Antibiotik, Si Obat Minder Dokter

Fitri Yulianti, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2011 10:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 06 10 195 466727 MZVFoelLqY.jpg (Foto: gettyimages)

ISU resistensi antibiotik tengah digemakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada masyarakat dunia. Isu semakin pelik karena setelah ditelusuri, akar permasalahan ada di pasien, juga dokter.

Tahukah Anda, berbagai jenis bakteri kini semakin cerdik menghancurkan kerja antibiotik? Bakteri juga mampu menghancurkan sistem pertahanan yang seharusnya dipakai antibiotik untuk melawan infeksi. Akibatnya, semakin banyak bakteri yang meningkat kekebalannya.

Kekebalan bakteri terhadap antibiotik (resistensi antibiotik) inilah yang kemudian menimbulkan kecemasan dunia kedokteran, apalagi titik permasalahan juga ada pada tenaga kesehatan. Mengapa? Sebagian dokter kerap meresepkan antibiotik dengan harapan menyembuhkan pasien, tapi nyatanya kontraproduktif.

“Kesalahan soal penggunaan antibiotik, pertama, diagnosa dokter yang tidak tepat dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah soal infeksi,” kata Zunilda Dj Sadikin dari Department Clinical Pharmacology FMUI/CMH kepada okezone usai Seminar dan Diskusi Panel “Resistensi Mikroba: Mengapa dan Apa yang Harus Kita Lakukan?” di Aula FKUI, Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2011).

“Kenapa dokter ngeyel kasih antibiotik? Karena dia enggak pede dengan hasil diagnosisnya. Dia takut pasien enggak sembuh atau ada infeksi sekunder, makanya dikasih saja antibiotik. Belum lagi kepanikan pasien, yang membuat dokter makin minder,” sahutnya.

Selain kepanikan pasien, minimnya wawasan dokter soal penyakit ditengarai menjadi akar permasalahan berikutnya.

“Kesalahan juga ada pada dokter. Mereka tidak yakin dan tidak banyak membaca artikel ilmiah,” imbuh Zunilda.

Namun ternyata, kalangan masyarakat juga menyumbang permasalahan yang sama. Masyarakat sepatutnya memahami perihal penggunaan antibiotik.

“Pasien adalah bagian dari suatu sistem, bagian dari permasalahan resistensi antibiotik. Pasien punya hak untuk didengar, mengekspresikan ketakutan, dan punya hak untuk memilih. Tapi, pasien juga harus tahu bagaimana membuat pilihan yang cerdas (soal antibiotik),” jelas dr Purnamawati SpA(K) MMPaed dari Yayasan Orangtua Tua Peduli pada kesempatan yang sama.

Zunilda bahkan mengatakan, ada kepentingan bisnis perusahaan farmasi yang “memaksa” dokter meresepkan obat yang diproduksinya.

“Kelihatannya sih ada (keterlibatan perusahaan farmasi),” tambahnya.

Sebagai masyarakat yang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan secara transparan, Zunilda berujar, pasien sah-sah saja memberikan pengaduan bila menemukan kasus peresepan di luar logika, misal harganya yang selangit.

“Resistensi antibiotik tidak bisa diatasi dengan menemukan antibiotik baru atau membeli antibiotik termahal dan terkuat. Selamatkan antibiotik untuk selamatkan kehidupan kita di kemudian hari,” tutup dr Purnamawati.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini