Gaya Eklektik Dior

SINDO, Jurnalis · Rabu 13 Juli 2011 08:57 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 13 29 479178 UBUKInKuyD.jpg Gaya eklektik Dior. (Foto: Telegraph)

MODEL di pergelaran koleksi Dior terbaru di Haute Couture Collection, Paris, pada awal Juli lalu. Dior sudah memilih Bill Gaytten sebagai direktur kreatif setelah menggantikan John Galliano yang terkena kasus dan sedang proses pengadilan.

Di tangan Bill Gaytten, pascatragedi John Galliano, rumah mode Christian Dior memilih gaya eklektik di panggung Paris Haute Couture.

Setelah memberhentikan John Galliano sebagai direktur kreatif berkenaan dengan kasus SARA yang menimpa desainer asal Inggris tersebut, rumah mode Christian Dior menyatakan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan mengenai siapa yang akan menggantikan posisi Galliano.

Dalam wawancaranya dengan Reuters, Dior mengungkapkan bahwa mereka akan mempercayakan koleksi kepada tim desainer in-house.

“Kami tidak ingin terburu- buru dalam mengambil keputusan ini,” sebut Sidney Toledano, Chairman & CEO Christian Dior.

“Tidak mudah mendapatkan kandidat yang tepat untuk posisi direktur kreatif dan hal tersebut membutuhkan banyak riset. Karena itu, kami fleksibel dengan waktu,” sambungnya.

Karenanya, menjadi kejutan bagi banyak pihak ketika di panggung Paris Menswear, Bill Gaytten, tangan kanan Galliano selama lebih dari dua dekade, muncul sebagai direktur kreatif.

Pihak Dior mengonfirmasi bahwa Gaytten telah secara resmi mengambil alih posisi Galliano sebagai direktur kreatif. Adapun di rumah mode Dior, Galliano bekerja dengan dua orang terdekatnya, Gaytten sebagai tangan kanan, dan Steven Robinson, sang chief lieutenant, yang kerap disebut sebagai alter ego dari Galliano.

Panggung menswear menjadi ujian pertama bagi Gaytten. Kendati secara umum koleksinya dianggap bagus, banyak pihak yang mengatakan gaya rancangan Gaytten masih memiliki napas Galliano. Ujian terberat Gaytten datang dalam wujud Paris Haute Couture.

Di bawah nakhoda Gaytten, Dior menyajikan pop culture dan siluet konstruktif yang terinspirasi dari gaya arsitektural Frank Owen Gehry, pencipta Museum Guggenheim di Bilbao, Spanyol. Dibandingkan dengan era Galliano, koleksi yang disuguhkan Gaytten jelas berbeda.

Sayangnya, kendati tetap meniupkan napas artistik bercampur sentuhan kontemporer, Gaytten dianggap gagal menyampaikan sisi “liar” yang kerap menjadi daya tarik rancangan Galliano.

“Arsitektural dan modern, tapi juga sangat Dior,” sebut Gaytten, yang muncul pada akhir pertunjukan bersama sang direktur desain, Susanna Venegas.

Reuters, dalam artikelnya, mengatakan koleksi Gaytten untuk Dior mungkin bisa menyenangkan buyer dengan permainan warna.

“Namun, gagal meyakinkan para pencinta Dior bahwa label tersebut bisa terus berjalan tanpa sosok kuat sebagai desainernya,” tulis Reuters.

Adapun majalah mode Grazia mengatakan, “Dari pertunjukan Paris Haute Couture, tampak jelas bahwa Christian Dior butuh desainer.”

Kendati mendapat banyak kritik, usaha Gaytten tetap patut mendapat pujian. Desainer yang berasal dari Inggris tersebut membawa tradisi Dior dalam kemasan baru. Bertempat di Musee Rodin, Gaytten menghadirkan warna-warni dalam gaya konstruktif yang terinspirasi dari bangunan-bangunan modern besutan arsitek kenamaan, mulai Frank Owen, Jean-Michael Frank, hingga Ettore Sottsass.

“Koleksi yang dihadirkan Gaytten memiliki grafis yang sangat artistik,” puji editor mode Fashion Wire Daily Goodfrey Deeny.

Lebih lanjut, Deeny menyimpulkan, kendati pertunjukan tersebut “kekurangan” sisi dramatis dan imajinasi liar ala Galliano, Gaytten bisa dianggap cukup sukses.

“Plus, dengan mengambil pendekatan modernis, Gaytten membawa angin segar dalam rumah mode Dior,” tambah Deeny, mengacu kepada Galliano yang kerap mengambil inspirasi dari gaya masa lalu.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini