Ternyata, Kebiasaan Buruk Itu Baik untuk Kesehatan

Dwi Indah Nurcahyani, Jurnalis · Kamis 31 Maret 2011 15:10 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 31 195 440973 38p5KmLAeV.jpg Mendengarkan musik (Foto: Corbis)

TAK selamanya kebiasaan buruk menghasilkan efek yang buruk pula. Justru dari kebiasaan buruk  tersebut tak jarang malah membuat kita menjadi lebih baik. Benarkah?

 

“Kebiasaan buruk yang kita miliki dan sering dilakukan dalam keseharian ternyata menyimpan manfaat yang baik bagi kesehatan. Kebiasaan buruk memungkinkan kita bertindak seperti anak-anak. Kemungkinannya bisa jadi berimbas jadi memperburuk atau justru membuat baik sesuatu hal. Semuanya tergantung keadaan,” kata Dr Daniel J. Carlat, associate profesor klinis psikiatri di Tufts University School of Medicine sekaligus penulis “Unhinged and the Mental Health Specialist” untuk AOL Health's Medical Advisory Board.

 

Lantas apa saja kebiasaan buruk yang justru memicu kesehatan menjadi lebih baik. Berikut ini infonya, seperti dirilis Your Tango.

 

Mengutuk

 

Mengucapkan beberapa pilihan kata ala Martin Scorsese bisa menjadi pilihan terbaik ketika Anda sedang bosan, frustasi atau sedang marah. Peneliti dari Keele University di Inggris telah menemukan bahwa hal tersebut ternyata memiliki tujuan karena dapat membantu mengurangi rasa sakit fisik yang dirasakan seseorang. Dalam NeuroReport, para ilmuwan menjelaskan bahwa mereka meminta 64 relawan untuk menenggelamkan tangan mereka dalam air dingin yang beku saat mengulang kata kutukan favorit mereka. Setelah itu, mereka diperintahkan untuk melakukan tugas lagi. Hasil akhirnya, ternyata  para relawan tersebut bisa menolerir air dingin dalam jumlah waktu  hampir dua kali lipat. Dalam hal ini, para ahli memang belum bisa menentukan penjelasan yang tepat. Namun, pemimpin peneliti Dr Richard Stephens dan timnya percaya bahwa melembarkan kata tersebut dapat memicu respons dan meningkatkan denyut jantung dan agresi yang dapat membantu tubuh mengatasi rasa sakit.

 

Putar musik favorit Anda dengan volume keras

 

Bila Anda seorang pelupa, tak ada salahnya menyetel musik Bon Jovi sesekali waktu. Para peneliti di Glasgow Caledonian University di Skotlandia percaya bahwa mendengarkan musik rock dengan volume tinggi dapat meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan memori. Selama studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Kesadaran dan Kognisi, psikolog memperbantukan 16 relawan yang merupakan pecinta musik rock. Seluruh relawan tersebut kemudian menjalani tes memori sederhana selama empat kali. Pertama-tama mendengarkan musik klasik, mendengarkan rock, mendengarkan musik statis, dan terakhir mendengar keheningan. Peserta penelitian menunjukkan peningkatan konsentrasi dan memori ketika jenis musik kedua dimainkan sehingga mereka dalam menyelesaikan tes dengan sukses.

 

Terapis musik Kimberly Sena Moore mengatakan, tidak mengherankan jika pengemar musik rock memiliki kesehatan yang lebih baik. Itu dikarenakan mereka selalu mendengar musik tersebut sebagai latar belakang aktivitas yang dilakukannya.

 

“Mungkin karena mereka menempatkan musik mereka dalam suasana hati yang santai dan bahagia. Tapi kita masih tidak tahu apakah itu  benar,” katanya.  

 

Namun, Sena More memperingatkan terhadap penyetelan musik yang terlalu panjang dan terlalu sering.

 

“Sel-sel rambut di koklea yang ada di telinga bagian dalam sangat sensitif akan musik. Jadi, apakah itu mendengarkan musik di rumah atau melalui HP, ternyata dapat merusak dan menyebabkan gangguan pendengaran atau tinnitus di kemudian hari,” jelasnya.

 

Menikmati happy hour

 

Menurut penelitian terbaru yang tersaji dalam jurnal tahunan American Association, minum dalam kadar sedang (satu gelas sehari untuk wanita dan dua gelas sehari untuk pria) mungkin lebih baik untuk kesehatan daripada tidak minum sama sekali. Para peneliti di Italia menemukan pasien pria yang  mengidap jantung masih melakukan aktivitas minum lima sampai 30 gram alkohol per hari justru memiliki kemungkinan 25 persen lebih kecil menderita serangan jantung atau stroke dibanding dengan pria yang menerapkan gaya hidup bebas meminum minuman keras.

 

Namun, pasien dengan masalah ventrikel yang minum minuman empat atau lebih dalam sehari memiliki masalah kesehatan tambahan. Adapun wanita, dalam penelitan terpisah yang ditinjau oleh Nurses 'Health Study menyimpulkan, wanita yang minum antara satu dan 15 gram alkohol sehari (sekira satu minuman) memiliki risiko 20 persen lebih rendah terkena stroke dibandingkan dengan wanita yang tidak minum sama sekali.

 

Pakar diet Julia Zumpano Renee yang bekerja dalam Departemen Preventif Kardiologi dan Rehabilitasi di Klinik Cleveland mengatakan, kesehatan pun perlu dilakukan dengan tetap menjaga jumlah kalori pada kebiasaan minum yang dilakukan seseorang.

 

“Saya menyarankan minum bir ringan, anggur kering atau minuman yang dicampur dengan satu sampai 1,5 ons minuman bebas kalori, seperti tonik diet atau soda dan jus ringan di mana masing-masing minuman tersebut biasanya mengandung 100 kalori per minuman,” tutupnya.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini