'Edgy', Saat Kain Tradisional Jadi Bumbu Utama

Lastri Marselina, Jurnalis · Rabu 18 Mei 2011 18:26 WIB
https: img.okezone.com content 2011 05 18 29 458446 aajNaWlE1V.jpg Edgy karya Adesagi Kirana (Foto: Lastri Marselina)

MASIH dalam rangkaian acara Jakarta Fashion and Food Festival 2011, ada suguhan yang berbeda pada peragaan busana empat desainer Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Selasa (17/5) malam.

Mereka adalah Stephanus Hamy, Barli Asmara, Adesagi Kierana, dan Denny Wirawan yang menampilkan koleksi bertema 'Edgy' di mana kain tradisional sebagai 'bumbu' utamanya.

Stephanus Hamy dengan tema 'Goes To Tenun' mengangkat kain tenun ikat Bali dan NTT menghadirkan koleksi yang trendi, energik, dan modis untuk pria serta wanita.

Material kain tenun lebih banyak ditawarkan dalam format kemeja luaran yang chic, cocok berpadu dengan celana panjang maupun rok. Koleksi ‘second line’ ini dapat Anda jumpai di Earthnic by Hamy.

“Setelah batik, permintaan kain tenun memang cukup tinggi. Saya mengkhususkan penggunaan kain tenun lokal yang cara pembuatannya masih menggunakan tangan. Dulu, mungkin kain tenun lebih dikenal untuk selendang dan kain saja, kini saya ingin menghadirkan penggunaan kain tradisional yang lebih modern untuk digunakan di berbagai kesempatan,” kata Stephanus sesaat sebelum peragaan di Hotel Harris, Kelapa Gading pada Selasa (17/5/2011) malam.

Sedangkan untuk tema ‘Ecletic’, Barli Asmara memilih untuk menggunakan kain sutra Makassar atau yang dikenal dengan Sutera Bugis (Lippa Sabbe) yang memiliki ciri khas motif seperti ikat cora bombang, yang menggambarkan gelombang air laut, jumputan, lisir, barong maupun polos dengan campuran warna yang menarik. Barli mengedepankan lini feminin di mana sang pemakai dapat tampil edgy dengan kain tradisional.

“Jangan menganggap kain tradisional tidak bisa memberikan total look yang modern, melalui karya ini saya ingin menyuguhkan tren baru menggunakan kain tradisional,” imbuh Barli.

Lain lagi koleksi bertema ‘Swanderland’ Adesagi Kierana yang mengaku terinspirasi melihat sekumpulan angsa yang sedang menari. Adesagi menggambarkan koleksinya lebih kepada sosok angsa yang berjalan tanpa ragu dengan keindahan bulu-bulunya.

Sebagian besar lini merupakan gaun mini diatas lutut dengan aksen jaket maupun mantel bulu dan untaian pita yang membentuk bunga.

Denny Wirawan dengan tema ‘The Illusion’ mengambil inspirasi dari detil ornamen gereja tua di era Gothic dengan nuansa rock heavy metal di akhir abad 20 yang menghasilkan koleksi yang spektakuler dengan cutting yang cukup berani namun tetap menampilkan sisi feminin seorang wanita.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini