Cantiknya Batik Kontemporer Pamekasan

Lastri Marselina, Jurnalis · Sabtu 02 April 2011 18:47 WIB
https: img.okezone.com content 2011 04 02 29 441723 Rj2iefmnXo.jpg Edward Hutabarat. (Foto : okezone)

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:"Table Normal";

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-qformat:yes;

mso-style-parent:"";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin:0in;

mso-para-margin-bottom:.0001pt;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:"Calibri","sans-serif";

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-fareast-font-family:"Times New Roman";

mso-fareast-theme-font:minor-fareast;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

-->PERJALANAN hari kedua bersama desainer Edward Hutabarat dalam misi "Cintaku Pada Batik Takkan Pudar" berlanjut ke Desa Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura. Sungguh cantik batik yang dihasilkan.

Di desa ini, okezone bersama sejumlah awak media diperlihatkan puluhan kain batik yang dibentangkan dengan paduan warna cerah dan pola motif yang cukup rumit. Dilanjutkan dengan penelusuran bagaimana para pengrajin batik membuat kain batik gentongan klasik dan kontemporer khas Pamekasan.

"Di desa ini, kami memiliki 31 orang perajin batik, mulai ibu-ibu muda hingga anak gadis mereka. Di sini, kami memang mengkhususkan pada batik gentongan dan kontemporer. Selanjutnya, kami salurkan ke sebuah toko maupun menerima pesanan langsung dari Surabaya maupun Jawa Tengah," sahut Muhammad Namawi selaku tokoh masyarakat di Desa Badung, Pamekasan, Madura di sela perjalanan,  Sabtu (2/4/2011). 

Edward mengatakan, dirinya akan menerima motif apapun yang digambar perajin. Hanya saja, beberapa motif akan ada yang dikurangi bahkan ditambahkan agar kesannya lebih "genit".

"Biarkan penggambar motif berkreasi. Coba perhatikan, pola motif seperti ini yang dinamakan batik tanahan. Background gambar penuh, sebuah ciri khas batik Pamekasan but this makes you fat, international client doesn't like it they like it simple dan terlihat terlalu 'batik'," sahut Edward.

"Itulah mengapa saat kain sudah di tangan, saya hanya menyarankan 'biarkan gambar bunga itu, tapi tambahkan motif ini', seperti itu. Dan background gambar perlu dihilangkan namun saya biarkan aksen retakan khas lilin karena memang itu ciri khasnya. Saya selalu mengatakan, 'mana kegenitannya?' Saya butuh lebih banyak motif 'genit'," imbuhnya sembari menunjukkan sebuah motif bunga yang sedang dikerjakan perajin motif.

Seorang penggambar motif bernama Muhammad Madi (16) menceritakan latar belakang dia bergabung.

"Sudah 2 tahun jadi penggambar motif. Awalnya karena tidak ada kerjaan, tapi saya juga masih sekolah di MTS - setara SLTP. Dalam 1 jam saya bisa menggambar dua kain dan jika dapat menghasilkan 25 motif kain, saya mendapatkan Rp75 ribu. Uangnya untuk saya tabung atau untuk jalan-jalan sementara orangtua Alhamdulillah masih dapat membiayai uang sekolah saya," tutur Madi.

Berbeda dengan batik gentongan dimana proses pewarnaan dilakukan di dalam gentong, batik kontemporer diwarnai dengan cara diusapkan seruas demi seruas kain dalam air yang berisi campuran warna alami. Setelah tercampur dengan baik, kain lalu ditiriskan dan jika memang ingin ditambahkan warna lain, proses yang sama kembali dilakukan.

Dan usai eksplorasi, para perajin diperlihatkan demo mencuci batik menggunakan deterjen khusus batik di mana saat menjemur, tiang jemuran harusnya dialasi dulu dengan handuk agar kain batik tidak sobek, kena karat maupun kusut.

"Sebaiknya dialasi handuk, karena terkadang tiang bambu yang mereka gunakan untuk menjemur masih kasar dan risikonya kain akan sobek. Atau juga untuk menghalangi kain terkena karat besi," sahut Edward mengakhiri percakapan.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini