nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Dunia Cemaskan Wabah E-coli, Indonesia Sudah Biasa"

Fitri Yulianti, Jurnalis · Selasa 07 Juni 2011 18:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2011 06 07 195 465597 YS8JWY1mCT.jpg (Foto: gettyimages)

INDONESIA mulai memasang garis waspada bagi bakteri E-coli yang sedang mewabahi dunia, terutama Eropa. Bisakah dikatakan terlambat bila Indonesia baru mengangkat isu ini sekarang?

“Karena orang bule yang terkena wabah, jadi semua heboh. Bagi orang Indonesia, ini sih sudah biasa. Kasus diare karena bakteri E-coli di Indonesia sebenarnya sangat banyak,” kata dr Imranito, internis dari OMNI Medial Center ketika dihubungi okezone lewat ponselnya, Selasa (7/6/2011).

Penyebab utama, tandas dr Imranito, lantaran sanitasi yang buruk. Dokter yang juga berpraktik di Medika Permata Hijau ini mengakui bahwa tingkat kebersihan negara Barat jauh lebih baik ketimbang Indonesia.

“(Penyebabnya) bukan karena mereka biasa minum langsung dari air ledeng atau makan sayuran mentah. Sanitasi mereka jauh lebih baik dari kita. Penyebaran bakteri mungkin saja dari imigran yang datang,” ujarnya.

Menurut dr Imranito, semua makanan yang tidak dimasak dengan sempurna bisa menjadi sarana penyebaran bakter E-coli. Juga, makanan yang dicuci dengan air yang tercemar E-coli, misal tercemar tinja yang memang banyak mengandung E-coli.

“Ini yang coba disampaikan Jerman. Dia mau ngomong bahwa sayuran dari Spanyol disiram dengan air tercemar tinja. Saya sendiri enggak bisa bilang kalau isu ini ada unsur politis,” tukasnya.

Dalam fase waspada, Kementrian Kesehatan menganjurkan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Dokter supel ini memaparkan tindakan solutif yang bisa diambil masyarakat.

“Cuci sayuran dengan air matang atau di bawah air yang mengalir, olah makanan dan minuman dengan sempurna, dan cuci tangan sebelum makan,” tegasnya.

Kemenkes juga memperketat impor dari Eropa dan mengamati warga negara Indonesia sehabis bepergian ke Jerman atau negara Eropa, apabila di bandara atau sesudahnya, mereka mendapat gejala sakit perut, diare hingga diare berdarah. Mereka harus dirujuk ke rumah sakit.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini