, kayu, aluminium, rotan, dan kayu bekas,” beber Bambang.

Lantas, apakah kemudian fungsi primernya hilang? Menurut Bambang, semua itu bergantung pada “kepintaran” Anda.

Hal serupa dikatakan Briyan. Dia menyebutkan, awalnya fungsi utama secondary skin adalah mereduksi panas matahari. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, eksplorasi, dan kreativitas desain, akhirnya secondary skin juga digunakan sebagai “kosmetik” pada desain fasad bangunan yang sifatnya mempercantik atau mempertegas sisi tertentu pada fasad.

Mengenai cara aplikasi secondary skin, ada dua hal yang dapat dilakukan, yakni dengan dibuat permanen dan semipermanen. Pada aplikasi yang permanen, secondary skin hampir tidak dapat diubah-ubah bentuk dan tempatnya. Untuk itu, sebelum memutuskan akan dibuat seperti apa kulit luar ini, tentukan dan sesuaikan dulu letak secondary skin dengan kebutuhan supaya Anda tidak menyesal di kemudian hari.

Sementara yang semipermanen biasanya lebih fleksibel. Elemen ini dapat dipindahkan menyesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Tak ayal, elemen pelindung ini dapat membuat rumah tampak lebih menarik. Hanya, kelemahannya adalah, terkadang ada pemilik rumah yang kurang mengerti bagaimana merancangnya dengan baik dan benar.

”Ketidaksesuaian pilihan material secondary skin dengan tema desain bangunan ber-secondary skin bisa membuat tampilan rumah jadi rusak,” sebut Briyan.

Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan saat membuat secondary skin adalah, pilih material yang sesuai dengan konsep bangunan.

”Tentu dengan perencanaan yang baik,” timpal Bambang. Ada beberapa material untuk membuat secondary skin, antara lain kayu, aluminium, rotan, kayu bekas, dan besi atau kombinasi kayu dan besi.

”Pada perkembangannya, secondary skin banyak sekali dieksplorasi. Sampai-sampai bahan yang kita kenal sebagai penutup atap pun acap kali digunakan untuk membuat secondary skin seperti asbes dan atap logam gelombang (span deck). Kadang irisan kayu solid yang dirangkai dengan frame besi yang disembunyikan atau material lain,” papar Briyan.

Pada prinsipnya, lanjut dia, selama kita “berani” menggali dan melakukan terobosan dalam mengolah material untuk secondary skin serta mampu membuat sebuah harmoni yang indah pada pengolahan fasad bangunan, maka selama itu pula kita bebas mengaplikasikan material apa pun untuk secondary skin. ”Yang penting, kita harus menguasai karakter bahan agar dapat menyiasati aplikasinya serta tentu saja awet dan tahan lama,” imbuh Briyan.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini